Mengenal Anugerah Tuhan Dalam Diri : Reportase Suluk Pesisiran 11 Maret 2020

Malam ini sekiranya rutinan maiyah di Pekalongan tak bisa kita sebut dengan istilah keren rolasan seperti maiyahan yang lalu-lalu. Bulan Maret kali ini maiyahan Suluk Pesisiran digelar bukan pada tanggal dua belas melainkan pada tanggal sepuluh. Hal ini karena pada tanggal dua belas nanti, Cak Nun dan Kiai Kanjeng seyogyanya akan menyambangi jamaah Sinau Bareng di Pemalang. Salah satu kota yang terbilang sangat dekat dengan Pekalongan, membuat Suluk Pesisiran atas dasar kemesraan berencana pula akan turut menyambangi sedulur-sedulur di sana.

Tak seramai pada awal acara seperti biasanya. Perubahan jadwal ini kiranya sedikit memberikan pengaruh kesediaan jamaah yang sudah hafal tanggal rutinan Suluk Pesisiran. Tapi itu tak apa, karena justru memungkinkan jamaah yang datang ke Pendopo Kecamatan Kedungwuni menjadi terasa lebih intim untuk belajar dan mengudar bersama-sama tentang tema Matak Aji. Sebuah tema yang sekilas memang lekat sekali dengan sejarah manusia nusantara.

Mukodimah yang dibacakan oleh Kang Mahruz memberikan semacam patakan atau lemparan ide pembuka diskusi antar para jamaah. Malam yang dingin ini mulai terasa menghangat seketika saat sesi ini dimulai. Beberapa dari mereka tampak masih terlalu samar perihal Matak Aji yang sebenarnya dimaksudkan pada malam ini. Kang Muhib berpendapat bahwa Matak Aji adalah suatu kesungguhan tekad, sedangkan Mas Fadel malah tak mengurai pembicaraan lebih jauh lagi karena ia merasa Matak Aji cenderung mengarah pada ilmu-ilmu nenek moyang dahulu dan ia sama sekali tak memiliki gambaran tentang hal itu. Kemurnian pendapat adalah hal yang patut diapreasiasi demi mengurai suatu hal yang mendekati kebenaran juga keberanian untuk menampakkan kesejatian diri. “Tidak apa-apa, karena memang di dalam maiyah kita belajar untuk bisa merdeka dalam berpendapat.” sambung Kang Eko. Maiyah tak ingin di dalam forumnya terjadi komunikasi searah yang akan menjadi sangat rentan pada akhirnya, terutama dalam memenuhi kebebasan berpikir dan kebebasan setiap manusia untuk berpendapat berdasarkan pengalaman masing-masing yang mereka alami dalam hidup.

Sembari narasumber mempersiapkan diri, Kang Riski selaku pemandu acara juga moderator mempersilahkan duo band asal Simbang Kulon menyanyikan dua nomor lagu. Meskipun lagu lama namun kebersamaan jamaah maiyah dalam bernyanyi mampu me-refresh kembali pikiran-pikiran yang sejak tadi terkuras hanya untuk memikirkan maksud dan arti dari Matak Aji. Suara dari Mas Wildan yang begitu renyah menghadirkan suasana kebersamaan para jamaah malam itu.

Pada kesempatan kali ini Kang Agus yang menjadi narasumber pertama membagikan khasanah keilmuannya pada jamaah. Menurutnya Matak Aji merupakan satu rangkaian aplikasi ilmu yang ada dalam diri manusia. “Aplikasinya tergantung manusia itu sendiri apakah itu akan membawa manfaat pada dirinya atau justru kerugian yang didapat.” Selain pada itu, Kang Agus mempercayai satu hal bahwa tujuan utama dari ilmu Matak Aji sejak dulu diciptakan tidak hanya untuk kebutuhan duniawi, tujuan sejatinya adalah sebagai kendaraan untuk memasuki dimensi rohani yang lebih halus. “Ilmu Matak Aji berarti kita sedang membangun kekuatan yang ada pada diri kita demi mencapai sesuatu hal. Ilmu ini nantinya akan dikeluarkan saat benar-benar diperlukan karena sifatnya adalah deposit.”
Sesuai yang ada dalam mukodimah Matak Aji bahwa para generasi muda sekarang ini lebih sering bermain pada dimensi material. Padahal diri kita telah dianugerahi banyak dimensi yang lengkap secara indrawi.

Matak Aji memang menarik kita semua pada sesuatu yang sedikit mistik. Salah satu yang memiliki kemistikan itu adalah tarian sufi. Kang Ahlis Sulton sedikit membagi ilmunya sebagai seorang yang juga menjalani laku spritual sekaligus penari sufi atau jamak kita kenal dengan istilah darwis. Beliau bercerita pula tentang banyak hal yang menurutnya menarik untuk dibagikan mengenai mantra yang selama ini sudah lama ia kenal. “Ada satu filosofi yang menarik dari tarian ini. Putaran, menari dalam putaran, secara sadar menggerakan semua putaran dalam kehidupan ini, sepeti sebuah manifestasi dari sifat Tuhan.” Gambarannya akan semakin jelas memang apabila itu dilakukan oleh seorang praktisi seperti beliau.

Aji itu nilai tapi karena ada kata matak dalam aji maka ini masuk ke ranah kanuragan. Dimana hal ini akan menjadi rawan bahaya dan mudah diselewengkan oleh jin dan manusia yang sudah semestinya mampu menganggu dalam rangka usaha kita untuk mendapatkan sebuah ilmu. “Apalagi dalam ranah keilmuan, terdapat hukum-hukum yang juga menyertainya.” Pak Turadi membeberkan satu patokan atau pegangan pada jemaah sebagai wujud kehati-hatian kita dalam menuntut ilmu agar Teteh, Titi, Tetes, juga Tutus harus selalu diperhatikan.

Sebelum sesi pertanyaan acara diselingi oleh pembacaan puisi berjudul Bogang Bola ciptaan Mas Abdillah dibacakan beliau sendiri dengan emosi yang menggetarkan penuh kegetiran. Energinya terasa begitu lepas. Sebuah teguran pada orang-orang yang sedang duduk dan memiliki kuasa memerintah negara ini. Bahwa situasinya sejak lama sudah sepertinya tak pernah membaik. Hingga akhirnya acara ditutup dengan doa dan shalawat bersama yang dipimpin oleh Kang Riski. Malam kembali dingin dan sepertinya akan segera hujan. Diantaranya pula rahmat Tuhan sedang bertebaran di sepertiga malam.

Bagikan:
, ,