Maiyahan Reportase

Repotase : Manjing Ajer Ajur

Catatan Maiyah Suluk Pesisiran 12 April 2018

#Repotase #SPApril

Dari sebuah perbincangan tentang bagaimana menghilangkan egosentris, mungkin epistemologi yang sejajar dalam tradisi sufi disebut sebagai Fana, lahirlah ungkapan Ajar Ajur. Bagi yang mendalami Bahasa Jawa, ungkapan tersebut tidak enak di dengar dan menyalahi idiomatik Jawa yang sebenarnya yang berbunyi Manjing Ajur Ajer.Sebuah ungkapan yang mengajak manusia untuk bisa menyesuaikan diri dimanapun, kapanpun, di lingkungan masyarakat yang ditempatinya, hingga bisa bergaul, membaur, dan empati atas keadaan masyarakat seinteraksinya.Efek dari Manjing Ajur Ajer akan lahir rasa tepa salira bisa menempatkan diri di tengah pergaulannya dengan manusia dan makhluk lain. Hingga keberadaannya tidak madloroti tapi migunani tumraping liyan.

Juga wacana yang sedang semremeng kita dengar tentang tamu sipit, atau halayak menyebutnya sebagai WNAyang sekarang eksistensinya melebihi tuan rumah warga pribumi. Ada ungkapan terkenal, awalnya mereka ngekos lama-lama kamar kosnya dibeli, lama-lama juga akhirnya rumah ‘Bapak Kos’ dibeli dan ‘Bapak Kos’ yang bisa diibaratkan sebagai pribumi menjadi gelandangan di kampung sendiri. Wacana ini masih kemebul selepas Sri Sultan memancangkan tali pembatas atas hak milik tanah WNA.Bukan wacana anti pluralism, atau anti kebhinekaan tetapi kecendrungan memberi ‘patok’ agar keserakahan yang dilegalkan bisa dibatasi, syukur-syukur disudahi.

Alamak kenapa akhirnya kok ambil tema Manjing Ajur Ajer, kaitannya dengan saudara kita ini?iya karena para tamu ini kenapa tidak bisa membaur dengan tuan rumahnya, bahkan ketika sudah matipun, mereka bikin bong china sendiri. Ada kejadian sejarah apakiranya hingga sedemikian pahit jetit nya saudara kita ini. Bukan dalam rangka menyortir siapa yang salah, tapi membrowsing sejarah apa yang salah, toh dalam sejarah batik orang Pekalongan sangat akrab dengan istilah tiga negeri: Jawa-Arab-China. Artinya dalam sejarah awal interaksi peradaban kita sempat ajur ajer bersama Si Brewok dan Si Sipit. Lahirlah tema: Manjing Ajur Ajer atas ngandiko empu kita: Mbah Suprihono, dan Pak Agus Sulistyo.

Hari kamis malam Jumat12 April 2018di tengah heroiknya masyarakat Pekalongan menyelenggarakan peringatan Isra Mi’raj yang biasa dikenal sebagai rajaban.Sementara banyak orang ingat untuk memperingati peristiwa supremasi cahayaitu, kenapa pegiat Suluk Pesisiran tak terenyuh mengikuti kebanyakan orang?

Manjing Ajur Ajer merupakan inti dari nilai Isra Mi’raj.” demikian jawaban diplomatis penggagas tema tersebut. Kanjeng Nabi Muhammad SAW Manjing Ajur Ajer bersama cahayanya, untuk manjing ajur ajer lintas alam bersama makhluk dan Khaliqnya. Begitulah isi walaupun kita tak menyetempel kulitnya dengan peringatan Isra’ Mi’raj’.Di GOR JetayuPanjang Wetan Kota PekalonganMajlis Masyarakat Maiyah Suluk Pesisiran digelar dengan tema Manjing Ajur Ajerdengan di dampingi parapinisepuhMaiyah Suluk Pesisiran: PakAgus Sulistyo, Gus Anam, Mbah Suprihono, dan seorang empu sejarah nusantara Pak Turadi.

Dosen Gondrong yang dikenal sebagai Ribut Achwandi mewasiti jalannya maiyahan yang diawali dengan pembacaan ayat-ayat al Qur’an yang dilantunkan dengan kemerduan oleh Saudara Risqi Robbani.Sebagai tradisimaiyahan di Pekalongan, Si Juragan Kopi Canting ini juga membacakan QS.Yaasin, disusul Wirid Ta’ziz, Tadhlil dan shalawatan.

Fredi, yang sekarang lagi ngidam Maiyahan Remaja membacakan Muqodimah dengan tidak seperti biasanya.Hari ini membacanya lebih khusyu’, walau shalatnya kadang gak khusyu’.Setelah pembacaan muqodimah selesai, Fredi mempersilahkan Kang Ribut selaku moderator untuk mengawal jalannya acara.Ribut dengan kaos hitam dan berkupluk merah putih ala kupluk sedulur maiyah umumnya.

Pada pukul 22.33 WIB.tampil kelompok musik Bu Kaji (Mburi Kuburan Mbeji) sebuah kelompok musik indi yang tidak hanya menekuni seni musik tetapi juga sebuah komunitas yang sering menggelar kegiatan literasi untuk masyarakat Mbeji. Bu Kaji membawakan satu lagu ciptaan Sujiwo Tejo dengan judul Sugih Tanpo Bondho yang istilah itu semuladiperkenalkan oleh kakak kandung RA.Kartini yang dikenal sebagai Sasrokartono dan sebuah lagu dari kelompok musikWali dengan judul Yang.

Sugih Tanpa Bondho sebuah nilai luhur yang sekarang tidak dipercaya lagi oleh sebagian besar manusia.Pertanyaan yang dilontarkan moderator,dalam hidup apakah manusia siap hidup tanpa terpenjara dengan bondho?Kebanyakan orang hanya siap hidup dan tak siap mati; hanya berkenan sukses tak siap gagal, padahal yang penting bagi manusia adalah terus berproses. Bukankah Tuhan tak menagih sukses, hanya menanyakan proses? disambung dengan tawaran moderator kepada JamaahMaiyah yang hadir untuk menyampaikan gagasannya.

Karena GOR Jetayu dengan bangunan yang tinggi menimbulkan gema suara, menjadikan inspirasi Ribut untuk mengungkap fenomena masyarakat Indonesia saat ini sebagaimana dengungan suara di dalam ruangan.Kekuatan manusia Indonesia yang tampil di permukaan terletak dalam kekisruhan dengungannya, dalam gema suaranya.Apalagi kalau kita melihat fenomena di medsos.Tetapi saat ditagih dengan, mana baktimu, mana solusimu, yang terdengar hanya dengungan, bak gema suara yang mendengung.Sudah menjadi tradisi keilmuwan Maiyah, segala apapun bisa menjadi bahan bacaan, dan metode berfikir, syukur menjadi kunci ilmu.

Pukul 22.46 WIB Mbah Suprihono maju ke depan untuk membawakan sebuah laguKidungKalaseboyang mempunyai arti: saatnya sowan menghadap. Sesepuh Suluk Pesisiran ini, terkenal dengan semangatnya yang seringkali mengalahkan kami yang muda-muda.“Mbah Pri ini walaupun sudah tua tapi semangatnya muda.” demikian ungkap Ribut yang sekaligus mempersilahkan Mbah Pri untuk memulai.

Mbah Pri mengungkapkan semula sebelum tema Manjing Ajur Ajer ini teman-teman pegiat akan mengambil tema Ajar Ajur, tetapi menurut Mbah Pri, tema itu bisa berarti bunuh diri karena artinya belajar untuk hancur.Kemudian Mas Agus Sulistyo selaku yang dipercaya sebagai ahli bahasa oleh sedulur Maiyah Suluk Pesisiran memberikan masukan dengan ungkapan yang lebih pas Manjing Ajur Ajer.

Mbah Pri menegaskan kepada para pemuda yang dihadapannya untuk menelusuri jatidirinya yang Jawa, yang dikenal sebagai peradaban pertama di dunia dengan sebutan nuswantara itu ditakuti oleh negeri lain. Kuncinya apa? Menurut pengasuh FK-METRA Kabupaten Pekalongan ini, karena kita punya harga diri yang berawal dari kita tahu diri siapa kita?Siapa leluhur kita?dan bagaimana sejarah kita?

Mbah Pri membawakan kidung kalasebo(saatnya sowan menghadap).Penyakit kita hari ini adalah takut mati padahal hidup itu untuk mempersiapkan mati.Bukti kita takut mati dengan melihat fenomena bahwa bahasa Inggris dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan bahasa Jawa.Sehingga kita tidak mau mempertahankan karena takut ditinggalkan oleh zaman.Itulah penyakit kita, maka kita harus Manjing Ajur Ajer supaya kita tahu hakekat hidup, sehingga kita tidak takut mati, tidak takut kalah, dan tidak takut gagal.

Ada seorang penanya yang mengaku dari Kalimantan Barat yang menetap di kedungwuni.Ia mengaku bernama Hakim. Menurutnya ada dua hal yang akania sampaikan pertama, kelemahan saya dan kita semua merasa lemah dan bodoh, sehingga perlunya acara seperti ini. Kita mencair dengan lingkungan untuk mengikuti sunatullah.Semesta ini berjalan sesuai dengan fitrahnya,sedangkan kita yang dilengkapi dengan nafsu seringkali kurang bisa memahami bagaimana posisi kita untuk berjalan yang terbaik menurut Allah.

Pentingnya Nabi itu ketika diuji mereka sadar bahwa ujian itu adalah hal yang terbaik dari Allah.lha kita bagaimana?kedua, tentang harmoni atau selaras, dengan mengetahui posisi yang terbaik menurut Allah itu sehingga kita mencoba menyelaraskan diri dengan lingkungan. Hingga ada istilahdimana bumi kita pijak disana langit kita junjung.

Pertanyaan itu disambut oleh PakAgus, salah seorang penulis buku Sejarah Bahurekso.Pertama ada parameter jagad cilik dan jagad gede.Kita semua belum teratur maka perlu merujuk kepada para manusia yang sudah teratur yaitu para Nabi.Sampai pada tahap peraturan ini nyawiji dengan kita.Setiap kita berkewajiban membaca ayat-ayat dalam kehidupan kita.Karena kita belum bisa membaca maka kita meminjam ilmu dari orang yang sudah bisa membaca, seperti para Nabi, Wali dan para kekasih Allah.Ketika Nabi mau membaca maka ia mendekat dengan sumber ilmu, yaitu Allah. Ketika mendekat kemudian nyawiji maka ilmu merasuk.

Proses nyawiji dengan ilmu Allah itu dalam bahasa kita adalah menghayati ilmu? Apakah kita sudah menghayati ilmu?Berawal dari mengamalkan ilmu secara bertahap.Setelah kita benar-benar istiqomah mengamalkan ilmu ketika itu banyak ujian dan godaan untuk menguji keistiqomahan amalan ilmu kita, itu yang dinamakan penghayatan.Jadi tanpa amalan, ujian, dan godaan maka kita tidak bisa menghayati ilmu.Setelah menghayati, ilmu akanmanjing.

Ketika ilmu belum manjing maka belum bisa merubah perilaku kita.Demikian juga dengan kehendak kita.Ujian hidup merupakan proses merasuknya ilmu. Seringkali kita mengetahui tetapi tidak menyadari, karena memang ilmunya masih sebatas sebagai pengetahuan belum menjadi laku.Ketika ilmu tidak mampu merubah perilaku dan watak.Maka banyak orang tahu tetapi tidak bijaksana, setumpuk pengetahuannya tidak menjadikannya lebih arif.

Dalam tradisi keilmuwan orang dulu cenderung pengajaran dilakukan secara privat, kalau sekarang klasikal.Sunan Kalijaga diajari Sunan Sunan Bonang dengan metode pembelajaran diwisik.

Ilmu yang diajarkan dengan jalandiwisikke itusering disebut dalam istilah Jawa sebagaiglenak-glenikdan berikutnya menjadi istilah ilmu klenik.

Tapi sayang metode glenak glenik yang mestinya dipahami sebagai pola pembelajaran yang penuh kearifan, unik, privat, dan standard dalam proporsional transformasi keilmuan ini, sayangnya saat inimengalami distorsi pemahaman. Karena ketidaktahuan, dianggap kuno, aneh, asing, maka istilah klenikakhirnya diidentikkandeagan praktek tahayul, khurafat dan lain sebagainya yang berkonotasi negatif.

Sesuatu yang harus disampaikan, atau tidak disampaikan sesuai takaran siapa murid di depannya.Dan setiap murid punya dosis ilmunya sendiri-sendiri. Juga misalnyadigambarkan dalam pewayangan Bima yang proses pembelajarannya langsung masuk ke dalamDewa Ruci.

Maka kita perlu mengembangkan pengetahuan berbasis kesadaran.Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul dalam akal adalah membangun kesadaran.Kalau dalam perilaku memperbaiki akhlak.

Golek banyu apikulan warih.golek geni kanggo adedamar. Alqur’an ada di dalam hati ketika hati sudah keluar nurnya.Maka dalam pergaulan orang yang dihatinya sudah ada nurnya akan cenderung tahu diri, hingga bisa menempatkan diri. Ketika cahaya semakin terang maka akan menyinari sekitarnya, semakin terang cahaya, maka semakin luas yang disinarinya.

Setiap diri manusia sudah ada cahaya.Masalahnya apakah kita mau menyuletnya atau tidak?hayo disulet dan disuwukke. Kalau di depan kita banyak kiai, habib, mana kira-kira yang akan kita pilih? Tentu yang cocok dengan hati kita.Karena kita semua besok mempertanggungjawabkan sendiri semua amal perbuatan kita.Segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri.

Setelah beberapa kata Pak Agus menyulet teman-teman dengan kata-kata pembukanya giliranMbah Turadi diberikan kesempatan oleh moderator untuk memulai ular-ularnya.karenaMbah Turadi malam itu merupakan malam perdananya hadir dalam Maiyahan Suluk Pesisiranbeliau mengawalinya dengan memperkenalkan diri. Nama saya Turadi, tinggal di Jakarta.Ketika ada teman dari Jepang memanggil saya dengan sebutan Tornado.Disambut gelak tawa hadirin.Saya dilahirkan di Tersono Batang.Saya punya cucu dua.Anak saya yang kedua belum punya anak.Yang anak pertama sudah punya anak.

Saya betul-betul tidak mengerti.Saya lahir ke dunia bukan kehendak saya, bukan kehendak ayah ibu saya.Tapi tentunya kehendak Allah Swt. Malam hari ini saya bisa ketemu dengan calon-calon pemimpin bangsa.

Ada beberapa kategori orang yang tahu, pertama, orang tahu dan ia tahu kalau dirinya tahu, orang ini bisa titi teteg netes. kedua, orang tahu dan ia tak tahu kalau dirinya tahu.orang ini cenderungnya hati-hati ketiga, orang tidak tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Orang ini kecenderungannya ceroboh.

Langkah seseorang untuk mengetahui bisa melalui identifikasi dari apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana. Identifikasi itu kalau diperdalam akan menjadi pengetahuan sejarah. Belajar sejarah bisa menghindarkan diri kita dari salah kaprah.

Misalnya sejarah tentang pekalongan.Ada yang mengatakan bahwa Pekalongan berasal dari dua kataPekadan Longan.Longan adalahtempat laku spiritual tingkat tinggi.Pekalongan juga berasal dari kerajaan keling.dari pekalongan lahir tokoh-tokoh. pekalongan terpilih untuk melahirkan tokoh kaliber dunia.

Disini kita juga akanberbicara tentang jiwa kepemimpinan. kalau dalam pewayangan zaman sekarang ini kita masuk zaman Kaliyoga yang digambarkan oleh Jangka Jayabaya sebagai kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, keris ilang pamore. Manusia agar mempunyai jiwa kepemimpinan dengan cara mempelajari diri. Padepokan toto roso, toto batin dalam toto batin, hati harus menjadi pemimpin untuk keseluruhan jasad manusia.Kita telah kehilangan Garis Besar Haluan Negara yang berfungsi sebagai toto batinnya Negara.

Bangsa Indonesia sedang mencari jati diri.misalnya sedang mencari jatidiri demokrasi Indonesia yang tidak sama dengan demokrasi Negara amerika, atau Negara-negara di Eropa. Indonesia punya demokrasinya sendiri yaitu Demokrasi Pancasila.

Kunci menjadi pemimpin adalah jangan mengalahkan orang lain sebelum mampu dan mau mengalahkan dirinya sendiri. Sebelum bisa memimpin dirinya sendiri jangan memimpin orang lain. Memayu hayuning bawana.bagaimana kita bisa mengolah jiwa kepemimpinan kita agar bisa menghiasi dunia ini dengan kebaikan dan keindahan.sehingga diri ini bisa mencintai dan dicintai, witing tresna jalaran sangkaambon kencana

Hanyut dibuatnya anak muda mengikuti taburan wicaksana dari Bapak Turadi yang diliputi pengetahuan paham Jawab.Dalam majlis itu pasti ada jarak budaya, pengetahuan, dan jarak generasi. Teman-teman kebanyakan yang hadir usia dibawah empat puluh tahun, bahkan kebanyakan masih likuran. Menurut Ribut, inilah kesempatan anak-anak muda menimba sumur kesejatian dari air jernih nenek moyang dan sesepuhnya. Kadang anak muda mengacuhkan generasi tua, sedangkan sebenarnya orang tua ingin menularkan pengetahuan kepada yang muda.Karena yang tua sempat muda, sedangkan pemuda belum pernah tua.

Tapi yang menjadikan sia-sia itu bukan muda dan tua, tetapi bagaimana pikiran dan perilaku kita.Kita bisa kumpul seperti ini dengan didatangi oleh Pak Turadi.Kelihatannya peristiwa sederhana.Padahal ini merupakan persitiwa istimewa kehidupan.Misalnya kita belajar di Sekolahan atau kampus.kita merasa belum jangkep tentang ilmu kehidupan maka apa yang disampaikan Pak Turadi ini menjangkepi kekurangan-kekurangan ilmu kita.Maka jangan hanya mencari ilmu di lembaga-lembaga pendidikan formal saja, perlu mencari dimana-mana, terutama di Majlis Maiyahan ini.

Ribut Achwandi seorang dosen Universitas Pekalongan, mengaku bahwa dirinya selama beberapa tahun mengabdi dan mendalami dunia pendidikan di lembaga UNIKAL, beliau merasakan ternyata gak ada apa-apanya, karenasesungguhnya Universitas yang berasal dari kata Univers (alam semester) itu seharusnya yang diupayakan pertama adalah nata jiwa(jagad gede).

Yang kita tahu dalam pendidikan formal, menjalani pendidikan hanya untuk mencari pekerjaan.Tatarasa, tata jiwatidak bisa kita dapatkan di lembaga pendidikan kita. maka kita harus mencarinya di kesempatan lain.

Gus Anam salah satu anggota tim peneliti warisan peradaban nuswantara, yang sering mengikut Maiyahan Suluk Pesisiran memberikan blue print tentang awal nuswantara yang berkaitan dengan sunda wiwitan yang ditandai dengan Gunung Padang yang ternyata bukan gunung tetapi sebuah piramida. Menurut Gus Anam, banyak peninggalan sejarah yang dirusak oleh orang-orang kita melalui kerja rodi.Padahal banyak peninggalan sejarah yang dapat mengantarkan gambaran diri kita tentang masa lalu, hilang begitu saja.Menowo ngombe kopi ojo cuma kilingan manise. Begitulah kalau kita menelusuri sejarah kita akan mengalami dan mengetahui pahitnya kopi sejarah itu justru nikmat. sebagai tambahan informasi di Kandangserang terdapat makam orang tua Sabdo Palon Noyo Genggong.

Apa yang diuangkapkan Gus Anam, ternyata memancing Mbah Turadi untuk berpanjang lebar membabar sejarah peradaban dunia. Menurutnya peradaban dunia sumbernya ada tiga: timur tengah, tiongkok, dan India.

Kata Mbah Turadi, Pekalongan itu pintu gerbang peradaban Jawa Kuno. Bahkan, jalur darat purba sudah ada jauh sebelum Deandels membangun jalur Anyer-Panarukan.Jalur darat purba ini menghubungkan Pekalongan dengan daerah-daerah lain hingga ke kawasan Pasundan dan kawasan Jawa Timur.

Oleh kolonial Belanda, jalur darat purba ini kemudian dirusak dan dibangunkan jalur baru.Tetapi, pengrusakan jalur purba ini tidak hanya dilakukan bangsa Eropa, melainkan pula melibatkan bangsa sendiri yang kala itu dicekam oleh sistem kerja paksa.Imbasnya, kajian masa lalu Pekalongan pun menjadi kabur.

Di sisi lain, hubungan Pekalongan dengan kerajaan-kerajaan purba seperti Kutai Kartanegara, Tarumanegara, Kalingga, Mataram Kuno, Galuh, Panjalu, Sriwijaya, dan sederet nama kerajaan kuno lainnya sangat dekat. Bahkan pada masa berpindahnya Balaputradewa ke Sriwijaya dari Mataram Kuno, sejumlah penggedhe kerajaan Mataram Kuno dan beberapa keturunan dari penggedhe Kalingga memilih untuk tetap tinggal di Pekalongan.Beberapa di antara mereka memilih tinggal di kawasan selatan Pekalongan, Petungkriyono.

Pekalongan bisa dikategorikan sebagai pintu gerbangnya peradaban dunia.Kajian arkeologi mengatakan bahwa sungai-sungai yang ada di Pekalongan menjadi rujukan para arkeolog dalam penelitiannya.Misalnya sungai Loji kalau kita urut sampai Warungasem disana ada kerajaan Mahasinyang sekarang kita kenal dengan desa Masin. Disana ada daerah namanyaSengari merupakan pusat perdagangan emas pada tahun 700 an. Pekalongan tempat domisilinya para ahlu kerajaan. Ketika mataram kuno di pindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sendok, beberapa ahli kerajaan memilih untuk tinggal di Pekalongan.

Berbicara Pekalongan hasil penelitian para arkeolog terakhir bahwa Pekalongan Batang ini merupakan pintu masuknya peradaban kuno.Sejarahnya india mengalami perang saudara, orang-orang India yang kalah masuk ke Jawa sampai di kerajaan Mahasin. Dinasti India itu juga lari ke timur, sampai bernaung kepada dinasti mataram kuno.Setelah Airlangga berhasil ngluruk ke Pekalongan memerangi kerajaan Mahasin.Pada waktu itu Dinasti Mataram kuno berakhir.Kemudian disusul Majapahit, kemudian sampai lahir Mataram Islam.

Dimana kepulauan atlantis?dimana pyramid paling besar di dunia?Hal itu tidak lepas dari kerajaan besar yang ada diPasundan. Kerajaan besar yang menguasai 2/3 dunia.Kerajaan ini juga biasa dikenal sebagai Sunda Besar.Nah kemudian dimana katanya kepulauan atlantis dinyatakan hilang. Bahwa sebelas ribu tahun lalu.tiga kali berturut-turut es di kutub utara mencair. mudah-mudahan penelitian terhadap gunung padang segera selesai. Hingga kita semakin jelas bahwa keraan atlantis berpusat di pusaran Gunung Padang itu. Demikian Mbah Turadi memaparkan.

Sejarah mengatakan bahwa Kerajaan yang berdiri di nusantara ini selalu bekerjasama dengan kerajaan tiongkok.Misalnya Ratu Sima pernah menempatkan uang di pertengahan jalan. Siapa yang mengambil akan dihukum. Waktu itu, tidak ada yang berani mengambil.

Selain Kerajaan Mahasin, masih banyak kerajaan-kerajaan di Pekalongan misalnya Kerajaan Keling. Diberitakan dalam berita Tiongkok pada dinasti Tang.Kerajaan Keling merupakan awal mula dari muculnya dinasti Sailendra.Melihat prasasti batu di Sumatra bisa diartikan bahwa tokoh sailendra ini berasal dari pesisir utara nusantara, yang tidak lain yang sekarang dikenal sebagai Pekalongan.

Kalau kita sudah tahu bahwa Pekalongan ini sebagai cikal bakal nusantara, maka apa tindak lanjut berikutnya bagi kita terhadap Pekalongan. Juga bagaimana hubungan sejarah itu dengan kejayaan batik di Pekalongan yang produksinya paling besar di dunia.Apakah ini ada kaitannya dengan penelitian geologi yang menulis bahwa dataran tinggi dieng itu merupakan gejala alam bentangan gunung merapi dari Petungkriyono Pekalongan sampaiWonosobo.Gunung merapi meletus pada tahun 650.Dari hasil letusan merapi itu mengakibatkan tanah sekitarnya menjadi subur hingga muncul peradaban cocok tanam.Budaya cocok tanam mengakibatkan berkembangnya teknologi cocok tanam, disana ditemukan benda-benda arkeolog seperti patung ganesa, benda-benda kuno, peralatan pertanian.

Paling banyak benda kuno itu di Pekalongan. diPeninggaran, Petungkriyono. sampai kerajaan bumi jawa- kuningan. Sampai timur sampai gunung bromo petilasan gamani di doro.

Peradaban yang mewarnai dunia didominasi dari Timur Tengah.epos agung Mahabarata hingga sekarang masih dijadikan orang Jawa. darmawangsa posisinya ada di madiun. kemudian berbicara Pekalongan. saya itu dulu saya kebingungan mengatakan Pekalongan itu darimana. baurekso topo ngalong dimana. Apa topo ngalong itu posisinya seperti lowo kalong, atau topongalong identik makan seperti yang dimakan kalong.

Batik pakem Pekalongan dilihat dari pewarnaannya disebut sebagai motif tiga negeri jawa-cina-arab.Karena untuk mewarnainya melibatkan tiga negeri.

Dulu juga dikenal keampuhan lendang pak orayang dikenal hanya di miliki orang kaya.Dulu mitosnya lendangpakorakalau disabetkan kepada seorang perjaka, maka spontan perjaka ituakan tertarik kepada perempuan pembawa selendang pak ora. Ketiga, ada ceritanya selendang fasi. khusus untuk mbangun bayi. diselimutkan pada bayi. itu salah satu potensi yang ada di Pekalongan masa lalu.

Ribut Achwandi mempersilahkan kembali para sedulur untuk bertanya atau mengungkapkan beberapa hal.Terlihat Kang Asep menanyakan perihal tentang China, yang tadi disinggung dalam sejarah telah terjadi hubungan romantis China-Jawa.Tapi kemudian beberapa puluh tahun ini China seakan tidak mau membaur dengan warga pribumi. Ada kejadian sejarah apa sehingga mampu merubah sejarah semacam itu?

Mbah Turadi mencoba menjawab “Salah satu tokoh yang makamnya diziarahi oleh peziarah multi etnik, dan multi agama adalah Almarhum Gus Dur. Itu artinya kita butuh tokoh seperti Gus Dur untuk menyambungkan antara lintas etnik.

Ada beberapa kejadian sejarah sehingga bisa mungkin membuat renggang hubungan antara China Jawa.Pada masa kerajaan Singosari jawa sempat clas dengan cina.Juga pada zaman orde lama yang dipimpin oleh Presiden Sukarno, sempat memberikan aturan bahwa Cina tidak boleh memiliki hak milik tanah di Indonesia.

Mas Agus Sulistyo juga menambahi perihal hubungan Jawa-Cina.Dalam masa kolonial memang masyarakat di dibagi menjadi beberapa kelas oleh penguasa Hindia Belanda.Ada kelas eropa, cina dan inlander.Pribumi (inlander) menjadi kelas yang paling rendah.

Sejarahnya dulu H. Agus Salim ketemu dengan keturunan cina, waktu itu terjadi pada sumpah pemuda.Orang Cina itu mengungkapkan ujaran bahwa “dimana ada orang Cina disitu ada kemakmuran.” Tetapi kemudian istilah itu dibantah oleh H. Agus Salim, “bukannya kalau ada kemakmuran justru disitu Cina dating?tapi kalau kita sampai pada kesadaran esensial. Bahwa perbedaan kulit putih, kulit kuning, merah semuanya di lebur dalam kulit sawo matang.

Apa bedanya filosofi orang Jawa dengan orang Cina? Kalau orang Jawa mengatakan mangan ora mangan kumpul.Sedangkan filosofi orang Cina.Kumpul ora kumpul mangan hingga mereka diaspora ke banyak negeri orang untuk sekedar golek sangu kanggo mangan.

Gus Vito yang masih remaja, sekarang duduk di kelas XII di sebuah Sekolah Menengah Atas selalu hadir dalam Maiyahan Suluk Pesisiran tiap bulan, ia bertanya sekaligus menanggapi apa yang sudah disampaikan oleh Mas Agus Sulistyo, “ada satu kata yang ganjal dari Mas Agus tadi, saya baru saja mengalami Ujian Nasional, tapi setelah mendengar keterangan Mas Agus tadi saya berfikir bahwa yang saya alami ini bukan ujian nasional, tapi cobaan nasional. logikanya bagaimana? kalau dalam al Qur’an kita kenal ayat fas’alu ahladzikri inkuntum la ta’lamuun. (bertanyalah kepada orang yang sadar, andaikan kalian tidak mengetahuinya. Tapi kenapa dalam Ujian Nasional kita tidak boleh pertanya, padahal itu perintah al-Qur’an.

Menurut Mas Agus bahwa ujian berkaitan dengan proses belajar, dan dalam proses tumbuh dan berkembang. Dalam ujian hidup, saat kita menderita apakah tumbuh kesabaran kita, atau justru menurun kesabaran kita hingga mudah mengeluh.itulah ujian.

Ketika tidak ada pangan apakah kita merampok atau tidak, maling atau tidak.saat ada kesempatan apakah kita tetap bertahan atau tidak. itu namanya cobaan.Kita bertahan dalam suatu ruang yang terbatas, apakah kita lulus dari sebuah keadaan itu atau tidak.

Godaan artinya ketika kita puasa justru banyak makanan yang enak-enak yang coba menggoda daya tahan kita.Berbeda kalau tidak ada makanan sama sekali, sehingga kita harus berpuasa, hal itu merupakan ujian.

Ada sebuah aturan saat ujian, misalnya dalam ujian kita dilatih daya ingat, daya analisis.Kita mengikuti ujian daya ingat degan apa adanya. tanpa bekerja sama, karena kerjasama dalam ujian mandiri merupakan godaan. Godaan itu ada pada kita keputusannya bukan pada lingkungan.Kalau kita puasa maka kita bekerja sama untuk menahan diri. Kalau kita bekerjasama untuk makan maka itu yang dinamakanmukah.

setelah sedemikian panjang membahas Ujian, Cobaan, dan Godaan, Ributndleming, “ujian nasional itu tidak lebih seram dibandingkan dengan ujian hidup”.

Pada pukul 01.07 WIB Edi Kopi maju ke depan untuk mendendangkan musikalisasi puisi. Edi Kopi mengawali pembicaraannya dengan uluk salam, sembah nuwun, para narasumber mohon maaf. dulu profesi saya itu pegang mik tapi gak boleh ngomong. sekarang saya pegang mik dan belajar ngomong. Begitu sopannya Mas Edi Kopi menyapa para sedulur Maiyah.

Sebelum memuncaki acara seorang Habib muda diberi kesempatan untuk memberikan taburan hikmahnya, menurutnya “sangat menarik pembahasan kita.Sesungguhnya manusia itu rahasia dan Aku lebih tahu rahasianya.” kata Allah begitu.

man arafa nafsahu faqath arafa rabbahu. (siapa yang mengerti dirinya maka akan mengerti Tuhannya) kalau pakai logika tidak bisa maka kita harus memakai ruh. Antara ujian dan godaan.kadang kita tidak kenal mana cobaan dan mana ujian. Kadang cobaan dianggap ujian. padahal ada penempatannya sendiri. bahwa ujian diperuntukkan untuk orang yang akan naik maqamat. sing digedek-gedeke ilmu padahal sing biso ngelakoni kefahaman. harus ngrumangsani.

sebagai pesan-pesan menjelang akhir diskusi di maiyahan ini

Ribut Achwandi. “senyum adalah bagian dari dirimu. kalau kita senyum kita sedang menegaskan bahwa kita itu optimis.”

Mbah Turadi “kita berharap kepada adik-adik ini untuk menemukan jati dirinya ke depan. ojo wedinan, ojo gumunan, ojo dumeh.”

Mas Agus Sulistyo memberikan motivasi pada akhir sesi kepada para jamaah, “Mulai dari diri sendiri, sekarang, kerjakan yang bisa dikerjakan.Mungkin kita belum bisa mengerjakan semuanya.Maka mulailah dari tiap bagian yang mampu dikerjakan, dan kerjakan seutuhnya seutuhnya.Dari tiap bagian yg dikerjakan seutuhnya itu, bila terus dilakukan akan membentuk keutuhan secara keseluruhan.”

Jelang Akhir Mas Rizqi Rabbani menutup dengan lantunan ayat al Qur’an yang terdengar hingga sorga menggugah bidadari-bidadari yang sedang kesepian, dan beberapa shalawatan yang sudah akrab di maiyahan-maiyahan dilantunkan bersama-sama di tengah malam, suasana menjadi khusyu’.kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Muda, yang entah namanya siapa, saya belum sempat kenalan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran