Reportase

MEMFITRAHKAN NAFSU

Catatan Maiyahan Opo Opo Kerso Maiyah Suluk Pesisiran

Bulan Ramadhan tentu berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Keramaian di malam hari terus bertambah pada bulan itu, apalagi di kota sandang seperti Pekalongan. hampir bisa dibilang setiap meter ada toko sandang, pangan berjejer berpuluh-puluh kilometer. Tapi ajaibnya, di bulan Ramadhan dagangan itu tak sekedar payu tapi rame.

Malam itu, lantunan shlawat dari corong-corong masjid terdengar. Menandakan shalat tarawih sedang berlangsung. Tentu sebagian besar jamaah maiyah sedang bersimpuh di hadapan Tuhannya. Selain mereka yang khusyuk dengan Tuhannya, beberapa pegiat juga mengabdi kepada Tuhannya dengan jalan lain, mereka memilih untuk mengkifayahi memasang baner, sound system, gelaran dan menyiapkan beberapa kebutuhan konsumsi. Karena malam mini malam spesial, kita akan berjumpa dengan Tuhan dan Kekasihnya dengan cara saling mengasihi sesama lewat media Maiyahan Suluk Pesisiran.

Di pendopo Kecamatan Kedungwuni Pekalongan terlihat saudara Nasroel, Zidin, Mahrus dan beberapa teman lainnya sedang mempersiapkan perhelatan cinta ini. Jamaah Maiyah diperkirakan akan datang lebih larut, dibandingkan pada malam-malam maiyahan sebelumnya. Selain kita mendengar tadarus dilantunkan di masjid-masjid, kita juga punya versi tadarus Al-Qur’an di pendopo. Mungkin di kota-kota lain sudah lumrah, tetapi di Pekalongan tadarus di Pendopo Kecamatan merupakan pemandangan yang ganjil. Maiyah memang ganjil, tetapi tidak mengganjilkan, bahkan menggenapi.

Pada Selasa 13 Juni 2018 edisi Maiyahan Suluk Peisisiran mengambil tema ‘opo-opo kerso’ yang seharusnya tertulis apa-apa karsa. Tapi kalau menggunakan kebenaran literer bahasa Jawa yang dituliskan menggunakan huruf latin, maka pengucapannya justru kadang kurang pas, karena kebanyakan orang akan mengucapkan opo-opo kerso bukan apa-apa karsa sebagaimana istilah ini sudah lazim di masyarakat Jawa.

Tema opo-opo kerso berangkat dari pemahaman bahwa puasa itu menahan diri untuk mengendalikan nafsu. Tapi pada kenyataannya yang terjadi kebanyakan orang berpuasa ibarat menarik ketapel, (sebagaimana menahan) untuk melepaskan hingga ‘batu nafsu’ terbang jauh. Menahan diri untuk melampiaskan dengan energi yang lebih besar untuk mengonsumsi.

Seperti para pembalap jalanan yang mengerem sepeda motornya saat hendak start balapan, dengan deru gas yang menderu, hingga pada saat bendera start dianggkat, pelampiasan dendam ngegas konsumsi berlipat-lipat. Itulah yang kita sadari atau tidak yang menimpa diri kita, bahkan peradaban kita. Artinya sangat kelihatan ibadah ritual yang kita jalani hanya sebatas ritual, tidak ada peningkatan kwalitas takwa kehidupan kita.

Maiyahan kali ini digelar di pendopo Kecamatan Kedungwuni. Sebagaimana biasanya di sekitaran pendopo pada bulan Ramadan selalu diramaikan oleh pasar malam. Hingar bingar musik dari wahana permainan pasar malam menghiasi awal maiyahan, hingga menurut Ribut Achwandi yang pada maiyahan kali ini dipercaya sebagai moderator berujar “inilah praktek sesungguhnya dari topo ngrame pengajian di tengah pasar malam

Halaman Kecamatan yang juga ditempati parkiran untuk pasar malam, mengikhlaskan hati para pegiat untuk toleransi menjeda waktu hingga pukul 22.00 WIB Maiyahan baru dimulai.

Sebelumnya dalam musyawarah pegiat Maiyah Suluk Pesisiran sempat berencana mengundur maiyahah sampai ba’da lebaran. Dengan alasan karena masyarakat Pekalongan jelang lebaran biasanya lebih konsentrasi untuk nyandang, dan persiapan lebaran, daripada hadir dalam kegiatan-kegiatan. Ada kekhawatiran di benak pegiat tentang kemungkinan minimnya audien. Akhirnya para pegiat mengingat kesepakatan awal tentang slogan “ora kudu” atau tidak harus. Artinya Maiyahan diselenggarakan ora kudu banyak audiennya; ora kudu ada narasumbernya; ora kudu disertai kelompok music; ora kudu serba sesuai dengan kemauan ideal para pegiat. Karena segala hal yang kudu kadang berujung pada kekecewaan. Malam itu para pegiat dibinggkai dengan kesepakatan ora kudu demi menguatkan titah istiqomah.

Pada jam 22.00 WIB sekitar delapan puluhan jamaah melingkar. Ucapan syukur dan apresiasi disampaikan oleh Mas Agus Sulistyo, yang pada malam hari itu dipercaya sebagai narasumber, “heran jelang lebaran kurang 2 hari, masih juga banyak teman-teman yang ngumpul disini.” begitu Beliau mengawali pembicaraannya, dengan wajah sumringah. Malam itu berkaos oblong hitam bertuliskan huruf jawa, yang penulis belum sempat menanyakan artinnya. Sebenarnya ada niat Tanya via WA, tapi WA ku sudah ganti kepanjangan Waosan Al Qur’an, jadi gak jadi Tanya. ada-ada aja, sebenarnya karena malu dibilangin kepo. Saya yakin suatu saat pasti dijawab, yang jelas kaos hitam hanacaraka itu pakaian kesukaan Mas Agus di malam Maiyahan. eh stop. malah ngrasani orang.

Mendengar ungkapan syukur Mas Agus, dalam hati saya juga ikut bersyukur “mungkin ini buah dari cinta yang tumbuh dari pohon kerinduan untuk melingkar menghangatkan jiwa dan ruhani di tengah hiruk pikuk THR. entahlah, wallahu ‘alaam

Maiyahan diawali dengan tadarus al Qur’an dengan bacaan surat Yasin secara bersama –sama yang dipimpin oleh Saudara Mahrus. Dilanjutkan dengan pembacaan muqodimah oleh Fredi Kastama, pria kelahiran Krapyak ini dikenal di langit sebagai teman akrabnya para malaikat, karena hari-harinya tak pernah duka lara, bahkan dihiasi dengan wajah ceria, seceria kuntum mawar yang merekah karena sapaan angin sepoi dan belaian cahaya matahari. Telinganya juga seperti alarm yang ketika panggilan adzan menyapa, segala apapun akan ditinggalkannya untuk bergegas menghadap Sang Maha Juragan. Kata Beliau, “menjawab panggilan adzan dengan langkah kaki seperti orang yang kebelet ke wc, dihadapannya presidenpun akan ditinggalkannya.”

Pantas saja para bidadari jatuh hati padanya. ssssttt…tapi awas lho jangan cerita sama istrinya nanti cemburu.

Malam hari itu pria macho hitam manis ini memakai blangkon yang dipadu dengan celana jeans dan kaos kasual. Lengkap sudah kepriaannya, temannya para malaikat, berpakaian jins. Suatu saat mungkin para jin itu minta pensiun dini, karena masalah aroma. Dalam hati hanya menghela nafas “ini gaya Jawa zaman now.” maaf ya kalau tulisannya ngelantur ngrasani orang, semuanya demi kemesraan.

Sebelum membaca muqodimah Fredi sempat berterus terang, bahwa dirinya tak tahu kronologi pengambilan tema ‘opo-opo kerso,’ ia hanya ditugasi dari para pegiat yang beberapa minggu sebelumnya telah memusyawarahkan dan melakukan pembagian job, “Saya hanya punya tugas untuk membacakan muqodimah, tidak lebih dari itu. Karena saya tidak hadir dalam musyawarah para pegiat beberapa minggu yang lalu”. kemudian beliau mulai membaca muqodimah.

Muqodimah Opo-opo Kerso

Suatu hari keluarga keong bertandang mengadu kepada sesepuh keong, perihal datangnya bulan puasa.

“Terus terang kami prihatin dengan datangnya bulan puasa Mbah”

“lho bulan puasa datang kok malah prihatin, kenapa? Bukannya yang diwajibkan puasa bukan Kita, tapi orang-orang beriman”

“Justru Itu Mbah kami prihatin, kenapa kalau orang-orang beriman, yang katanya gemar menyebarkan keamanan tapi kalau bulan puasa kok menebar teror pada keluarga kami. “

“Maksudmu gimana tho?”

“Simbah kan tahu, kalau setiap saat jelang Ramadan kita semua prihatin karena bak menunggu giliran setor nyawa dihadapan algojo. Terjadi genosida besar-besaran terhadap etnis kita.” Simbah keong tercenung, bahkan tiba-tiba wajahnya pucat pasi.

“Kenapa Mbah, tiba-tiba wajah Simbah tampak khawatir, membicarakan soal manusia ini.”

“Iya aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti mulut manusia nyucrup bol ku. Betapa sadisnya manusia.”

“Anehnya genosida etnis kita terjadi Pada setiap bulan puasa yang katanya setiap manusia menahan diri untuk tidak makan dan minum.”

“Kalau begitu apakah manusia sebenarnya puasa atau pura pura berpuasa Mbah?”

“Ya sulit sih mendeteksi manusia, karena makhluk satu ini makhluk yang paling gak tentu, kelihatannya berpuasa tapi kenyaannya justru tidak. Kebanyakan manusia sahur dan berbuka, tetapi justru konsumsi terus bertambah, bakul tambah, serba laris kabeh. Tapi bagi sebagian manusia itulah keberkahan.”

Tiba-tiba gerombolan Keong itu saling sahut

“Keberkahan bagi sebagian manusia adalah bertambahnya bisyaroh, karena undangan sebagai penceramah bertambah”

“keberkahan adalah numpuknya THR”

“Keberkahan adalah tumpukan amplop, kare banyak BOS yang bagi-bagi zakat”

“keberkahan adalah mengeksploitasi makhluk lain untuk keserakahan syahwatnya”

“keberkahan itu serba laris manis di bulan ramadhan ini.”

“keberkahan itu, apapaun jenis makanannya harus terus bertambah, dan manusia siap menghabiskan.”

“Keberkahan itu pesta pora penghabisan jatah rizki anak cucu manusia. Hingga alam rusak karena kerakusan”

“Keberkahan itu perlombaan belanja yang manusia inginkan, bukan yang dibutuhkannya.”

“Keberkahan itu eforia nyandang di tengah korban bencana”

“hayo apalagi kalian mendefinisikan keberkahan manusia” saking gemesnya Simbah keong interupsi.

Keong Mas juga berteriak

“Keberkahan itu ngetung bati terus. Ora ngetung kewajiban”

“Wis, wis, wis dicateti wae nanti tak sampaikan ke manusia,” agaknya simbah Keong kelelahan mendengarkan protes rombongan keong itu.

Mbah keong memungkasi keluhnya, “tak pikir-pikir POSO iku Opo-opo Kerso.

Selepas membacakan muqodimah Fredi mengungkapkan rasa syukur karena telah dibimbing Allah SWT bisa ketemu dengan sedulur-sedulur Maiyah Suluk Pesisiran. Fredi mengutarakan bagaimana paseduluran maiyah begitu karibnya. Fredi menceritakan perjalanan ke Jombang untuk menghadiri Maiyahan Menyorong Rembulan atau tasyakuran ulang tahun Mbah Nun yang ke-65 dengan hanya membawa uang saku dua puluh ribu rupiah. Tapi ternyata hal itu tidak jadi masalah di tengah paseduluran teman-teman maiyah. “kita satu keluarga yang selalu saling membantu.” pungkas Fredi yang kemudian bergeser duduknya mendampingi notulen.

Ribut Achwandi yang sehari-harinya sibuk mengajar Sastra Bahasa Indonesia di Universitas Pekalongan pada malam miyahan berlaku sebagai moderator. Beliau memulai dengan menyapa Jamaah Maiyah, kemudian memberikan satu stimulus pertanyaan tentang bagaimana pengalaman Jamaah Maiyah selama menjalani puasa?

Ada sedulur dari Gambang Syafaat yang mengaku bernama Hanafi yang kebetulan waktu itu sedang silaturahim keluarga di Pekalongan. Ia mengaku baru pertama kali ini mengikuti Maiyahan Suluk Pesisiran di Kedungwuni. Bahkan sampainya ia dilokasi maiyahan karena mengimani GPS.

“Kehadiran saya ke Suluk Pesisiran ini merupakan lailatul qadar, karena selama ini saya puasa, menahan diri untuk tidak ke Jombang menghadiri Menyorong Rembulan, tidak ke Mocopat Syafaat. Dan malam hari ini ketemu dengan Sedulur Maiyah Suluk Peisiran merupakan malam keberuntungan saya. Merupakan lailatul qadar bagi saya.”

Kemudian ia merespon tema ‘opo-opo kerso’ menurutnya opo-opo kerso itu segala sesuatu yang enak-enak bagi saya, sehingga saya kerso, saya mau. Segala sesuatu yang membuat enak nafsu, maka manusia menghendakinya. Diapresiasi oleh Ribut bahwa Mas Hanafi sebelum memperoleh Lailatul Qadar ia menempuh perjalanan Lailatul Keder dulu. Karena ia mencari-cari lokasi maiyahan Suluk Pesisiran, walau berkiblat pada GPS ia sempat menanyakan lokasi maiyahan ke beberapa orang yang ditemuinya di jalan. saking kedernya mungkin.

Selepas Mas Hanafi, Mas Agus selaku sesepuh Maiyah Suluk Pesisiran mulai membabar tema. Menurut Agus bahwa istilah opo-opo kerso merupakan jarwo dhosok atau semacam singkatan dalam bahasa Jawa yang berbasis otak atik gathuk. Istilah itu sudah akrab didengar di masyarakat Jawa.

Tata bahasa Jawa itu mengenal ondo usuk dalam berbahasa, ada bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa krama madya dan krama Inggil. Kerso dalam bahasa Jawa sudah masuk ke dalam kategori krama inggil, kalau dalam bahasa ngokonya disebut sebagai karep. Karep sama dengan karsa.

Secara spiritual dalam bahasa Jawa, ketika kita berbicara karsa maka hal itu biasanya dikaitkan dengan kehendak Allah. Sedangkan karep kata yang selalu dikaitkan dengan kehendak manusia. Misalnya ada ujaran dalam masyarakat Jawa, “manungsa duwe karep, nanging Allah kagungan karsa” (manusia punya niat, tetapi Allah punya kehendak). Melihat konteks makna kata ini, maka karsa dalam istilah opo-opo kersa merupakan kata yang kurang sesuai dalam penempatan. karena yang pas adalah opo-opo karep.

Jadi ada beda antara karsa dengan karep. Karena karep penempatannya untuk manusia, maka biasanya karep itu kehendak manusia yang didasari nafsu. Kaitannya dengan karep maka puasa merupakan metode untuk mengelola nafsu, sedakan shalat merupakan metode untuk mengelola pikiran.

Apa bedanya nafsu dan pikiran? dalam diri manusia ada budi dan daya. Budi itu pikiran dan daya itu bersumber dari nafsu-nafsu. Dengan adanya budidaya ini maka kehendak manusia dalam alam pikiran, lahir ke alam dunia ini. Maka lahirnya segala sesuatu yang berkaitan dengan alam batiniah ke alam lahiriah pasti melalui budi dan daya, atau dalam bahasa lain disebut sebagai dimensi pikiran dan dimensi nafsu. Kedua hal ini merupakan pondasi pembentuk kehidupan manusia. Setiap manusia menghendaki apapun pasti ada karepe dan pasti ada pikirane.

Orang yang mau makan, tidak ada karep makan, pasti tidak akan bisa makan. Karena dalam nafsu inilah sesungguhnya daya jasadiah ini muncul. Tanpa adanya nafsu, jasad manusia tidak akan bisa hidup sebagaimana mestinya. Maka nafsu merupakan pondasi bagi kehidupan jasadiah manusia. Ada nafsu makan, minum, seks, tidur, yang kalau dalam bahasa jiwa, kita menyebutnya sebagai hasrat, minat atau dalam bahasa Jawa disebut karep. maka kalau orang kebanyakan karep itu kebanyakan nafsunya.

Tapi justru dalam nafsu itulah, manusia bisa meraih sesuatu. tanpa karep manusia tidak bisa meraih apapun.

Apa kaitannya antara karepe manusia dengan kehendak Gusti?

Sebelum membahas kaitan keduanya, pertama, yang penting kita bahas tentang karepe manusia. Kalau kita telisik tentang banyak karepe manusia itu tidak bisa terlepas dari kebutuhan ragawi. Kehendak nafsu itu selalu berkaitan dengan kebutuhan jasad. Sangat jarang kehendak nafsu yang terkait dengan kebutuhan ruhaniah. Kecenderungan nafsu itu kepada hal-hal yang bersifat materi, karena fitrah nafsu itu disana, hal ini juga berkaitan dengan makna idul fithri.

Apa makna idul fitri dalam kaitan dengan karepe manusia?

Bagaimana agar nafsu itu kembali kepada fitrahnya? Nafsu yang bagaimana, nafsu yang masuk dalam fitrah (alamiah) ini? kita tidak bisa menghilangkan nafsu, karena ia diadakan oleh Allah pasti ada maksudnya. Tapi nafsu juga tidak boleh dibiarkan.

Misalnya kita melihat nafsu makan. nafsu makan bisa membentuk rantai kebudayaan makanan yang mewujud dari mencari, mengumpulkan, membuat, menyajikan makanan. ringkasnya dari karepe manusia untuk makan ini akan menciptakan proses produksi, distribusi, dan konsumsi. Maka prosesi produksi, distribusi, dan konsumsi tidak akan terbentuk kalau tanpa karepe manusia. Selain karep makan juga ada karep minum, karep berpakaian, dan berhias.

Nafsu muncul dalam jiwa manusia membentuk kehendak, keinginan. Orang yang punya karep tetapi masih dalam tahap awal itu biasanya disebut dengan minat. Minat yang bersifat cair akan terus memadat dan memadat.

Daya hidup manusia berkaitan dengan karep. Pertama karepe makan itu untuk memenuhi kebutuhan fisik manusia. Misalnya para pekerja keras pasti membutuhkan banyak suplai makanan untuk mendukung daya fisiknya dalam bekerja, khususnya yang mengandung karbonhidrat. Sedangkan para pemikir kecenderungan kebutuhannya disuplai dengan makanan yang mengandung protein, karena dapat mendukung kebutuhan otak. Misalnya para pekerja fisik kalau makan biasanya banyak nasinya, sedangkan para pemikir kadang nasinya sedikit, yang kadang banyak lauknya. Hal itu merupakan pola manusia hidup yang akan membentuk beraneka ragam tata caranya.

Dari pola makan manusia itu kita akan melihat bahwa setiap manusia mempunyai ukuran dan takaran makanannya sendiri. Tukang macul sama dosen pasti beda porsi makannya, karena berkaitan dengan energy yang dikeluarkan. Jadi berlebihan dan tidak dalam makan itu sebenarnya yang paling tahu adalah diri sendiri, karena Allah sudah memberika sinyal otomatis dengan rasa kenyang.

Bagaimana kaitannya dengan puasa?

Puasa adalah mengendalikan diri supaya kita makan sesuai dengan ukuran kebutuhan ragawi yang semestinya (proporsional) atau dalam bahasa computer default. Kalau kita makan berlebihan akan merusak, kalau kekurangan juga akan merusak. Maka nafsu jangan sampai diumbar, hingga akan mengakibatkan tahapan dari makan apa, menjadi makan siapa. Kekurangan makanan juga tidak boleh, karena akan mengakibatkan kerusakan jasadiah. Sedangkan orang yang jasadnya rusak akan mempengaruhi kejiwaannya.

Fitrah adalah ukuran alamiah kebutuhan-kebutuhan manusia. Maka dalam berpuasa kita mengenal dengan ukuran-ukuran. Pada umumnya puasa punya ukuran waktu dari subuh hingga terbenamnya matahari. Juga puasa punya ukuran umur untuk pelakunya dengan dibatasi mulai baligh.

Apa kaitan percaya dengan puasa?

Kalau orang tidak percaya dalam menjalani puasa, maka enam jam pun dia tidak akan kuat.

Percaya itu tempatnya dimana ini?

Percaya itu ada di dalam hati. Disanalah penimbang dari segala ukuran-ukuran. Yang menyebabkan orang bisa yakin. Kalau puasa tidak dikaitkan dengan hati maka tidak menemukan keseimbangan.

Ada beberapa tingkatan orang berpuasa menurut Al Ghazali. Puasa Awam, Puasanya orang awam yang berbasis pada jasadiah manusia. Artinya puasa untuk menahan lapar dan dahaga tetapi pikirannya masih memikirkan makanan; kehendak untuk makan masih ada. Hingga ketika puasa ia justru merencanakan untuk makan. Puasa dalam tingkatan ini secara Syari dianggap masih sah, kerena tidak melanggar apa yang membatalkan puasa, tetapi secara kwalitas dapat dipertanyakan, karena puasa itu kaitannya dengan pengendalian kehendak. Kehendak yang terkendali akan menimbulkan sifat qanaah. Pengendalian kaitannya tidak hanya dengan jasmani, tetapi juga rohani.

Puasa diharapkan tidak hanya merubah pola makan manusia; tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi mampu merubah karakter manusia dari serakah menuju qanaah; dari berlebihan dan kekurangan menuju keseimbangan. Agama diturunkan untuk merubah watak manusia.

Kadang manusia berpuasa jasadnya, tetapi jiwanya seringkali tidak berpuasa. di tengah puasanya justru ia menyusun jadwal untuk makan. Artinya pikiran dan kehendaknya belum berpuasa. Puasa Khas, adalah puasa yang tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi ia mulai memasuki tahap pengendalian fikiran dan kehendak jiwa. Pelaku puasa ini tidak akan memikirkan makanan sebelum waktunya makan, tidak berkehendak pada makan minum sebelum waktunya tiba untuk makan dan minum. Puasa khas tidak mudah dilakukan. Maka kwalitas puasa itu menentukan perubahan karakteristik manusia.

Puasa merupakan bentuk laku pilihan. Apakah puasa ini akan jadi ajang untuk menahan kemudian mengumbar sebanyak-banyaknya selera nafsu. misalnya dengan mengumpulkan berbagai ragam makanan di meja makan buka kita? atau sebaliknya karena pengendalian kehendak itu merupakan out put dari laku puasa.

Kenapa seringkali kita kesulitan mengatur kehendak kita, karena memang ada beberapa nafsu kita yang belum terdidik.

Nafsu dalam masyarakat Jawa sering digambarkan dengan simbolik kuda, dalam bahasa Jawanya Jaran (dijarke sak paran-paran) keliaran-keliaran yang tidak dikendalikan, tetapi justru dibiarkan begitu saja. Seandainya jaran ini dibiarkan maka ia terbebas dari kendali akal kita, sehingga ia menjadi kuda liar, sebagaimana nafsu kita.

Nafsu itu bukan bisikan-bisikan tidak baik, tetapi daya hidup yang membutuhkan pembinaan. Pembinaan nafsu, sebagaimana menundukkan kuda, yang berawal dari pelatihan kuda oleh seorang pawang untuk menundukkannya, kemudian dilatih untuk mematuhi perintah-perintah dari jurumudi. Jurumudi itulah sebagai lambang akal. Ada beberapa alat pengendali kuda, termasuk tali kekang, sebagaimana nafsu kita yang juga membutuhkan ‘tali kekang riyadloh’ untuk mengendalikan jaran nafsu kita. Tali kekang yang berfungsi sebagai pengendali juga merupakan batasan bagi jaran. Hingga untuk mengendalikan nafsu juga perlu diketahui batasan-batasan yang dioperasionalkan melalui akal. Akal berfungsi untuk mempertimbangkan batasan-batasan perilaku manusia yang didasari nafsu yang bersifat instingtif. Sebagaimana hewan yang makan, minum, merupakan bentuk respon otomatis atas makanan yang ada didepannya. Itulah perilaku instingtif.

Kita bisa mengetahui perkembangan nafsu ini sejak lahir hingga masa remaja. Misalnya pendidikan PAUD dan TK yang paradigma pendidikannya harus menyenangkan, metode pendidikannya sambil bermain, karena memang anak seusia TK perkembangannya masih bersifat naluriah. Yang tumbuh adalah nafsu, belum banyak menggunakan pertimbangan akal. Maka kewajiban apapun biasanya dibebankan oleh Allah kepada hambanya menunggu masa berakal (aqil) dan masa sampainya usia pubertas (baligh) dan berfungsinya akal itu secara operasional yang kemudian disebut sebagai (tamyiz).

bersambung

26/6/2018

AHSA

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran