Maiyahan Mukadimah

Mukadimah : Sorban Muhammad

#Maiyah #MSPApril

Sorban Nabi, dalam sejarah pernah menjadi saksi tentang bagaimana Muhammad yang masih muda usianya, tampil sebagai sosok yang bijaksana. Banjir melanda kota Makkah. Bangunan Kakbah mesti dipugar. Masalah muncul kemudian. Orang-orang berebut atas klaim hajar aswad. Sengketa tak bisa dihindarkan. Semua merasa berhak. Paling berhak.

Sebelum kisruh itu kian meruncing, Muhammad muda tampil ke tengah-tengah para pemuka kabilah Quraisy. Adalah Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi yang memberi usul agar Muhammad bin Abdillah yang mengadili perkara peletakan Hajar Aswad. Diusulkan pula agar Muhammad-lah orang yang pertama kali memasuki Masjidil Haram melalui Bab Al-Shafa kala itu. Kesepakatan tercapai. Semua setuju.

Maka, tampillah sosok lelaki yang anggun ini di antara mereka. Di tengah-tengah mereka, Beliau tak lagi menggunakan adu argumen yang berkepanjangan. Tidak juga menggunakan pikiran-pikiran yang rumit atau malah dirumit-rumitkan. Metode yang dijalankan hanyalah dengan menghamparkan kain sorbannya di atas permukaan tanah. Ya, hanya itu.

Lantas, Beliau memberikan bagian masing-masing kepada para pemuka kabilah untuk memegang tiap-tiap ujung kain itu dan bersama-sama mengangkatnya untuk membawa Hajar Aswad ke tempat semula. Semua menurut. Semua sama-sama melaksanakan apa yang diminta. Semua pun merasa lega. Tidak ada lagi cekcok berkepanjangan.

Cara sederhana ini begitu ampuh. Mampu menghindarkan pertikaian yang bisa saja berujung pertumpahan darah sesama penghuni tanah Arab, kala itu. Tetapi, mari kita tengok sejenak, mengapa bisa begitu ampuhnya cara yang mungkin bagi sebagian cerdik cendekia dianggap sebagai cara yang sulit dinalar itu? Sebab, barangkali saja, bagi sebagian cerdik cendekia kekinian, urusan melerai konflik itu mesti berjalan alot. Harus diwarnai perdebatan, riset dan kajian yang mungkin akan memakan biaya mahal, penyampaian argumentasi yang berhalaman tebal, pengajuan usulan-usulan yang bisa saja memakan waktu teramat lama, visi misi, dan sebagainya, dan sebagainya.

Inilah yang menjadi soal untuk kita temukan jawabannya. Tetapi, bisa jadi akan ada beragam kemungkinan jawaban. Apalagi ketika peristiwa itu kita baca dalam konteks kekinian.

Jika dahulu, Kanjeng Nabi meletakkan kain dan memfungsikan selembar kain untuk melerai konflik, mengapa di masa sekarang ini lebih banyak orang mengangkat tinggi-tinggi helai-helai kain justru untuk menumbuhkan, atau bahkan memperuncing konflik? Jika dahulu, Kanjeng Nabi meletakkan kain dengan mendasarkan pada fungsinya, mengapa di masa kini orang-orang cenderung meletakkan fungsi kain sebagai sesuatu yang “disakralkan”, sampai-sampai hilang kesadaran kemanusiaannya? Jika dahulu, Kanjeng Nabi meletakkan kain untuk mencegah pertumpahan darah, mengapa di masa sekarang ini cenderung banyak orang menggunakan kain itu untuk membalut luka atau mengusap air mata?

Kurang pintar apa kita hari ini? Kita bisa mendirikan pabrik-pabrik tekstil di mana-mana. Kita bisa memproduksi kain berjuta-juta helai. Berbagai mode pakaian juga bisa dihasilkan dari jutaan lembar kain itu sebagai pembungkus tubuh, gaya hidup, bahkan simbol-simbol identitas. Tetapi, bisakah kita mengurai persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini dengan hanya selembar kain?

Dan bukankah, pada akhirnya, setiap manusia, tubuhnya akan kembali pada tanah dibungkus dengan selembar kain?

Mengenai ini, ada satu riwayat yang demikian romantis. Ketika Sayyidah Khadijah menjemput ajalnya, beliau meminta agar putrinya, Fatimah Azahra, meminta kain sorban ayahnya sebagai kain kafan untuknya. Di saat bersamaan, turunlah Jibril membawa lima helai kain kafan. Dikabarkan kepada Kanjeng Nabi, bahwa kain kafan itu untuk Beliau, istri Beliau, putri beliau, juga untuk menantu dan cucu beliau. Sedang Husain, tidak berkafan. Sebab, sebagaimana dikabarkan Jibril, Husain di kemudian hari, wafat dalam keadaan tanpa kafan dan juga tanpa dimandikan.

Ya, sorban Nabi adalah saksi sejarah sekaligus pelaku sejarah. Lantas, bagaimana kita memaknainya?

Tempat Pelaksanaan :

Majelis Masyarakat Maiyah: SULUK PESISIRAN | SORBAN MUHAMMAD | Jum’at, 12 April 2019, 20:00 WIB | Gedung Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran