Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : KETLINGSUT KAHANAN

#Maiyahan #MSPFebruari

Sekarang tengah memasuki bulan paruh tengah akhir dalam hitungan anak-anak gembala, penanggalan yang tidak pernah tertulis dan diakui penanggalan julian modern. Kalender yang hanya ada dari hasil membaca siklus alam dan perubahannya, dan entah bisa bernama apapun terserah siapa dan sudut pandang mana melihatnya, termasuk andapun bebas menamakannya sesuka hati anda. Badai melanda desa, awan mendung mengangkat debu-debu di kaki dieng. Tak banyak terlihat detak kehidupan orang-orang yang biasa lalu Lalang diantara lembah yang mulai menghijau kembali sehabis dilumat musim panas berkepanjangan tahun itu, yang tersisa hanya tetumbuhan dan serangga dan beberapa binatang yang bebas beraktivitas tanpa terpengaruh oleh musim atau apapun. Kembali pada lembah itu, musim peralihan tak ubah adalah proses pembaharuan sistem yang berlangsung alamiah dibawah Kendali Sang Maha Kuasa. Hujan berkepanjangan, kelabu langit yang Kadang membawa petir, angina yang berhembus kencang yang berlangsung sporadis, dengan kegaduhan disana sini, bahkan banyak mulut di luaran lembah yang berucap ujian, cobaan bahkan tak sedikit yang bilang adalah kutukan, azab dan sebagainya, walau ada juga yang mengatakan bahwa saat alam menawarkan sisi romantismenya kepada manusia . Untuk Manusia lembah, peralihan yang sedang melanda lembah adalah musim beristirahat, musim menepi, saat yang tepat untuk menyingkir sejenak dari kegaduhan aktivitas bercocok tanam dan berladang. hidup yang sangat bergantung dengan alam tentu dibutuhkan pula waktu jeda bagi alam untuk memulihkan dirinya sendiri yang mana tak perlu campur tangan manusia. Alam punya cara sendiri membuat dirinya pulih. Menghijaukan kembali padang rumput, menumbuhkan tunas menjadi bakal pohon, memproses kelahiran generasi baru layaknya Rahim ibu. Demikian pula untuk anak-anak lembah, kondisi seperti ini adalah hal biasa yang akan membuatnya lebih paham dan handal membaca alam dengan segala gerak gerik kegenitannya. Anak-anak akan tetap bermain, berlari sana-sini, menjalani dengan kegembiraan dan bahkan siapa tau menjadi ajang permainan baru mereka. Perubahan, peralihan, geger kahanan tak perlu ditafsiri yang macam-macam sehingga membatasi kegembiraan mereka. Gembira ya gembira, tanpa perlu syarat apapun, tanpa perlu embel-embel apapun, ya bergembira saja. Kalaupun cuaca semakin menunjukkan keekstrimannya, bagi anak-anak lembah ya tinggal menyingkir, meneduh, menelingsut diantara tumpukan bantal tempat tidur atau bersembunyi dibalik selendang kain yang dibentangkan, ditata sedemikian rupa diimajinasikan sebagai rumah-rumahan atau kegiatan apapun di dalam rumah mereka masing-masing. Tetap menyalakan pelita kegembiraan tanpa harus merasa kehilangan apapun. Maiyah mengibaratkan bocah kecil tadi, perubahan, geger-geger kahanan atau apapun namanya bukan sesuatu yang perlu diheboh-hebohkan, diblow up sedemikian rupa sehingga seolah mencekam, penuh terror dan sebagainya lantas menghilangkan kegembiraannya. Yang dibutuhkan adalah kuda-kuda kesigapan Nlingsut ketika kahananan alam sudah sedemikian ekstrim sehingga ketika pancaroba berakhir, kita tetap bugar dalam kegembiraan seperti anak-anak lereng itu.
Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran