Maiyahan Mukadimah

Mukadimah : PETA DIRI

#Maiyahan #SPSep 2019

Suatu hari Raja Hutan mengadakan lomba. Semua warga rimba harus mengikuti setiap lomba. Ada beberapa lomba yang diadakan: menyelam, lari, memanjat, terbang, berenang. Sebenarnya warga rimba tidak begitu setuju, karena mereka merasa ada beberapa lomba yang mustahil diikuti. Kancil sempat protes kepada Raja, “Atur pangandikan Gusti, Apakah mungkin saya mengikuti lomba menyelam dan berenang?” “Gak usah ngeyel ikuti saja semua lomba, barangkali kamu punya kemampuan terpendam.” Kancil hanya terpekur mengangguk dengan terpaksa. Kemudian ia mengikuti saja lomba menyelam. Ia benar-benar tak mampu menyelam. Demikian juga pada lomba terbang. Bahkan si burung sempat mengejek, “aneh kamu itu, gak punya sayap masih saja ikut lomba terbang.” “saya ikutan manusia saja, walau ia tak punya sayap, sering manusia ber-terbangan.” Demikian beberapa warga rimba juga mengeluh dengan lomba-lomba absurd itu.
Di tengah keluhan-keluhan itu, Cacing tertawa lantang karena ia merasa memenangkan semua lomba. “ha…ha…ha… kalian semua terlalu mengandalkan kemampuan diri, sebelum memetakan diri!”
“maksudmu apa?” tanya kancil.
“kenalilah kemampuan, fadhilah, kecenderungan, bakat, dan gawan bayimu. Sehingga setelah tahu diri, kalian bisa memutuskan sebaiknya dengan cara bagaimana aku mengikuti semua lomba. Saya memutuskan untuk tinggal di perut kuda saat lomba lari, menyelinap di dubur burung saat lomba terbang, dan menyusup di perut ikan saat lomba renang dan menyelam. Saya sama sekali tak mengandalkan kemampuan, satu-satunya alasan karena saya makhluk yang diperjalankan. Kalau kanjeng Nabiku menempuh jutaan mil dalam isra-mi’raj, ditempuh hanya semalam itu karena ia tidak mengandalkan kemampuannya dalam berjalan, tapi ia pasrah karena diperjalankan, ia mengendarai buroq. Apa salahnya kalau aku meniru-Nya dengan menempel di teman-temanku. Karena saya merasa bahwa saya tidak mampu. Hanya Tuhan Yang Maha Mampu.
“kalau begitu kamu tidak menang.” Timpal kancil.
“kalau keselamatan bukan kemenangan terus apa? Saya selamat bisa mengikuti semua lomba. Saya menang bersama teman-teman yang ku tempeli. Tak penting arti kemenangan kompetisi. Yang penting kemenangan dalam keselamatan. Saya selamat tidak dihukum rajamu, dan tidak tersiksa saat mengikuti setiap lomba.”
“yang paling penting lagi. Kamu jangan hanya cari keselamatan diri, tapi juga menyelamatkan yang lainnya.” Saran Kerbau kepada Cacing. Lalu Cacing menggeliat.
Dari corong bambu terdengar Raja Rimba mengumumkan bahwa Juara Umum dalam lomba Agustusan dimenangkan oleh Cacing.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran