Maiyahan Reportase

SORBAN MUHAMMAD : Menemukan Solusi, Tanpa Memercikan Api.

Repotase Maiyah Suluk Pesisiran 12 April 2019

 

Bulan april tahun 2019 kali ini merupakan bulan politik, semakin mendekatnya hari pencoblosan masyarakat untuk memilih para pemimpinnya baik itu dari tingkat kota hingga ke kepala Negara. Tak pelak bulan ini mendapatkan sorotan dari beberapa masyarakat dimana dalam hari-hari mereka beraktifitas hampir selalu merasa ikut terbawa suasana politik yang diciptakan oleh para pemimpin di negeri ini. Banyak pula yang memprediksi pemilihan presiden kali ini akan membawa konflik berkepenjangan. Pada malam hari ini, Maiyah Suluk Pesisiran mengajak jamaah bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (Tiga Stanza).

Maiyah Suluk Pesisiran mengambil tema Sorban Muhammad dengan harapan kita mengingat kembali peristiwa pemindahan batu yang dinamakan Hajr Aswat pada zaman nabi Muhammad SAW sebagai salah satu tauladan kita dalam memecahkan pertentangan antara para pemimpin dikala itu. Peristiwa ini mendapatkan banyak sudut pandang, Gus Asep menjelaskan mengapa pada peristiwa itu hanya karena sebuah batu tapi dapat memicu pertengkaran karena dulu anggapan orang mekah batu itu sesuatu yang sakral. Terjadinya berhala pertama kali itu berawal dari batu yang dibawa kemudian itu di thaif (arak berkeliling), dan ketika dibawa ke tempat lain batu itu ditaruh ditengah kemudian dilakukan ritual untuk meminta hujan, hujan pun turun seketika. Begitu terpananya penduduk maka batunya di ukir dan dinamakan hubal.

Untuk dapat menyatukan para pemimpin yang sama keras kepalanya pada waktu itu, Nabi Muhammad SAW memberikan solusi agar batu itu dibawa bersama-sama dengan media kain yang ditiap ujungnya para pemimpin ikut mengangkat bersama-sama. “Begitulah sebaiknya sikap kita sebagai orang maiyah, mampu mengemban keadaan semuanya, menerima semuanya sehingga kita mampu menjadi sosok seperti Nabi Muhammad SAW,” kata Mas Fredi. Bahkan Nabi Muhammad SAW sebelum memutuskan suatu persoalan, dia tak pernah sendirian untuk menentukannya. Ini dalam konteks yang melibatkan berbagai macam alternative lainnya. Nabi Muhammad SAW pernah melibatkan unta, pernah mendengarkan masukan Salman Al-Farisi yang pernah menganut agama Majusi. Artinya Nabi Muhammad dengan otoritasnya sebagai nabi dan pemimpin, tidak secara sendirian dalam menentukan. Beliau banyak mendengarkan dan menerima masukan dari arah manapun.

Agaknya diskusi sedikit melebar, namun Mas Eko merasa ini juga perlu disampaikan. Karena sebentar lagi pemilihan presiden, maka Mas Eko membahas sedikit sejarah pemilihan presiden yang dahulu pada awalnya kita menggunakan sistem aklamasi, kemudian presidensial, sampai akhirnya yang kita anut adalah sistem pemilihan langsung. “Masih aja ada sisi bolongnya. Ibarat naik angkot yang tujuannya sudah jelas pun tapi dalam perjalanannya tetap muter-muter dan tidak sampai-sampai. Maka yang ditanyakan sekarang bukan masalah pantas tidak pantas, tapi berani bayar masyarakat berapa? Ini masalahnya. Kita tidak pernah beranjak dari kekanak-kanakan. Bahkan lebih parah”. Agaknya ini pula yang membuat lagu Indonesia Raya selalu dititik beratkan pada stanza pertama, karena belum selesai memahami amanat bangunlah jiwanya bangunlah badanya. Fenomena ini menjelaskan bahwa satu sisi ingin berbicara tentang perubahan ke kebaikan, tapi satu sisi masih mempertanyakan sangune piro. “Jadi sebenarnya ada sifat penghianatan di kita, berpura-pura islam tapi perilakunya korup atau kita sebenarnya sedang tidak memahami sejatinya islam itu apa? Jangan-jangan kita juga sedang dalam proses penghiantan kepada Rasulullah, meskipun kita masih sholawatan”. Untuk mendinginkan suasana, Mas Hasan Roy pun berdendang dengan membawakan lagu Slank.

Meski memang penting namun sedikit melebar, tapi yang seperti itu biasa terjadi di diskusi manapun. “Jadi lebih baik kita mendeteksi siapa yang nanti pantas, bukan sosoknya tapi mungkin sifat-sifatnya. Jadi apa yang perlu dilakukan oleh kita untuk membentuk atau menggambarkan siapa yang pantas meletakkan hajr aswat di tempat semula”, Mas Fredi menengahkan kembali arah diskusi malam ini. “Seperti kata Mbah Nun, kita lewat pintu KPK untuk menyelamatkan Indonesia. Profilnya bukan seseorang tapi kumpulan pemuda yang digadang-gadang untuk menjadi pelopor lewat babussalam KPK itu”, dalam hal ini Gus Asep menambahkan.

Arif Santoso malam hari ini kembali tampil membawakan puisi-puisi yang menggambarkan persatuan saling bersaudara antara manusia khususnya di Indonesia dan melagukan lagu Kuat Kita Bersinar karya band ternama Superman is Dead. Malam hari ini Suluk Pesisiran juga kedatangan tamu dari simpul Poci Maiyah Tegal.

Surban ibaratnya adalah gotong royong.  Ciri khas yang mirip dengan masyarakat jawa yang menyukai gotong royong. Pak Turadi menjelaskan bagaimana pemimpin sejati yang dipilih oleh rakyat. “Sebetulnya, gotong royong ini mengerucut bagaimana kita mencari pemimpin. Seperti halnya pemilihan imam, yang dibutuhkan pemimpin adalah pinter, bener, lan kober. Pinter ning ora bener. Pinter, bener ning ora kober. Kober pinter ning ora bener”. Inilah yang terjadi khususnya di negara kita saat ini yang sedang memasuki jaman Kaliyuga. Gelap dalam pola pikir seorang politisi, gelap sebagai seorang pemimpin. Ideologi hanya diperjual belikan. Sekarang adalah jaman kebingungan, rakyat bingung, yang dipilih bingung, yang membuat undang-undang juga bingung. Jadi orang yang sedang sekolah jurusan politik ingin mengelola partai namun tidak punya uang, maka kecil kemungkinannya untuk terpilih sebagai wakit rakyat. Sebaliknya meski sekolahnya lulusan SMA memiliki pendidikan politik yang minim asalkan uangnya banyak, maka besar kemungkinannya terpilih sebagai wakil rakyat. “Terus kalau Negara ini dipimpin yang uangnya banyak tapi otaknya gendeng, mau dibawa kemana Negara ini?”

Oleh karena itu semua Pak Turadi mengharapkan kedepannya agar kita sama-sama menyiapkan diri sebagai seorang pemimpin yang memayu hayuning bawana. Untuk itu butuh berdiri tegak lurus dengan jiwa yang besar dan luhur. “Menurut orang bijak hal ini terkandung tiga makna yang menyatu. Satu, keselamatan dunia hanya dimungkinkan oleh kearifan manusia. Kedua, darmanya seorang ksatria tetap menjaga tegaknya pemerintahan bangsa dan Negara. Ketiga, keselamatan manusia pun hanya dimungkinkan oleh rasa kemanusiaan dari manusia sendiri. Itu menurut falsafah Jawa. Untuk menyiapkan diri kita sebagai pemimpin yang pinter, bener, dan kober.”

Menjelang puncak acara diskusi malam ini. Pak Turadi juga memberikan pesan kepada kita semua, “..cintailah diri kita sendiri sesuai dengan batas kemampuan. Jangan sungkan-sungkan untuk ngangsu kawruh dengan siapa saja sesuai kebutuhannya”. Mencari pelajaran di balik sisi-sisi kehidupan yang ada di sekitar kita. Acara rolasan pun ditutup dengan bersama-sama menyanyikan lagu Syukur dilanjutkan membaca wirid perlindungan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran