Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : Manjing Ajur Ajer

Maiyah Suluk Pesisiran edisi April 2018
#Mukadimah #SPApril

Gelaran sejarah menginformasikan kepada kita bahwa hasil perkembangan ajar manusia secara fisik tidak pernah berjalan mundur. Perkembangan tersebut bahkan lama kelamaan menjadi tuntutan tiap generasi, salah satu tujuan dituntutnya manusia berkembang adalah, manusia mampu mempertahankan eksistensi dirinya agar tidak hilang seiring pergulatan kehidupan.

Kemampuan manusia untuk mendapatkan informasi melalui akal pikiran yang kemudian diolah menjadi perangkat-perangkat ilmu pengetahuan guna membantu, meringankan teknis-teknis kerja manusia serta menelisik tabir kehidupan yang merupakan salah satu poin penting atas jaminan diangkatnya derajat manusia oleh Allah dibanding makhluk lain ciptaanNya.

Kemampuan manusia mengolah, yang sudah tidak lagi sekadar mengidentifikasi, membuat manusia pada akhirnya cenderung mengubah yang berada di alam, dari sekadar mengidentifikasi dan dimanfaatkan oleh umum menjadi disorientasi, bergeser menjadi mengumpulkan, menguasai dan memonopoli. Bahkan, manusia saling mengkanibalisasi sesamanya, mengamankan diri dan keturunannya dengan beragam cara, salah satunya dengan menumpukan benda sebagai aset efek selanjutnya. Dan yang terjadi pada titik berikutnya adalah manusia memasuki gelombang peradaban lupa, seolah manusia lalai bahwa sebenarnya aspek kepemilikan dan penguasaan tidak pernah ada secara mutlak. Padahal sesungguhnya manusia tidak memiliki klaim kepemilikan secara mutlak.

Kalau kita kupas lebih detail dalam bahasan agama, proses awal Adam menjadi khalifah adalah dengan diajarkannya mengenali ciptaannya, yaitu dengan diperkenalkan nama-nama benda. Kalau boleh kita tafsiri semua itu adalah pengidentifikasian, pemetaan fungsi, manfaat dan tujuan, serta proses inventarisasi atau pendokumentasian. Semua proses Adam inilah bisa kita sebut dengan proses ajar. Kehadiran para nabi serta para ahli hikmah masa lampau seakan memperingatkan bahwa seharusnya manusia tidak hanya berhenti dari ajar saja, namun juga berusaha untuk ajer.

Ajer di sini adalah melebur dalam fungsinya manusia diciptakan. Ajer dalam asma-asma Allah dalam penyelenggaraan kehidupan. Untuk menuju kemampuan ajur inilah kanjeng nabi Muhammad dibekali oleh Allah dengan wahyu iqra bismirobbikika sebagai pembuka misi kenabiannya agar ajarnya itu makhluk bernama manusia tidak melantur ke mana-mana atau bahkan berhenti di tingkat ajar saja. Namun juga mampu pada tingkatan ajur dan ajer, agar manusia berada pada tingkat selamat dari unsur-unsur kejahatan atau hal-hal yang tidak perlu, yang ada dan tumbuh di dunia ini. Serta lebih jauh dari itu agar tumbuh kebajikan yang harus selalu dipupuk dengan baik oleh manusia dari sifat-sifat rabbani untuk mengubah keburukan menjadi kemuliaan.

Di samping itu, kutipan dari bahasa Jawa yang berbunyi “manjing ajur ajer” dimaknai sebagai sebuah pembelajaran untuk melebur dan mencair. Makna melebur seringkali kita pahami berkonotasi negatif, yaitu rusaknya sesuatu, hancur, dan sejenisnya.

Ajur kemudian ajer yang kita pelajari dari peleburan di sini adalah kita belajar untuk menghancurkan ego pribadi, ingin menang sendiri, ingin diakui sebagai yang paling benar, yang pada titik berikutnya mampu menumbuhkan kesadaran ruhaniah, yaitu meleburnya kita sebagai manusia dengan alam semesta, yang seharusnya kita mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan di mana kaki berpijak. Kita menjadi mengenal fitrah manusia sebagai makhluk yang mengalir, namun tetap waspada terhadap perkara yang menghanyutkan.

Kita bisa belajar dari air yang mengalir mengikuti ketetapanNya, namun sekaligus mampu menguasai diri, secara dinamis, meskipun berbenturan dengan hal-hal keras, kita tetap menjadi utuh dan tidak mudah hancur lebur. Tidak pula menjadikan siapapun yang berbenturan dengan kita mengalami kerusakan.

Pada puncaknya membangun kesadaran akan siapa kita sebagai manusia, dan juga mampu menumbuhkan kesadaran ruhaniah, bahwa kita sudah semestinya mau belajar menghancurkan sifat batu yang keras (acuh tak acuh), sifat nabatiah yang hanya memakmurkan diri sendiri (egois), sifat hewaniah yang didominasi nafsu syahwat (kerakusan), sifat insaniah (merasa bimbang, ragu, plin-plan, gampang mengeluh), sifat iblis (sombong, suka mengganggu, jahil, zalim), dan juga sifat malakut (merasa diri paling suci).

Semua sifat tersebut menjadi penghalang bagi kesadaran ruhaniah kita. Yang selayaknya kita berangus dan gilas agar mampu mencapai kesadaran ruhaniah yang sejati. Dengan berbekal kesadaran itulah kita kemudian mengimplementasikannya untuk menghadapi perkembangan zaman. Segala hiruk-pikuk yang kita saksikan sehari-hari, semuanya harus dihadapi dengan penuh kesadaran tertinggi yang kita pelajari. Sehingga, kita sebagai manusia mampu menjadi khalifah, bijaksana menghadapi apa pun bentuk kezaliman yang berkembang pesat diproduksi oleh sebagian penduduk bumi.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran