Mukadimah : Kedaulatan Dagang


Kota Pekalongan dikenal sebagai kota batik, secara industri melampaui Yogyakarta dan Surakarta yang notabene sebagai pusat peradaban batik.  Juga Kabupaten Pekalongan, masyhur masyarakatnya memproduksi pakaian. Dahulu kala orang-orang Pekalongan mengambil jalan rantauan ke Jakarta untwuk mengembangkan industri pakaian. Di tahun sekitar 80-an simbah dan orang tua kita serasa lancar-lancar saja menjalani industri konfeksi, tanpa bantuan perbankan. Waktu itu, transaksi alur industri kecil menengah itu dilakukan dengan kontan. Walaupun utang piutang tetap ada, tetapi tidak menjadi beban hidup, karena tidak berkaitan dengan perbankan.

Sampai kira-kira pada tahun 90-an mulai dikenal cek dan giro. Orang-orang melakukan transaksi tidak dengan uang cash lagi, mulai menggunakan surat-surat berharga dari bank. Produksi dan transaksi mulai menggunakan jasa perbankan. Tentu pinjaman dari sektor industri sangat diharapkan dari lembaga keuangan, karena kepentingan mengembangkan bunga. Bertambah masa, masyarakat industri yang dirasa semakin individualis mendorong pelaku usaha untuk meminjam uang dari bank dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah perdagangan.

Di tahun 2000 an Bank bak jamur di musim penghujan. Mereka mulai menawarkan pinjaman kepada bos-bos di Pekalongan. Sebagian menanggapi dengan meminjamnya untuk memulai usaha, atau mengembangkan usaha. Sayangnya sebagian masyarakat kadang meminjam uang di bank dengan tanpa disertai ilmu ketepatan mengelola uang pinjaman. Diantara kelemahannya karena sistem perbankan itu merupakan sistem baru (modern) bagi masyarakat Pekalongan, sedangkan manajemen perusahaan masyarakat masih berpola tradisional. Tradisional dalam pengertian diantaranya, pengelolaan keuangan rumah tangga, dengan keuangan usaha masih bercampur. Uang pinjaman sering dibelanjakan untuk kebutuhan pribadi, bukan sebagai modal usaha., dll.

Di satu sisi, budaya masyarakat Pekalongan masih mengenal budaya tempel. Maksudnya, orang yang melakukan bisnis sekian tahun, tetapi belum mewujudkannya dalam bentuk materi, perabot-perabot, dan status sosial (misalnya pergi haji, umroh berkali-kali), benda-benda kepunyaan, akan terasa belum mangseg karena belum mendapatkan pengakuan dari tetangga kanan kiri. Menjadikan uang dalam rupa perabot-perabot, hak milik, dan status sosial merupakan inti dari budaya tempel.

Di tahun-tahun ketika masyarakat Pekalongan sudah mengenal perdagangan online bisa kita lihat bagaimana kebanyakan pelaku usaha menjalani perdagangan online tanpa mengindahkan kebersamaan hidup masyarakatnya. Misalnya dengan mempromosikan produksinya dengan harga yang sangat murah, sehingga pelaku usaha kecil menjadi megap-megap; pelaku industri kini sudah banyak menjual dagangannya sendiri tanpa mengindahkan jatah riski untuk para reseller; harga-harga bantingan yang dibawah modal produksi merupakan bom waktu bagi masa depan kedaulatan perdagangan masyarakat Pekalongan, lantas bagaimana kita meresponnya? Ayo melingkar di Majlis Masyarakat Maiyah SULUK PESISIRAN PEKALONGAN.

Bagikan: