Maiyahan Mukadimah

Mukadimah : PERADABAN PLASTIK

#Maiyahan #SPNov

Apa itu peradaban? Jawabannya sangat luas dan berbagai versi. Tetapi ada kesepatakatan umum bahwa peradaban berawal dari nilai, ide yang dijalani dalam perilaku manusia hingga meluas menjadi perilaku masyarakat, dan berlangsung lama hingga menetap dalam rentang satu abad.

Peradaban manusia berjalan bisa sesuai dengan evolusi lahir, tumbuh, berkembang, berbuah (jaya) kemudian berangsur layu, runtuh dan tumbang, mati. Segala yang duniawi, dibatasi oleh ruang dan waktu. Bahwa kefanaan peradaban adalah pasti dan kekekalan Allah juga pasti. Tak pelak, peradaban yang mengabadi adalah peradaban yang merujuk kepada nilai-nilai Tuhan, walaupun manusia sejatinya tak pernah paripurna meraihnya.

Hal ini, juga merujuk kepada kata peradaban sendiri. Ada yang mengartikan bahwa peradaban adalah kecerdasan kebudayaan lahir batin manusia dalam upaya memperbaiki dirinya. Lahirnya peradaban karena tradisi manusia telah menetap, baik nilai-nilai yang dijalaninya, tradisinya, sehingga ketetapan itu menjadi ciri dari peradaban.  Menetap bukan berarti berhenti berproses, tetapi pengulangan yang lama membetuk pola nilai, tradisi, budaya dalam kehidupan manusia. Sehingga bisa dipelajari.

Dulu ada peradaban Jawa yang membawa kepada keseimbangan lahir batin manusia. Ada latihan kanuragan, sekaligus semedi (olah batin). Bahkan kalau melihat peninggalan peradaban masa lalu, kita menemukan tempat-tempat ibadah yang dibangun menjadi mercusuar. Ada Borobudur, ada Prambanan, dan banyak tempat peribadatan yang ditemukan sebagai penanda peradaban nusantara.

Sekarang bangunan-bangunan mercusuar penanda peradaban manusia berupa supermarket, hotel, dan tempat rekreasi. Artinya dengan melihat bangunan-bangunan saja kita bisa sedikit membaca peradaban manusia sekarang. Apakah peradaban manusia merupakan juluran peradaban syahwat, peradaban akal? atau peradaban ruhani?

Kita juga mengalami kesulitan membaca peradaban manusia, karena banyak kamuflase dan talbis di dalamnya. Misalnya kita menemukan bahwa quota masyarakat dalam melakukan haji dan umrah semakin banyak. Apakah kenyataan itu bisa mengindikasikan bahwa peradaban ruhani manusia Indonesia semakin maju? Atau bahkan kita menemukan sebaliknya, karena sebagian besar manusia ternyata tersihir oleh sihir kapitalisme tour and traveling. Saya juga bingung pada diri sendiri apakah sedang suudhan atau waspada membaca itu semua?

Inilah yang kita alami sekarang sebagi ‘peradaban plastik’. Plastic bisa menyerupai apa saja. bisa tampak seperti kayu, bisa laksana besi tetapi tetap sejatinya plastic mudah pecah. Peradaban manusia sekarang sesungguhnya banyak menyuguhkan penipuan dalam segala variannya ala plastik. Ibadah bisa menjadi polesan menguntungkan bagi akumulasi capital dan modal. Demikian juga yang berlaku bagi kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran