Maiyahan Mukadimah

Mukodimah : Anak Gembala

#Maiyahan #MSPJanuari

Hampir semua Nabi ditakdirkan menjadi manusia penggembala. Bahkan, Nabi Muhammad sendiri menegaskan “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, kecuali telah menggembalakan kambing.” Dalam satu riwayat, ketika Nabi Muhammad SAW hidup bersama keluarga Halimatus Sa’diyah di bani Saad telah menggembalakan kambing. Konon presiden Soeharto, Mbah Nun juga seorang penggembala kambing.

Mungkin di benak kita muncul pertanyaan, apa maksud Allah menakdirkan seorang Nabi menjadi penggembala kambing. Apakah menggembalakan kambing ini merupakan metode latihan, didikan, penyiapan para Nabi, agar nanti bisa tatag teteg dalam menghadapi umatnya? Dalam terminologi Jawa, penggembala disebut sebagai Bocah Angon, sebuah ilmu yang harus dikaji kembali, mengingat banyak fenomena kehancuran manusia disebabkan fase cah angon ini kerap dilompati, dilewati, bahkan dihilangkan dalam upaya persiapan pendewasaan akal dan rasa sebagai manusia. Penghilangan fase ini bisa saja diakibatkan oleh pergeseran tata kehidupan masyarakat masa kini. Semula, masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat agraris. Kini berubah wajah menjadi masyarakat industri. Seiring perubahan itu, istilah cah angon ditanggalkan karena dipandang ketinggalan zaman. Pekerjaan menggembalakan ternak pada akhirnya disepelekan dan perlahan terhapus dari kamus kehidupan. Meski demikian, sejatinya pekerjaan ini adalah pekerjaan besar. Di dalamnya, tidak sekadar bagaimana menjaga ternak dari ancaman pemangsa, melainkan pula berkaitpaut dengan kecakapan hidup. Kemampuan membaca musim dan cuaca, kemampuan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk Allah, kesanggupan untuk bertanggung jawab atas nasib binatang ternaknya, kecakapan mengkalkulasi kebutuhan dan persediaannya, kesigapan diri dalam menghadapi setiap perubahan cuaca dan keadaan, dan sebagainya. Inilah yang pada akhirnya membuat terminologi cah angon begitu dekat dengan konsep kasih sayang. Bahkan telah terejawantahkan melalui fungsi dan perannya. Tentu akan indah jika terminologi cah angon diaplikasikan ke dalam kehidupan, baik di tengah keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat, serta di dalam kesemestaan ini. Mungkin (karena memang belum bisa memastikan) meningkatnya angka perceraian pasutri, bertambahnya jumlah anak jalanan, tingginya angka penyalahgunaan narkoba, dan sex bebas merupakan fakta yang diakibatkan oleh hilangnya fase cah angon. Sebab, pada dasarnya, fase ini mengajarkan pada kita tentang keharmonisan dan keselarasan hidup. Orangtua ngangon keluarganya, tokoh masyarakat ngangon warga kampungnya, aparat pemerintah ngangon masyarakatnya. Artinya, semua butuh harmoni agar menemukan larasnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah hanya cukup itu makna cah angon? Apakah ada makna yang lebih mendalam dan luas? Mari kita temukan bersama, kita gali lagi lewat pengalaman-pengalaman hidup. Dan di Maiyah Suluk Pesisiran ini, mari kita tuangkan bareng pemahaman dan penghayatan kita untuk selanjutnya kita pelajari bareng-bareng. Sinau bareng.

Tempat dan Agenda Majelis Masyarakat Maiyah: SULUK PESISIRAN | ANAK GEMBALA | Sabtu, 12 Januari 2019, 20:00 WIB | Gedung Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. #MSPJanuari
Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran