Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : Sihir Modern

#maiyah #MSPMaret

Maiyah Suluk Pesisiran : Sihir Modern, 12 Maret 2019

Sihir diserap dari bahasa arab, dari lafadl الِّسِحْرُ yang secara bahasa berarti segala sesuatu yang tersembunyi pengambilannya. Sedangkan menurut Al-Azhari sihir berarti memalingkan sesuatu dari hakekat aslinya kepada bentuk lainnya.

Kaitannya dengan makna sihir yang kedua, misalnya dalam bahasa ada pembelokan dari makna denotasi, kepada makna konotasi. Saya jadi mengatakan bahwa sihir modern pertama terletak pada sihir kata. Atau kalau dalam istilah bahasa ada denotasi dan konotasi. Suatu malam melalui pancaran ilmu dari Kang Ribut saya jadi sedikit tahu tentang denotasi dan konotasi. Menurut beliau, denotasi makna pokok dari setiap kata. Misalnya kalau dibilang merah berarti warna. Sedangkan konotasi pemaknaan kata yang berkaitan dengan ruang dan waktu. Kalau kedapatan lampu warna merah bersanding dengan kuning dan hijau di perempatan jalan, maka makna merah berarti berhenti.  Beda lagi ketika merah bersanding dengan putih di ujung tiang bendera. Ada yang memaknainya sebagai merah berarti berani.

Taruhlah kata yang sekarang sedang menyihir kita: Khilafah. Tentu kita merujuk makna denotasi pada ayat Allah yang mengatakan انى جاعل فى الارض خليفة  “Aku akan menciptakan di muka bumi seorang khalifah” Subyeknya disebut khalifah, sedang predikatnya dinamai sebagai khilafah. Sebagian orang memaknai khalifah sebagai penggantinya Allah di muka bumi. Atau lebih mudahnya ‘kepanjangan tangannya Allah’. Kalau Allah menciptakan air dan tanah, maka petani kepanjangan tangan Allah mengkhilafahinya menjadi sawah. Allah menciptakan rambut, tukang cukur mengkhilafahinya dengan merapihkannya. Dst. Jadi mengandung makna denotasi bahwa setiap manusia pelaku khilafah.

Pada perkembangannya makna khilafah ditimpa konotasi-konotasi yang tentunya mengalami penyempitan makna. Khilafah mengonotasi menjadi system kenegaraan, system pemerintahan, khilafah menjadi idiologi. Sampai kepada konotasi yang paling sempit: ketika disebut khilafah langsung merujuk kepada ormas tertentu. Ketika kita tersihir pada konotasi yang sempit, melupakan makna denotasinya. Kita tidak ingat lagi bahwa khilafah itu idenya Tuhan. Sehingga tanpa disadari kita tersihir untuk membenci ide Tuhan.

Ada ratusan kata yang menyihir kita akhir-akhir ini: syariah, pluralisme, nasionalisme, toleransi, terorisme, kekerasan, ujaran kebencian, ungkapan tidak menyenangkan, kafir, bid’ah, pembangunan, feminisme, kiri, kanan, liberal, dst. Kata-kata itu yang fungsi utamanya adalah untuk memecah belah. Waspada kepada setiap kata untuk ngarekso ing maknane.

Untuk mengembalikan kesatuan dan menghindari perpecahan kita harus memperbanyak jomblo. Karena berdirinya bangsa ini disebabkan bersatu, bukan berdua.

Tempat Pelaksanaan :

Majelis Masyarakat Maiyah: SULUK PESISIRAN | SIHIR MODERN | Selasa, 12 Maret 2019, 20:00 WIB | Gedung Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran