Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : Ngavatari Dunya

#Mukadimah #MSPMei

Mendengar kata Avatar (awatara) barangkali yang terbesit dibenak kita adalah tokoh yang terpilih dengan kekuatan yang dianugrahkan padanya sehingga dia dapat mengendalikan elemen yang ada dibumi, baik tanah, air, api dan udara. Dengan kekuatanya ia ditugasi untuk menjaga keseimbangan, dengan memerangi kekuatan jahat dan kembali menata perjalanan kehidupan menjadi seimbang.

Baik menyeimbangkan yang hanya berjalan maupun mencegah ketidakseimbangan agar tidak menjadi kian rusak. Dalam konsep spiritual penyeimbang tersebut disebut dengan avatar (awatara) yang mana Tuhan sebagai entitas pelindung memaujudkan sifat Rubuiyah menjadi Jasadiyah dalam kehidupan, memaujudkan dalam artian tidak secara fisik namun pada sifat-sifat manusia utusan.

Pergolakan-pergolakan ini sebenarnya sangat dibutuhkan bagi manusia sebagai sarana untuk mempertahankan eksistensi dan fungsi dirinya di bumi. Namun banyak manusia ditengah pergolakan tersebut menjadi limbung, lupa diri dan terperosok dalam pusaran pergolakan atau bahkan memilih untuk terlempar di pinggiran kehidupan sehingga lupa pada fungsi dirinya sesuai dengan keinginan Sang Pencipta.

Dalam skala individu awatara adalah “sekolah” kehidupan yang memberikan pendidikan kearifan hidup yang hasilnya dapat dinikmati oleh siapa saja karena didalamnya terdapatnya semangat untuk menjaga, merangkai atau paling tidak adalah menyejukkan agar kerusakan tidak menjadi kian membesar. Dari individu inilah semuanya dimulai, karena dalam filsafat jawa pada hakikatnya individu adalah jagat besar yang tugasnya adalah melindungi jagat kecil (semesta). Sebelum berperan sebagai pelindung dan pengayom jagat kecil, maka setiap orang harus berani berperang melawan dirinya sendiri, baik itu berbentuk pikiran, nafsu maupun keragu-raguannya sendiri. Sebab seperti yang pernah disampaikan Rasulullah seusai perang badar, “Kalau menang itu berhubungan dengan peperangan/pertarungan, maka perang terbesar adalah menang terhadap nafsu sendiri”

Bicara dalam konteks kekinian, Maiyah Suluk Pesisiran mengambil tema sebagai ruang belajar dan sinau bareng dengan tema “Ngavatari Dunya”, 12 Mei 2018. Dengan tema “Ngavatari Dunya” kita mencoba melihat diri serbagai pengendali nafsu dalam diri masing masing, guna menjalankan tugas sebagai khalifah. Belajar menterjemahkan dan menjalankan visi kehidupan dunia, dengan konsep rahmatan lil alamin, bukan mengendalikan dalam konotasi ekspoitasi Alam dengan penguasaan harta, tahta, ekonomi, serta sumber daya alam untuk pemenuhan hasrat keserakahan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran