Maiyahan Mukadimah

Mukadimah : Masyarakat keSemutan

#maiyahan #MSPAgustus 2018

Seorang sejarawan meriwayatkan dulu sebelum ada masyarakat, relasi interaksi manusia mengikuti kaidah kawula-gusti. Artinya hubungan manusia tidak dibangun atas dasar kesadaran saling membantu, tapi menguasai. Manusia seakan menerima takdir terlahir sebagai manusia kawula yang kalah selamanya, disisi lain ada sebagian manusia jumawa menduduki struktur sosial gusti.

Melihat kenyataan tersebut, Syaikh Siti Jenar gelisah, hingga bercita-cita merealisasikan perkampungan yang membangun hubungan manusianya berdasarkan kerjasama atau dalam bahasa arabnya disebut masyarakat.
Lahirlah perkampungan lemah abang. Yang kemudian disebut sebagai cilkal bakal lahirnya masyarakat. Kesetaraan, gotong royong, kerjasama, taawun sebagai dasar nilai terbentuknya bangunan masyarakat.

Layaknya budaya yang lahir dari rahim sejarah, masyarakat mengalami kelahiran, perkembangan, kejayaan, penuaan, kerapuhan dan kehancurannya.

Mungkin sebagian orang bertanya tentang posisi masyarakat sekarang? Apakah ia pada tahap berkembang? Atau justru masyarakat telah rapuh, bahkan sudah mengalami disfungsi, sebagai mana negara.

Semua orang bisa melihat bahwa nilai-nilai dasar masyarakat sudah mulai pudar. Hilangnya budaya rewang dalam setiap hajatan; menipisnya budaya gotong royong, kerja bakti ngunggahke molo, gugur gunung, dll. Merupakan indikasi bahwa eksistensi masyarakat bisa dipertanyakan.

Bahkan sudah puluhan tahun lalu Empunya Penyair Umbu Landu Paranggi sudah mengisyaratkan tentang hilangnya nafas kehidupan nilai kemasyarakatan di kota metropolitan, dengan istilah “apakah masih ada angin di Jakarta?”.

Kalau keberadaan masyarakat saja kita anggap sudah rapuh, lalu bagaimana dengan masyarakat kesemutan? Atau masyarakat yang bermaksud menerapkan nilai-nilai yang dipraktekkan oleh semut.

Semut binatang yang sering dianggap remeh karena ukurannya. Justru sering diremehkan itu pula semut juga tak pernah mengenal kata punah, apalagi mengalaminya.

Semut, sebagaimana lebah dan rayap hidup berkoloni membangun sistem peradabannya sendiri. Misalnya mereka mengenal kepemimpinan hingga mempercayai ratu. Membuat sistem negara hingga beberapa diantaranya siap menjadi tentara kalau dibutuhkan. Mereka membangun peradabannya hingga ada beberapa semut disebut sebagai pekerja.

Banyak nilai nilai baik yang diajarkan semut, hingga manusia patut mencontoh. Kalau ada yang bertanya mosok manusia kok belajar sama hewan? Maka Justru hampir sebagian besar kebudayaan manusia itu mencontoh hewan.

Lupakah kita bahwa burung gagak telah mengajari Qobil mengubur Habil? Maka patut kita pelajari organisme peradaban semut ini, barangkali menjadi ikhtiar terapi tentang rapuhnya masyarakat.

(kngasp)

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran