Maiyahan Mukadimah

Mukadimah Payung semu

#Maiyahan #MSPDes

Payung ya Payung.

Ketika sebutan kata itu terlintas meski kita mengasosiasikan sebagai alat yang berfungsi menjadi pelindung dari hujan. Meski awal fungsi dari alat tersebut dibuat untuk melindungi pemakai dari terik panas matahari, dan perkembangan dapat melindungi sang pemakai dari guyuran hujan. Tidak panas / sejuk dari panas matahari dan tidak basah dari guyuran air hujan.

Derasnya hujan informasi yang selama ini bersliweran dimedia sosial, cetak dan televisi, menggiring arus pemikiran dan opini masyarakat. Hampir semua orang seolah menjadi pembawa berita dari kejadian yang dialami, peristiwanya dan pendapatnya menjadi hal penting yang harus diketahui orang lain.

Bahkan perkembangan penyebaran informasi yang terjadi berdampak pada banjir bandang informasi, Banjir bandang opini dari siapapun dalam arus media. Namanya banjir apapun yang dapat dibawa akan terseret dalam arus dan pusaran.

Hampir setiap saat dan setiap waktu kita diajak untuk menyepakati warna, meski kadang warna yang sama belum tentu mengandung kualitas dan kadar kemanfaatan yang sama.

Lain hal Payung yang diartikan juga pengayoman. Dalam lingkup negara, negara harusnya mengayomi Rakyatnya, Rakyat yang diayomi oleh negara dalam kehidupan sehari hari, bentuk pengayoman dalam melindungi tanah, air (kekayaan alam yang terkandung didalamnya dan udara, untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Apakah negara benar benar mengayomi ? Kalau melihat UUD’2002 amandemen dan KEPRES, banyak sekali celah untuk menguasai tanah, air dan kekayaan alam oleh individu, kelompok tertentu.

“Payung memang tak bisa menghentikan hujan. Tapi ia bisa membawa kita menembus hujan dan sampai pada tujuan”

payung bisasaja bermakna alat peneduh jiwa yang tenang dan hati yang khusyuk berjalan, tentang seberapa sabar dan yakin kita pada-Nya dalam menjalani skenario-Nya,

Ya begitulah payung.

Lantas bagaimana kiranya dengan payung semu? Payung yang tidak nyata? Padahal perlindungan yg diberikan oleh payung pun bisa saja bersifat semu. Kemesraan yang dibangun oleh payung sungguhan pun bisa saja hanya semu belaka.

Maiyah suluk pesisiran desember 2018 kali ini membahas payung dalam konotasi dan fungsi berbeda,  mentadabburi, mempelajari, dalam kehidupan.

Tempat :

Majelis Masyarakat Maiyah: SULUK PESISIRAN | PAYUNG SEMU | Rabu, 12 Desember 2018, 20:00 WIB | Gedung Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran