Opini Tadabur Daur

Menanam Nafsu

​#TadabburDaur 65 #SulukPesisiran Oleh : Eko Ahmadi

Mengendalikan keinginan hawa nafsu maka seseorang harus menyadarkan dirinya bahwa: pertama, apa pun benda yang ia miliki pasti akan ditinggalkannya atau benda tersebut pasti meninggalkannya; kedua, sekuat dan sehebat apa pun dirinya pada akhirnya akan terkapar tak berdaya di dalam himpitan bumi; ketiga, semulia dan sehina apa pun dirinya pada akhirnya ia harus bertanggung jawab atas seluruh aktivitasnya di dunia kepada Allah swt.
Bila kesadaran ini dapat ditanamkan kuat-kuat dalam hati, maka seseorang akan mampu: pertama, membuat jarak terhadap dunia sambil terus mengawasi dan mengolahnya; kedua, beramal dan beribadah guna dijadikan teman saat menjalani hidup dalam kematian; ketiga, rida atas apa pun yang akan ditetapkan Allah swt. agar kelak lebih mudah bertanggung jawab kepadaNya. 
Allah swt. berfirman:

﴿وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا.﴾

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Q.s. al-Isra [17]:19).
Apabila seluruh aktivitas manusia tidak sungguh-sungguh diorientasikan hanya, untuk, dan karena Allah swt., maka Allah swt. akan mengarahkannya pada sesuatu yang fana. Akibatnya, manusia tidak tenang dan penuh kekhawatiran dalam menjalani kehidupan di dunia; menjalankan amal kebajikan dengan merampas hak hidup (kedamaian dan ketenteraman) orang lain; amal ibadahnya terlihat canggung dan penuh pencitraan, karena tolak ukur ibadahnya adalah perhatian manusia; dan pada akhirnya ia senantiasa merasa benar meski menapaki jalan kesesatan.
Allah swt. berfirman:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.﴾
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.s. al-Hasyr [59]:19).
Berinteraksi dengan sesama manusia menggunakan akhlak mulia adalah seseorang harus mampu bersikap layaknya bumi, yakni ia tidak sombong dan merasa mulia meski menjadi pijakan kaki para nabi maupun wali, dan ia tidak marah dan merasa hina meski dijadikan tempat judi maupun prostitusi. Kesadaran ini akan mengarahkan seseorang untuk memahami bahwa sesungguhnya kehadiran dirinya mengemban tugas dari yang Mahasuci untuk selalu melayani, bukannya dilayani. 
Allah swt. berfirman:

﴿وَ يَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ.﴾

“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (Q.s. at-Tur [52]:24).
Ketika manusia ingin senantiasa mengingat yang Mahakuasa adalah seseorang harus sadar bahwa Allah swt. tidak berada di suatu tempat, ataupun dibatasi oleh ruang dan waktu. Seluruh yang tercipta adalah bagian dari kemahakuasaanNya, seluruh yang terlihat adalah bagian dari kemahaindahanNya, dan seluruh yang tersembunyi adalah bagian dari kemaharahasiaanNya. Timur-barat, dan utara-selatan hanyalah arah yang Ia ciptakan untuk mempermudah manusia menentukan jalan. Pagi-siang dan sore-malam hanyalah waktu yang Ia ciptakan untuk mengingatkan manusia kapan harus bekerja dan kapan harus mencari keruniaNya sesuai kondisi masing-masing. Atas-bawah, kanan-kiri, maupun depan-belakang hanyalah posisi yang Ia ciptakan agar manusia memahami batasannya sendiri. Dengan kata lain, kapan dan di mana pun, kemahaluasan Allah swt. selalu terbuka untuk menampung keluh kesah hambaNya. 
Allah swt. berfirman:

﴿وَ لِلهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ إِنَّ اللهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.﴾

“Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah (terlihat). Sesungguhnya, Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah [2]:115).
Dalam daur yang berjudul menguras dan menghimpun tenaga hidup,dinyatakan bahwa “Marah itu menguras tenaga. Dendam itu mengikis energi hidup. Kalau memaafkan itu menghimpun tenaga, bahkan Tuhan melipatgandakannya”.
Saat kita benar-benar rida dan ikhlas menjalani pengabdian, maka kita tidak peduli apa pun yang akan ditetapkan dan diputuskan Allah swt terhadap diri kita. Pada dimensi ini, kita hanya fokus pada kesungguhan dan keseriusan dalam menjalani ragam kewajiban yang telah ditetapkannya, sedang terkait hasil yang akan diberikan Allah swt., kita menerimanya dengan bahagia dan sukacita. Efek dari pengabdian macam ini adalah, Allah swt. akan menggerakkan makhlukNya untuk menerima keberadaannya dengan senang hati.
Konon, sebagian para sahabat pernah berkata pada Nabi saw., “Ya, Rasulullah. Saat kami melihatmu, hati kami menjadi senang dan kami termasuk ahli akhirat. Namun, saat kami berpisah darimu, kami mengagumi dunia serta terlena oleh istri-istri dan anak-anak kami.” Kemudian, Nabi saw. menanggapi,
لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَلَى الْحَالِ الَّتِي أَنْتُمْ عَلَيْهَا عِنْدِي، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَكُفِّهِمْ، وَلَزَارَتْكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ،….

“Sekiranya kalian dapat berinteraksi dengan orang lain sebagaimana kalian berinteraksi denganku, tentulah sayap-sayap para malaikat akan menyalami kalian, dan mereka akan mengunjungi rumah-rumah kalian,….” (H.r. Ahmad bin Hanbal, 1998, hadis no. 8030, hlm. 599-600).

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran