PENDIDIKAN KELUARGA DI TENGAH WABAH COVID 19

oleh : Ahmad Saifullah

Pendidikan itu bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Ia bukan monopoli guru di sekolah, penyelenggaranya bukan hanya sekolahan. Setiap manusia yang berkumpul dalam rangka mengolah manusia untuk mengerti, memahami, mendalami, menyadari, mempraktekkan dan membiasakan nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai agama dan nilai-nilai dari Allah. itulah yang disebut pendidikan.

 
Orang tua yang mengajari anaknya cuci tangan dengan baik, agar ia mengerti memahami, mempraktekkan dan membiasakan kebersihan merupakan proses pendidikan dalam keluarga. Karena pemahaman dan pengertian itu dalam rangka menanamkan nilai yang disebut sebagai kebersihan. Bukankah annadlofatu minal iman (kebersihan sebagian dari iman).
 
Orang tua yang tiap pagi menemani anak-anaknya bal-balan di halaman rumah juga bisa dikatakan sebagai proses pembelajaran dalam rangka pendidikan. Karena orang tua sedang memproses transfer nilai keharmonisan, keegaliteran, sportifitas, dan kesehatan bersama anak-anaknya.
 
Apakah kita berani mengatakan Nabi tidak sedang mendidik cucunya Hasan Husain saat kakek dan cucu ini bermain mbek-mbekan? Ada sahabat yang lewat menyaksikannya dan berkata, “sebaik-baiknya tunggangan.” Nabi menimpali, “sebaik-baiknya penunggang.” Disana Nabi sedang berproses mendidik cucunya untuk bersikap ajer-ajur, tawadlu, dan kasih sayang yang bersama-sama dialami, bukan diteorikan.
 
Tapi sesungguhnya Ali sebagai ayah dari keduanya melihat semacam itu tidak tega, bahkan tidak kuasa melarang karena Nabi begitu bahagia bersama cucunya. Sampai kedua putranya usai bermain bersama Simbah, lalu Ali njewer menegur dan memberikan pengertian kepada keduanya bahwa hal semacam itu kurang sopan. Ali waktu itu juga sedang mendidik anaknya menanamkan nilai kesopanan agar dilakukan dihadapan kakeknya.
 
Nilai pendidikan ini diprioritaskan oleh Nabi, bahkan ketika ia melakukan ibadah ritual sekalipun. Dalam sirah Nabawiyah kita temukan beberapa riwayat bahwa Nabi kedapatan shalat sambil menggendong Zainab putrinya. Artinya ibadah mahdlah tetap disambi momong dan momong itu inti dari pendidikan.
 
Pada suatu waktu saat Nabi sedang berkhutbah sebelum shalat Jumat, datang Hasan Husain dengan pakain kembar berlari hendak menghampiri Kakek yang sedang di atas mimbar, kemudian kedapatan Nabi turun dari mimbar untuk menghampiri kedua cucunya dan menggendong mereka sambil melanjutkan khutbah.
 
Beberapa riwayat juga menceritakan tentang perihal Nabi yang mempercepat shalat saat mendengar tangisan anak. Dan memperlama sujud saat Hasan Husai menaiki punggung Nabi.
 
Itulah pentingnya pendidikah hingga ritual makhdzah pun tidak bisa menghalangi jalannya proses pendidikan kasih sayang bersama anak cucu.
 
Kalau kita memperlajari sirah Nabawiyah maka akan kita temukan bahwa keseluruhan hidup Rasulullah adalah pendidikan. Pendidikan itu dilakukan dalam segala bidang dan sektor kehidupan masyarakat.
 
Pada suatu kesempatan saat Nabi menerima surat ancaman balasan penyerangan dari Kafir Quraisy, setelah para kafir Arab itu mengalami kekalahan pada perang Badar. Maka Nabi mengajak musyawarah kepada para sahabat, bagaimana mengantisipasi dan rencana menghadapi tantangan perang balas dendam itu. Dalam musyawarah sebagian sahabat muda yang juga disemangati Hamzah bermaksud menghadapi Kafir Quraisy di luar kota Madinah, sedangkan Nabi sendiri sebenarnya lebih condong kepada pendapat agar bertahan di kota Madinah. Beberapa sahabat tua juga mendukung pendapat Nabi. Tapi kebanyakan musyawirin menghendaki untuk menghadapi di medan padang pasir. Maka Nabi dengan berat hati mengabulkan permintaan mereka. Hingga terbukti bahwa kaum muslimin akhirnya mengalami kekalahan dalam perang Uhud.
 

Peristiwa kekalahan di perang Uhud merupakan proses pendidikan yang ditempuh Nabi bersama sahabat-sahabatnya. Para sahabat dididik oleh Allah dengan turunnya firman Allah QS. Ali Imran: 165

اَوَلَمَّا اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
 
Karena sebelumnya para sahabat, khususnya pasukan pemanah melanggar pesan Nabi agar tidak hengkang dari tempatnya di jabal rahmah. Mereka kepencut dengan memperebutkan rampasan perang (ghanimah) hingga mereka tidak mengingat arti pentingnya sami’na wa’atho’na kepada pimpinan.
 

Pada peristiwa itu Nabi juga dididik oleh Allah melalui firmannya QS. Ali Imron: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِيْنَ
 
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
 
Secara basyariah Nabi kecewa atas penghianatan para sahabat pemanah, juga ia kecewa karena beberapa peringatan mimpi Nabi sebelum perang uhud yang mengindikasikan kekalahan kaum muslimin direspon para sahabat dengan semangat membabi buta, karena masih ada nuansa euphoria kemenangan saat perang badar.
 
Tapi kekecewaan itu di pupuskan oleh Tuhan dengan turunnya Firman Allah tersebut. Tetap disuruh memaafkan dan memitakan maaf kepada mereka. Nabi didik oleh Tuhan untuk tetap berbesar hati atau atine tetep nyegoro.
Jadi bagi guru yang tidak memberikan pembelajaran online (daring) untuk siswa-siswinya di saat lockdown juga sedang dalam rangka menyadari bahwa anak-anak bersama orang tuanya juga sedang mengalami pendidikan. Dan memberikan kesempatan orang tua bersama mengalami pendidikan di rumah tangga.
 
Dalam pendidikan keluarga khususnya, juga di lembaga pendidikan umumnya ketika melakukan pembelajaran seharusnya semangatnya sinau bareng, bukan KBM (kegiatan belajar mengajar). Karena dalam proses pembelajaran dimanapun pengertian guru dan murid itu sangat relative.
 
Saya sering belajar dari anak saya tentang tajamnya memori ingatannya. Ketika saya mendongeng, atau berkisah tentang sahabat, seringkali anak saya mengingatkan tentang nama tokoh yang keliru saya ucapkan, dan bahkan tentang alur cerita yang kurang pas. Ternyata sebelum mendengar kisah dari Bapaknya ia sudah lebih dulu menyaksikannya di Youtube.
 
Bahkan saat saya kelamanaan menggunakan laptop, dan agak lupa waktu shalat. Anak saya nomer dua seusia 6 tahun tiba-tiba menyentuh laptop. Dan ia nerocos memperingatkan ayahnya, “wes yah. Wis panas laptope, ayah juga durung shalat kan?” begitu dalam pendidikan keluarga, seorang ayah dan ibu juga seringkali sebagai ‘murid’ dari anak-anaknya.
Bagikan:
, ,