Opini Tadabur Daur

Sistem Komunikasi

#TadabburDaur 64 #SulukPesisiran oleh : Eko Ahmadi

Manusia tidak akan diajak dialog oleh Allah menggunakan kata-kata (secara langsung) kecuali melalui perantara wahyu, dari balik tabir, atau menggunakan seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya sesuai izinNya apa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya, Ia Mahatinggi lagi Maha Bijaksana. Demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Alquran) sesuai perintah Kami, yang sebelumnya kamu tidak mengetahui apa itu Alquran dan iman. Namun, Kami jadikan Alquran sebagai cahaya, yang dengannya Kami beri petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba yang Kami kehendaki. Sesungguhnya, kamu (Muhamad) benar-benar memberi petunjuk pada jalan yang benar.” (Q.s. asy-Syura [42]:51-52).
Dua ayat tersebut seolah-olah memberi gambaran bahwa Allah memiliki metode tersendiri dalam berkomunikasi dengan makhlukNya saat di dunia, meski prinsip tanzih menegaskan bila bahasa Allah bukanlah bahasa kata-kata melalui suara maupun tulisan. Dengan kata lain, metode yang dimaksud dalam dua ayat di atas adalah metode dalam prinsip tasybih, yang mana Allah berkomunikasi dengan makhlukNya melalui Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Adapun, ragam metode tersebut adalah:
Pertama, metode pewahyuan. Yakni sistem komunikasi antardua pihak secara samar dan rahasia. Pemberian informasi dalam sistem ini menggunakan kode-kode tertentu yang hanya dipahami oleh kedua belah pihak. Dalam konteks yang lain, sistem ini juga disebut sebagai ilham, yang mana memiliki keunikan dan kerahasiaannya sendiri, seperti wahyu yang Allah berikan pada ibu Nabi Musa as., tumbuhan, binatang, para malaikat, para Nabi, maupun para kekasihNya.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian, makanlah dari (macam) buah-buahan, dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).’….” (Q.s. an-Nahl [16]:68-69).
Kedua, metode dari balik tabir. Yakni komunikasi antara Allah dan manusia, yang mana Allah membuat pembatas antara diriNya dan manusia. Sebagaimana saat Allah berkomunikasi dengan Nabi Musa as. dari balik api, gunung, maupun pohon.
“Saat ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: ‘Hai Musa. Sesunguhnya, Akulah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sebab, kamu memasuki lembah suci Tuwa. Dan karena Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.’.” (Q.s. Taha [20]:11-13).
“Kami memanggilnya dari sebelah kanan gunung Tur, dan Kami mendekatkannya kepada Kami saat dia bermunajat (kepada Kami).” (Q.s. Maryam [19]:52).
“Tatkala Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, Tuhan berfirman kepadanya, namun Musa berkata: ‘Ya Tuhanku. Tampakkanlah (Diri-Mu) agar aku dapat menyaksikanMu.’ Tuhan berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana semula), niscaya kamu dapat menyaksikanKu.’ Saat Tuhan menampakkan Diri pada gunung tersebut, gunung itupun hancur, dan Musa pun jatuh pingsan. Saat Musa sadar kembali, ia berkata: ‘Mahasuci Engkau, terimalah penyesalanKu, dan aku akan menjadi orang pertama yang beriman (kepadaMu).’.” (Q.s. al-Akraf [7]:143).
Ketiga, metode pengiriman utusan. Yakni konumikasi antara Allah dan manusia dengan menggunakan jasa perantara atau utusan. Seperti yang terjadi pada penurunan Alquran, yang mana Allah mengutus malaikat Jibril as. untuk menyampaikan wahyu—mengikuti kehendakNya—kepada Nabi saw.
“Yang dibawa oleh Ruhulamin (Jibril as.). Yang ditanamkan ke dalam hatimu (Muhamad), agar engkau menjadi satu di antara orang-orang yang memberi peringatan. Yang diajarkan menggunakan bahasa Arab secara jelas.” (Q.s. asy-Syuara [26]:193-195).
Dalam Daur yang berjudul wirid makalah kita semua di ingatkan bahwa “Ini juga wiridan, itu juga wiridan. Garis lurus dari jiwa kita ke Allah, syukur dikabulkan muncul garis lurus dari Allah ke jiwa kita. Seperti garis sinar laser, bukan cahaya yang menyebar. Muatan garis lurusnya wirid, posisinya dzikir, membangun tegangan ingat kebersamaan dengan Allah, arusnya bisa dimuati pengharapan, keluhan, permohonan, pernyataan cinta dan kepasrahan total”
“Wirid dan dzikir katanya spiritual, bukan intelektual”
“Bangunan dan mekanisme wirid ditata secara intelektual. Apalagi dzikir. Mengingat. Memadatkan ingatan. Itu peristiwa di kepala. Menyatu nuansanya dimensinya dengan dada hati qalbu fuad shudur. Kalau mantapnya mengingat sesuatu 4444 kali ke hadapan Allah, itu juga pekerjaan sel-sel otak, hati tak bisa menghitung, sementara kepala tak paham cinta”.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran