Maiyahan Reportase

Repotese : Niteni Berhala Zaman

Catatan Maiyah Suluk Pesisiran 12 Maret 2018

#Repotase #SPMart

Sejak sore hari, Pekalongan diguyur hujan merata dari kampung hingga kota. Sampai pukul 21.00 hujan masih saja turun menyemai benih kehidupan di bumi. Malam itu teman-teman penggiat Suluk Pesisiran sibuk menyiapkan beberapa hal untuk rutinan Maiyahan Suluk Pesisiran. Saudara Nasrul Sibuk menyiapkan mini café, yang melayani dan memproduk kopi khas Suluk, yang terkenal dengan sebutan kopi Suluk. Beberapa teman angkut-angkut gelaran dan sound system. Mereka tetap semangat walau terlihat air hujan menghiasi wajah dan pakaian mereka.

Di antara guyuran hujan yang terus saja menerpa, teman-teman Jannatul Maiyah menelusup menyusuri jalanan yang basah menuju Gedung Olah Raga (GOR) Jetayu, yang beralamat di Jl. Jatayu, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah 51141. Beberapa penggiat istiqomah untuk menyelenggarakan Maiyahan walau jarak kediaman mereka menuju lokasi Maiyahan tak bisa dibilang dekat.

 

Sudah tiga kali putaran acara Maiyahan Suluk Pesisiran digelar di gedung yang biasa ditempati untuk pameran buku ini, gedung ini berdekatan dengan TV Batik, dan di sebelah selatan Stasiun TV itu terdapat Museum Batik, Masjid, dan Rumah Tahanan. Disisi kanan juga terdapat Gereja, Kantor POS. Tempat Maiyahan kali ini benar-benar di jantung kota Pekalongan.

 

Selama satu tahun sebelumnya, maiyahan di gelar di pendopo kecamatan Kedungwuni. Yang terbilang masih dalam wilayah Kabupaten Pekalongan, kalau sekarang menempati wilayah Kota Pekalongan, maklum Pekalongan sebelah selatan dipimpin seorang Bupati, dan di sebelah utara dimanajeri oleh Wali Kota.

 

Maiyahan edisi ke 29 ini mengambil tema tentang Niteni Berhala Zaman yang menurut keterangan para sahabat Maiyah Suluk Pesisiran terinspirasi pada pernyataan-pernyataan Cak Nun di beberapa kesempatan Maiyahan dan juga di beberapa tulisannya. Yang sering kita ingat tentang berhala ini, misalnya pernyataan Cak Nun dalam rekaman yang diputar dalam acara ILC tentang bagaimana manusia Indonesia mudah diadu domba oleh kebenaran yang mereka pertahankan, hingga mengorbankan ukhuwah, persatuan dan kesatuan. Kalau kebenaran sudah menjadi biang permusuhan, itu artinya kebenaran yang bersifat fersi sudah menjadi berhala. Indikasinya karena kebenaran manusia yang bersifat nisbi, relative, sudah dimutlakkan menjadi kebenaran satu-satunya, atau kebenaran mutlak. Tidak hanya sebatas itu, pemilik kebenaran versi ini juga seringkali menganggap lainnya salah.

 

Maiyahan diawali dengan pembacaan surat Yasin dan shalawat badar secara bersama-sama yang dipimpin oleh Gus Riski Robbani, sedulur Maiyah yang sekarang sedang menggeluti usaha Kopi Canting.  Kang Ribut Achwandi yang sehari-harinya sibuk mengajar di UNIKAL dan IAIN Pekalongan, hari itu diamanati menjadi moderator acara, mempersilahkan Mas Fredi Kastama untuk membacakan muqodimah Suluk Pesisiran.

 

Kang Fredi Kastama ditunjuk untuk membacakan muqodimah, karena beliau lah yang menuliskan muqodimah pada acara Maiyahan kali ini. Pemuda mantan aktivis Muhammadiyah ini mengaku pertama kali menemukan telaga Maiyah di Jakarta bersama majlis Maiyahan Kenduri Cinta. Perkenalan dengan nilai Maiyah lah yang mengantarkan beliau keluar dari HRD BCA di Jakarta menuju mandiri menekuni perdagangan bahan untuk canting Batik. “sayah ngabdi karo Cino terus…” demikian selorohnya saat ditanyai perihal alih profesinya.

 

Menurut Fredi pembacaan muqodimah ini dimaksudkan sebagai kerangka sekaligus pengantar untuk memasuki diskusi maupun bahasan yang lebih luas dan mendalam.

 

Mengingat Jamaah Maiyah Suluk Pesisiran yang hadir pada malam itu, didominasi oleh pemuda yang berusia dibawah 40 an, maka pembacaan muqodimah yang dibacakan oleh Fredi Kastama dibawakan dengan melambatkan tempo bacaan untuk penekanan diksional, hal ini ditujukan agar pesan-pesan yang termaktub di  dalam muqodimah dapat dipahami oleh jamaah yang hadir. Pembacaan muqodimah berjalan lancar kurang lebih 10 menit.

 

Setelah pembacaan muqodimah selesai. Fredi  menyampaikan pula tambahan berupa tanggapan, pesan sekaligus apresiasi dari mbah Nun kepada Jamaah Maiyah Suluk Pesisiran. Diantaranya Mbah Nun berpesan yang ditujukan kepada anak-anaknya di Suluk Pesisiran:

“Bahkan Agama, Nabi, tokoh, ideologi, dan apapun bisa diberhalakan — ketika manusia keliru memandangnya, mengidentifikasi, meletakkan dan memfungsikannya. Proses kewaspadaan yang dilakukan oleh para pelaku Maiyah bahkan menemukan bahwa tidak sedikit kandungan berhala dalam Islam, Madzhab, Golongan dan Aliran-aliran — di dalam diri para pelakunya.

Maiyah bersabar, teliti dan telaten, dalam proses dinamis mencari Islam sejati yang sumber utamanya adalah keseluruhan kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad saw — yang jaraknya, perbedaan atau bahkan pertentangannya tidak remeh dibanding Islam yang kita kenal sekarang.”

 

Pesan dari Mbah Nun menjadi pembicaraan tersendiri bagi bagi para pegiat. Bahkan mereka sebagian kaget, karena tidak biasanya tema mendapat sapaan atensi dari Mbah Nun. Diantaranya ada yang mengusulkan agar perbicangan Maiyahan ini difokuskan kepada alur pesan Mbah Nun itu. Atensi Mbah Nun bukan sekedar perhatian, tetapi kita menyangka bahwa hal itu juga berdasarkan dari hasil niteni nya Mbah Nun pada perkembangan keberagamaan umat Islam di jalur pesisiran, khususnya Pekalongan, yang kadang cenderung mengkultuskan para habib dan kiai. Juga beberapa dawuh ulama yang kadang difanatiki layaknya sabda Nabi. Hingga kesalahan penempatan ini kadang menjadi biang dari jumud, atau menutup diri dari kemungkinan kebenaran baru yang datang.

 

Selanjutnya, kembali Moderator mulai mengajak jamaah untuk sinau bareng perihal berhala-berhala zaman. Asumsinya bahwa setiap zaman ada Nabinya, maka setiap zaman juga ada berhalanya sendiri. Atau Bahasa lainnya, lain zaman lain berhala.

 

Karena seorang Dosen, Kang Ribut selaku moderator juga bisa berfungsi narasumber (walau di maiyahan tak akrab dengan istilah narasumber karena semua yang hadir bisa menjadi narasumber). Dosen yang juga pengelola Omah Sinau Sogan ini memberikan garis besar bahwa pemberhalaan itu tidak terletak pada obyek, tapi pada pelaku. “cara kita memandang itu yang menjadikan kita disebut memberhalakan.” Tidak penting dihadapan kita jabatan, uang, profesi, karir, popularitas, jika kita mampu meletakkannya dengan benar, alias tidak dijadikan tujuan (ghoyah), tetapi cukup sebagai wasilah untuk menuju Allah. Maka semua hal duniawiyah itu tidak bisa menjadi masalah apapun kepaa manusia.

 

Dunia letaknya cukup di tangan saja jangan sampai masuk ke dalam hati. Karena kalau sampai ke hati, apalagi mengendalikan perasaan, menentukan suka-duka manusia, akan timbul gejala pemberhalaan. Segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh manusia dengan inderanya bisa berpotensi menjadi berhala kalau manusianya salah dalam memandang, mempersepsikan dan memfungsikannya” Kurang lebih begitu alur pembicaraan awal moderator dalam ‘menggelar tikar diskusi’.

 

Selain moderator, didepan juga telah hadir Mas Andi dari komunitas Biji Pekalongan, komunitas yang bergerak dalam konservasi alam. Beliau berpendapat bahwa segala sesuatu yang menjadikan manusia tergantung mutlak kepadanya, itulah berhala. Ia mencontohkan bahwa sekarang manusia sudah sangat tergantung kepada Google. Jangan-jangan kita sedang memberhalakan Google, seiring dengan kita tidak menyadarinya.

 

Ketergantungan berawal dari pemenuhan kebutuhan manusia, kemudian pemenuhan itu semakin hari semakin memanjakan kebutuhan, hingga menimbulkan kemalasan, dan menurunnya tingkat kemandirian dan kedaulatan atas dirinya, hingga akhirnya kita tergantung pada sesuatu, fasilitas, atau apapun. Mas Andi menyebut HP Anroid sebagai salah satu media yang digantungi oleh berjuta manusia.

 

Sebelum pembicaraan berlanjut membahas berhala, moderator balik arah untuk menekuni istilah niteni dulu. Ribut mengambil contoh fenomena terkini dalam bidang ilmu pengetahuan. “Mahasiswa sekarang sulit rupanya untuk bisa menjadi pribadi yang titen.”  Ujar ayah dari dua anak ini. Ada kecenderungan mahasiswa merasa kurang bisa mengetahui rumusan masalah dalam sebuah karya tulis ilmiah. Padahal dari rumusan masalah tersebut bisa melahirkan proses identifikasi dalam menentukan permasalahan yang akan diteliti.

 

Berlanjut pada makna berhala Mas Ribut juga memberikan konsep pandangannya. “Berhala itu tidak pada materi tetapi terdapat pada cara berfikir, cara merasakan, yang berakibat pada perilaku sehari hari dan bisa jadi tidak tampak wujud nyata berhala, sebagaimana berhala yang sering digambarkan pada masyarakat arab jahiliah”.

 

“Bisa jadi jabatan yang diduduki seseorang menjadi sesuatu yang bisa mengecoh cara pandang seseorang untuk selalu minta dihormati. Sedangkan jabatan sebenarnya hanya terikat pada struktur birokasi bukan tuntutan aspek interaksi komunikasi sosial. Overdosis mengenai rasa penghormatan karena jabatan juga bisa menjadi salah satu contoh berhala yang tidak tampak yang sekarang ini orang-orang berebut mencari celah untuk mengejarnya.”

 

Eko Suprihan, Koordinator Simpul Maiyah Suluk Pesisiran urun rembug, “Ternyata peradaban niteni  sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim.” Ia mengajak Jamaah maiyah untuk flash back ke zaman para Nabi. Menurutnya bahwa dalam prosesnya menuju Tuhan, Nabi Ibrahim mengedepankan proses empiris.  Waktu itu Ibrahim menemukan matahari, bulan, dan bintang yang sempat disangkanya sebagai Tuhan. Kemudian proses pencarian tidak berhenti disitu, Ibrahim terus saja mencari Tuhanya hingga ketemu Tuhan Yang Sejati.

Proses Laa Ilaha akan menemui beberapa fase yang kemudian berakhir pada ill Allah. Dari contoh tersebut kita dapat mengambil sebuah semangat dari orang-orang dulu bahwa metodologi niteni juga masih sesuai dengan keadaan zaman.

 

Pada pertengahan malam datang Jamaah Maiyah yang sering dipanggil Kang Asep. Moderator mempersilahkannya untuk maju, untuk ikut mengulas diskusi yang sudah menghangat. Menurut Kang Asep, berhala ada sejarahnya. Misalnya sejarahnya berhala pada masa pra Nabi Muhammad ada yang bernama Hubbal, Manat, Latta, Uzza, Nailah. Hubbal diambil dari negeri Syam oleh Amar bin Luhay salah seorang sesepuh Bani Jurhum. Kenapa diambil? Karena Amar melihat praktek peribadatan masyarakat Syam dengan ritual mengelilingi patung Hubbal. Saat ditanya tentang sebabnya, mereka mengaku bahwa dengan cara menyembah Hubbal mereka mendapat guyuran air hujan. Air menjadi kebutuhan bersama masyarakat padang pasir, karena cuaca panas berkepanjangan, air merupakan kebutuhan pokok dan mendesak. Menyaksikan itu Amar tertarik untuk membawa pulang Hubbal ditaruh disekitar ka’bah dan meniru ritual memuja berhala.

 

Sedangkan Latta, Manat, Uzza awalnya merupakan nama tokoh yang baik, tokoh masyarakat yang memiliki kemulyaan dan keutamaan, hingga akhirnya manusia memuja-muja mereka. Kemudian dibikinkan tanda kenangan kebaikan untuk tokoh-tokoh itu dengan membuat patung. Ritual penghormatan itu menjadi ritual peribadatan. Jadi dampak negative menjadi orang baik itu dikultuskan hingga diberhalakan.  Hal ini tak jauh beda dengan kronologi pengakuan Firaun sebagai Tuhan. Awalnya Firaun juga sebagai penyembah patung lembu emas. Sampai pada suatu saat ada wabah penyakit gatal yang merebak di masyarakat kekuasaan Firaun. Sebelumnya Firaun telah menyodet sungai Nil untuk dialirkan ke Istananya, sampai pada satu kesempatan ada punggawa kerajaan yang membasuh tubuhnya di sungai nil yang lewat istana Firaun itu. Punggawa merasakan bahwa penyakit gatalnya lama-lama sembuh. Mendengar kabar kesembuhan itu beberapa pegawai kerajaan yang terkena gatal segera berkunjung sungai nil sudetan itu. Hingga akhirnya masyarakat berbondong-bondong menuju istananya Firaun untuk berobat. Karena merasa berjasa menyembuhkan sekian banyak orang, akhirnya dalam hati Firaun mulai berbangga diri, kebanggaan ini juga diperbesar oleh kesehatan tubuh Firaun yang maksimal. Raja Mesir ini tak pernah mengalami sakit, hingga kebanggaan itu membesar menjadi musuh bagi dirinya sendiri, hingga akhirnya dirinya mengaku sebagai Tuhan.

 

Demikian ulasan dari Kang Asep tentang sejarah pemberhalaan, yang bisa diambil garis besar. Bahwa kecenderungan manusia memberhalakan sesuatu berkait kebutuhan manusia yang terpenuhi. Hingga manusia itu memuja pihak yang memenuhinya. Bila seseorang yang mendapat sanjungan terus-menerus berakibat pada rasa ujub yang merasuk di hati, hingga bisa jadi ia mengaku Tuhan, terang-terangan dan tersamar dalam hati. Maka di Jawa di kenal nilai bisoho rumongso ojo rumongso biso.

 

Di tengah sesi diskusi Saudara Nasrul maju ke depan untuk menyumbangkan sebuah lagu ciptaannya berjudul  Musuh Kita Sebenarnya

Musuh Kita Sebenarnya

Selalu saja ku melihat pertengkaran dan permusuhan.

Merasa benar merasa hebat

Sampai lupa kebenaran

Kebenaran yang sejati

Yang terus kita cari.

Kutak butuh, bendermu

Karna yang kubutuh cinta mu

Sesama manusia, saling saudara

Bukan terus saling menghina

Musuh kita sebenarnya… Bukan mereka..

Bukan dia…

Musuh kita sebenarnya… Nafsu kita sendiri…

Musuh kita sebenarnya… Bukan mereka..

Bukan dia…

Musuh kita sebenarnya kesempitan berfikir..

 

Menurut Nasrul lagu ini sekaligus mengingatkan bahwa diri kita sering memberhalakan nafsu kita.  Kita sering mencari berhala di luar tapi tak menyadari bahwa sesungguhnya berhala itu yang banyak terdapat dalam diri manusia. Lagu ini diapresiasi oleh Kang Asep dengan mengutip satu ayat Al Qur’an

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al-Furqaan: 43).

Pada beberapa kesempatan moderator membuka diskusi. Diantara sedulur yang hadir mengutarakan beberapa pendapat, diantaranya juga beberapa hal ketidaksetujuan dari beberapa pendapat yang telah diutarakan para sahabat yang sudah lebih dulu berbicara. Para sahabat ini juga menanyakan tentang apakah kita sempat memberhalakan organisasi, madzhab, yang kita ikuti kalau seandainya menganggap salah organisasi, paham, madzhab lainnya.

Diantara jawabannya, “kebenaran yang kita pegang kalau menjadikan kita tinggi hati hingga mengganggap diri paling benar, dan orang lain salah semua. Maka ada indikasi kita sedang memberhalakan pendapat, madzhab, dan organisasi kita. Kita harus santun dan rendah hati mengatakan “bahwa kebenaran ku benar, tapi ada kemungkinan salah, kebenaranmu salah tapi ada kemungkinan benar.”  Sebagaimana pesan Mbah Nun bahwa manusia tak mungkin mencapai kebenaran seratus persen.

Pukul 01.30 WIB dini hari moderator mempersilahkan masing-masing ‘narasumber’ untuk memberikan semacam rangkuman diskusi. Diantaranya bahwa kita tidak termasuk sedang memberhalakan sesuatu, selama kita masih berproses terus menuju kebenaran sejati, sebagaimana Ibrahim yang sempat punya kesimpulan terhadap matahari, rembulan. Kita tak mungkin menuduh bahwa Ibrahim memberhalakan makhluk-makhluk itu, karena Ibrahim terus mencari kebenaran sejati. Ibrahim tidak mandek, apalagi menganggap temuannya sebagai kebenaran mutlak.

Kemudian Gus Risqi Rabbani dimohon oleh moderator untuk memuncaki acara dengan pembacaan beberapa ayat Al Qur’an, shalawat dan doa Duh Gusti dan diakhiri dengan bersalam-salaman (musofahah) yang diiringi dengan shalawat Nabi.

 

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran