Muliho

Ketika penciptaan awal manusia ada semacam perjanjian primordial dengan Tuhannya. Waktu itu Tuhan sempat bertanya kepada manusia “bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Semua manusia membenarkannya “Benar (Kamu adalah Tuhan kami) Kami menjadi saksi”. Konsekwensi dari perjanjian itu manusia secara mutlak menempuh hidupnya sebagai hamba (pengabdi Tuhannya). 

Sering dilemparkan pertanyaan oleh Mbah Nun kepada jamaah maiyah, kalau kita sebagai makhluk dihadapan Khaliq layaknya lukisan, mungkinkah kita melukis diri kita sendiri? Layaknya lukisan, maka goresan tintanya, arsir guratannya, komposisi warnanya, semua-mua hak prerogatif Khaliq. Posisi manusia sebatas menghiasi diri dengan pertanyaan apa dan bagaimana menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Khaliq? Pertanyaan itu yang menjadi pengeling perjalanannya. Kiasan sama yang sering kita dengar dari Mbah-Mbah kita dulu, ia mengibaratkan manusia layaknya wayang, hanya menjalani apa yang diskenariokan dalang.

Untuk menguji kehambaannya, manusia selain dimodali akal, ia juga disemati nafsu. Nafsu bisa terdidik dengan kesadaran ruhaniyah hingga mencapai muthmainnah. Juga tak pelak nafsu dapat mengendarai manusia sampai akalnya sebatas menjadi pembenar bagi kelangsungan nafsunya. Hingga Tuhan sendiri berfirman “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

Puasa sebagai laku hidup mengajak manusia untuk memberikan jarak kepada nafsu amarah yang kecenderungannya kepada keburukan. Menjauh darinya akan mendekatkan diri pada Tuhannya. Karena nafsu amarah dan lawwamah merupakan hijab manusia dengan Tuhannya. Manusia yang berasal dari Tuhan, ia diberikan kesempatan untuk mbolang selama di dunia menapaki berbagai macam ujian. Apakah manusia menghadapinya dengan dominasi nafsu amarah? Atau ia merajai dirinya dengan Akal? Perjalanan bolak-balik akal-nafsu ini telah mendidik manusia dalam ngegas-ngerem selama dalam perjalanan hidup sejengkal ini. Apakah ia selalu berusaha untuk terus kembali (muleh) kepada Tuhannya, atau ia lupa sangkan parane dumadi?
Muleh agar kamu Pulih.

*Ide: Riul Fahmi

Bagikan:
,