Maiyahan Reportase

Mengamati Generasi Baru

Repotase Generasi Baru 12 Mei 2019

Seperti pada bulan Ramadhan yang telah lalu, tanggal 12 Mei 2019 Maiyah Suluk Pesisiran masih tetap menyelenggarakan kegiatan Maiyahan seperti biasanya. Dan seperti biasa pula, jamaah Maiyah masih mesra dan setia mengikuti  dari mulai awal acara rutinan yang diselenggarakan di Gedung Pendopo Kecamatan Kedungwuni  Kabupaten Pekalongan.  Tampak beberapa wajah-wajah baru turut hadir malam ini, menandakan adanya generasi-generasi baru yang mencoba menemukan dan melihat diri mereka lewat perkumpulan maiyah di Pekalongan ini. Sesuai dengan tema yang diangkat Suluk Pesisiran pada malam ini yaitu Generasi Baru.

Setelah Mas Tholib membacakan mukodimah, Mas Fredi sebagai penggagas awal mukodimah turut menerangkan bahwa merujuk pada pemikirian salah satu sosiolog kiri yang mengatakan kalau generasi saat ini adalah generasi yang paling jelek. Sebagai generasi sembilan puluhan, delapan puluhan ke atas itu bisa dikatakan jelek. “Serba dendam dan tanggung. Generasi yang selalu gagap, termasuk pula pada agama.” Seolah-olah dan mungkin bisa dirasakan kita semua jika generasi ini adalah generasi penampung sampah tapi tak memiliki kemampuan untuk mengolah sampah. Meskipun begitu Mas Fredi meyakini bahwa generasi seperti ini memang harus ada sebagai pembelajaran. Dengan belajar dari generasi ini, maka yang diharapkan dari kita adalah harus menyelamatkan generasi selanjutnya. Menyambut kemunculan generasi baru sebagai secercah harapan untuk mengobati kerusakan-kerusakan yang diciptakan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Sedikit melebar dari kajian generasi baru, tapi masih dalam satu untaian sebagai generasi baru agar mencoba mengambil sesuatu yang dititipkan dari generasi lama. Mas Ribut menceritakan sedikit tentang timun mas. Juga mengambil pelajaran dari cerita tutur itu bahwa cerita timun mas tidak serta merta hanya membawa pelajaran tentang moral, tapi ada sisi-sisi lain yang seharusnya kita kupas lagi terkait masalah pengetahuan. Dalam hal ini Mas Ribut menyoroti jarum yang dalam cerita itu digunakan sebagai bekal untuk melawan raksasa. “Semua cerita rakyat yang pertama diomongkan selalu tentang moral, sehingga aspek pengetahuan dikesampingkan. Teknologi jarum adalah teknologi inti dari mesin. Coba saja motormu kolo-kolo leboni jarum, pasti akan mandeg. Terus bagaimana membuat jarum? Yang kita tahu teknologi paling canggih tiba-tiba adalah membuat ufo, piring terbang, pesawat terbang. Tapi jarum yang sederhana itu adalah teman yang luar biasa. Bukti bahwa peradaban kita sudah pernah maju. Kalau peradaban maju berarti ilmu pengetahuan maju. Kalau pengetahuan maju, maka soal akhlak itu sudah selesai”.

 

Dalam cerita itu jarum adalah yang pertama kali dikeluarkan. Ini menandakan bahwa bekal awal untuk membangun sebuah bangsa adalah pengetahuan. Penguasaan akan teknologi. Setelah itu kemudian garam yang menggambarkan tentang kimia, yang didalam diri manusia adalah tentang rasa. Terakhir adalah terasi. Terasi inilah pamungkas yang menenggelamkan sifat raksasa dalam diri kita. “Barang yang ora kanggo aslinya, itu ngomongke soal pengendalian diri sendiri.., selama ini kita kelantur-lantur. Pendidikan kita ini kadung ngopeni soal moral ning rabiso ngopeni ilmu pengetahuan. Kita selalu saja berkomentar tapi tidak mampu membuat sesuatu sendiri. Kita selalu mengembara dalam teori tapi soal aplikasi menteh kabeh”.

Maiyah Suluk Pesisiran malam ini mendapatkan hiburan yang ramai dan membahagiakan dari saudara-saudara asli Samong. Membawakan lagu Iwan Fals dan Puisi tentang Kentut yang membuat jamaah terpingkal-pingkal kala puisi itu dibacakan.

Pak Agus yang menjadi narasumber pada malam ini mengatakan bahwa bentuk generasi baru itu ada dua. Pertama adalah generasi yang hadir untuk menggantikan generasi yang lama, baik untuk yang lebih baik maupun sebaliknya. Generasi yang sifatnya baik akan cenderung memberikan solusi, jalan keluar, gagasan, kekuatan, serta sumber daya baru yang melampau generasi sebelumnya. Sementara generasi yang sifatnya buruk akan cenderung membawa ke kehancuran. Yang berbahaya adalah generasi yang memiliki bibit destruktif, mereka cenderung menghancurkan apa yang diperbuat oleh generasi pendahulunya. “Kalau apik yo dirusak, nek ono ajine diasorke”.

Sekarang adalah tinggal bagaimana kita menyikapi dan menempatkan diri kita sekarang ini. “Munculnya generasi baru(yang baik) artinya dia mampu membuat pembaharuan. Biasanya dia mencoba tidak menjadikan apa yang di luar itu sebagai bahan atau sumber inspirasinya. Kalau melihat kejahatan, bukan ikut menjadi sumber kejahatan”. Pak Agus mencontohkan peristiwa Nabi Muhammad SAW dalam gua hiro, sebagai upaya untuk mencari kemurnian nilai dalam kehidupan dengan memulainya dari diri sendiri. Sehingga kelak dapat membedakan yang semestinya antara yang benar dengan yang salah.

Menyambung dari Pak Agus, kemudian Gus Asep memberikan sudut pandangnya akan generasi baru ini lantas menyimpulkan bahwa salah satu ciri generasi baru adalah generasi yang tidak memburu ketenaran atau tak ingin terkenal. Pak Turadi mencoba menggugah jamaah agar kita para para generasi baru ini harus mampu  membuat sejarah. “Di dalam maiyah ini sebagai sebuah ruang untuk membuat kreatifitas, olah roso, olah pikir, olah batin, sehingga muncul memayu hayuning bebrayan dalam sebuah kelompok. Kalau dibesarkan menjadi memayu hayuning bawono. Pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan sejati”. Kita harus belajar dari ulat yang awalnya menakutkan dan menjijikkan tapi setelah bertapa menjadi kupu-kupu yang indah. Begitu pula dengan generasi baru yang diharapkan berevolusi menjadi generasi baru yang indah.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran