Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : OPO-OPO KERSO

#Mukodimah #MSPJuni

Suatu hari keluarga keong bertandang mengadu kepada sesepuh keong, perihal datangnya bulan puasa.

“Terus terang kami prihatin dengan datangnya bulan puasa Mbah”

“lho bulan puasa datang kok malah prihatin, kenapa? Bukannya yang diwajibkan puasa bukan Kita, tapi orang-orang beriman”

“Justru Itu Mbah kami prihatin, kenapa kalau orang-orang beriman, yang katanya gemar menyebarkan keamanan tapi kalau bulan puasa kok menebar teror pada keluarga kami. ”

“Maksudmu gimana tho?”

“Simbah kan tahu, kalau setiap saat jelang Ramadan kita semua prihatin karena bak menunggu giliran setor nyawa dihadapan algojo. Terjadi genosida besar-besaran terhadap etnis kita.” Simbah keong tercenung, bahkan tiba-tiba wajahnya pucat pasi.

“Kenapa Mbah, tiba-tiba wajah Simbah tampak khawatir, membicarakan soal manusia ini.”

“Iya aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti mulut manusia nyucrup bol ku. Betapa sadisnya manusia.”

“Anehnya genosida etnis kita terjadi Pada setiap bulan puasa yang katanya setiap manusia menahan diri untuk tidak makan dan minum.”

“Kalau begitu apakah manusia sebenarnya puasa atau pura pura berpuasa Mbah?”

“Ya sulit sih mendeteksi manusia, karena makhluk satu ini makhluk yang paling gak tentu, kelihatannya berpuasa tapi kenyaannya justru tidak. Kebanyakan manusia sahur dan berbuka, tetapi justru konsumsi terus bertambah, bakul tambah, serba laris kabeh. Tapi bagi sebagian manusia itulah keberkahan.”

Tiba-tiba gerombolan Keong itu saling sahut

“Keberkahan bagi sebagian manusia adalah bertambahnya bisyaroh, karena undangan sebagai penceramah bertambah”

“keberkahan adalah numpuknya THR”

“Keberkahan adalah tumpukan amplop, kare banyak BOS yang bagi-bagi zakat”

“keberkahan adalah mengeksploitasi makhluk lain untuk keserakahan syahwatnya”

“keberkahan itu serba laris manis di bulan ramadhan ini.”

“keberkahan itu, apapaun jenis makanannya harus terus bertambah, dan manusia siap menghabiskan.”

“Keberkahan itu pesta pora penghabisan jatah rizki anak cucu manusia. Hingga alam rusak karena kerakusan”

“Keberkahan itu perlombaan belanja yang manusia inginkan, bukan yang dibutuhkannya.”

“Keberkahan itu eforia nyandang di tengah korban bencana”

“hayo apalagi kalian mendefinisikan keberkahan manusia” saking gemesnya Simbah keong interupsi.

Keong Mas juga berteriak

“Keberkahan itu ngetung bati terus. Ora ngetung kewajiban”

“Wis, wis, wis dicateti wae nanti tak sampaikan ke manusia,” agaknya simbah Keong kelelahan mendengarkan protes rombongan keong itu.

Mbah keong memungkasi keluhnya, “suwe-suwe tak pikir-pikir POSO iku Opo-opo Kerso.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran