Slide-ing

 

Sederhananya ada tiga ideologi dan sistem ekonomi manusia di dunia. Kapitalisme, Sosialisme, dan Islam. Kapitalisme mengajari manusia dalam kebebasan kepemilikan dan penumpukan keuntungan materi seluas-luasnya. Hingga ujungnya globalisasi: kepanjangan nafsu serakahnya atas sumberdaya alam tanpa batas teritorial. Biasanya negara yang dituduh penyebar ajaran Kapitalisme ini adalah Amerika Serikat dan sebagian negara Eropa.

Penumpukan hal-hal duniawi menjadikan manusia semakin terasing, manusia tak menemukan kebahagiaannya yang sejati. Karena kebebasan individu dalam memiliki dan mengeksploitasi dunia menimbulkan jurang kemakmuran, dan tak ada ujung pangkal bahagia yang ada kerusakan dan ketidakadilan. Yang kaya makin kaya yang miskin tambah miskin. Kepuasan dalam menumpuk dan memiliki hanya kamuflase kebahagiaan, karena sejatinya bahagia itu berbagi.

Ketidakadilan yang disebabkan ajaran kapitalisme ini direspon oleh Karl Max yang menginspirasi lahirnya ideologi dan system ekonomi sosialisme. Inti dari sosialisme menekankan kehadiran Negara dalam mengelola hajat hidup orang banyak. Hingga pada awalnya alat produksi hanya dimiliki Negara. Semua aktivitas ekonomi rakyat dikendalikan oleh Negara.  

Negara yang mewakili ideologi sosialisme adalah China, walaupun pada akhirnya juga memberlakukan ekonomi kapitalisme yang khas. Ciri dari kapitalisme adalah persaingan dan penguasaan, hingga berujung pada penguasaan dan perang ekonomi, mata uang, hingga perang biologi.

Bagaimana dengan Islam yang menawarkan alternatif diantara guyuran kapitalisme dan sosialisme? Islam mengajarkan bahwa hak kepemilikan pada hakekatnya milik Allah, manusia sebatas dipinjami, sehingga tidak ada kepemilikan mutlak, yang ada setiap jenis kepemilikan di dalamnya ada hak-hak orang lain yang harus ditunaikan dalam bentuk zakat, shadaqah, infaq, hibah, hadiah, jariyah, wakaf, dll.

Negara mana yang akan mewakili bangkitnya ideologi dan sistem ekonomi Islam? Karena kalau dilihat secara siklus, setelah kapitalisme dan sosialisme menunjukkan dadanya, dan ternyata kurang cocok untuk peradaban mendatang maka apakah Islam mampu sebagai jalan tengah dan bisa menjawab krisis peradaban manusia di dunia yang sekarang sedang terpuruk dilanda musibah Covid19. Seberapa urgensi umat Islam menyalip ditikungan, atau bahkan perlukah melakukan sliding untuk merebut bola peradaban?

Bagikan: