Maiyahan Reportase

MEMAHAMI DIRI LEWAT SUBJEK, OBJEK, DAN FILSAFATNYA

Tanggal 11 bulan enam hari selasa, dipilih menjadi hari diadakannya maiyah kali ini dengan tema Dunia Tanpa Objek. Alasannya adalah kabar pasti akan diselenggarakannya acara Sinau Bareng di Kendaldoyong, Pemalang pada tanggal 12. Acara mala mini pun mulai masuk pada inti acara dengan mukodimah yang dibacakan oleh Badrun yang bercerita tentang kisah tentang suatu wilayah dimana semua penduduknya buta, tiba-tiba kedatangan pasukan yang membawa gajah. Dan dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka mencoba meraba-raba bagaimana bentuk sebenarnya dari seekor gajah. Pada akhirnya, yang mereka ungkapkan adalah bentuk dari prasangka atau opini lewat pengalaman mereka masing-masing.

 

Dunia Tanpa Objek

Tema kali ini memang cenderung menjadi bahasan yang tidaklah mudah. Dunia sebagai bentuk dari keberadaan manusia yang menjalankan tugas sebagai salah satu makhluk Allah di bumi, sedangkan objek itu nyata atau tidak nyata pasti akan selalu bersinggungan dengan dunia ini. Mas Riul sebagai salah satu orang yang menggagas tema ini secara perlahan mulai memberikan pengantarnya. Dunia tanpa objek menurutnya bisa dimaksudkan sebagai bentuk dari pembebasan terhadap objek. Seperti filsafat jawa yang telah menelurkan konsep sugih tanpa banda. “Bondo dimensinya adalah materi, secara esensi dia lebih dari kucukupannya. Kalau dalam wayang kan ada cerita tentang Ekalaya yang ingin berguru kepada Durna tetapi dia tidak diterima oleh Durna, lalu dia ke hutan membuat patung Durna sendiri dan disembah. Selanjutnya dengan proses yang dia yakini itu, ia mampu mencapai ilmunya. Mungkin buat orang lain tidak seperti itu, tapi dia membuat kurikulum sendiri dan percaya disitulah ilmunya”. Mas Syafa berpendapat bahwa dunia tanpa objek adalah dunia yang tanpa tujuan. Sesuatu yang sia-sia. “Ibarat saya malam hari ini datang menuju acara suluk pesisiran disini, saya sebagai subjek dan suluk pesisiran adalah objeknya. Kalau tidak ada objeknya kan berarti saya tanpa tujuan”.

Mas Mubin yang juga adalah penggiat Maiyah Suluk Sibar Kasih di Cikarang ikut memberikan pemikiran bahwa dunia itu sifatnya adalah materi, sesuatu yang nampak, dan dunia itulah objeknya sendiri. Kita tidak bisa lepas dari objek itu sendiri. Dan yang selalu Mbah Nun ajarkan adalah agar kita selalu mencoba zoom out dari dunia. Objek ini bisa kita cari dan gali melalui ilmu. “Tapi begitu kita menggunakan ilmu, otomatis menggunakan iman. Di Maiyah ini kita harus punya tujuan untuk kemaslahatan bersama. Sekalipun nanti tujuannya menemui kegagalan. Ya sudah, yang terpenting adalah kita tetep perjuangkan dan yakin”. Pandangan lain diutarakan oleh Mas Eko Suprihan, “Objek itu ada yang memaknai sebagai suatu penderita. Atau sesuatu yang dikenakan. Kalau dunia tanpa objek bisa diartikan dunia tanpa penderitaan kalau konteksnya objek sebagai penderita. Tapi bagaimana menurutmu ketika manusia dilahirkan di bumi ini tapi malah kemudian menjadi tempatnya salah dan lupa? Saya pikir ada nilai penderita disitu”. Terus bagaimana kita menjadi manusia yang berjalan tanpa penderitaan? Karena subjektivitas itu muncul ketika alam fikiran manusia itu mulai bekerja. Mulai ada keinginan-keinginan dan perspektif. Mas Eko mencontohkan tentang bagaiamana manusia sekarang ini memandang keilmuan. “Kenapa manusia belajar ekonomi? Bukannya serta-merta ingin memahami sirkulasi kehidupan lewat ilmu ekonomi sebagai nilai pengabdian kepada Tuhan. Namun langsung diarahkan kepada objektifitasnya yaitu uang. Ekonomi pokoknya soal uang. Padahal ekonomi ada etika, moralitas, hukum, dan sebagainya.” Fenomena inilah yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Ketika kita belajar ekonomi arahnya adalah materi atau uang.

Kalau dilihat dari sudut pandang Jawa, pembahasan dunia tanpa objek ini mirip dengan penggambaran kecenderungan sikap kita untuk mendekat pada Tuhan. Menurut Pak Turadi, yang pertama adalah konsep Tuhan yang jika dicari sampai ketemu tapi kalau ketemu itu bakal kapusan. Karena Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan. Tidak bisa digambarkan atau dilambangkan sebagai bentuk apapun. Yang kedua adalah konsep lakon Dewa Ruci dalam pewayangan jawa. Dewa ruci kala itu juga mencari kekosongan. Dan dalam mencari kekosongan itu ia berupaya mati-matian dengan membabat Alas Wanamarta. Setelah berhasil, ia menemukan dua butir buah. Dua butir buah ini kemudian membentuk dua raksasa besar, membuat Dewa Ruci harus bertempur dan mengalahkan kedua raksasa itu. Kemudian godaan terakhir adalah dililit ular. Disitulah Dewa Ruci menemukan jati dirinya atau dunianya yang disebut awang-awang atau uwung-uwung. Menemukan amek banyu suci pramita sari lebur papan lan tulise. Karena dalam diri individu yang namanya babat alas itu berarti kita membersihkan diri dari pikiran-pikiran buruk yang urusannya adalah duniawi. “Kalau ditarik ke dunia kecil kita yaitu dunia manusia. Saat manusia sedang laku spiritual, maka tahap pertama harus menyingkirkan hal-hal yang urusannya dengan duniawi. Setelah mampu mengosongkan, melebur ego, dan mentransformasikan diri individu terhadap diri universal, baru orang itu kemudian mampu meloloskan diri ibarat burung keluar dari sangkar. Jadi kesadaran tanpa raga. Hidup, kehidupan, dan yang menghidupi. Ada satu hidup yang sifatnya abadi  yang tidak tersentuh dengan kematian. Itulah yang dipelihara terus menerus oleh budaya Jawa. Ketika manusia harus mancal dunia,kemudian kok masih ada ingatan dengan yang namanya pepohonan atau bangunan. Itu bukan meninggalkan dunia, tapi dunia ditarik kesana. Kalau yang dipegang orang jawa, sesungguhnya yang berhasil adalah yang betul-betul sampai ke dunia tanpa objek  maka ia tidak lagi melihat apa-apa, kosong.”

 

Kehadiran Filsafat Mampu Melahirkan Budaya

Tema dunia tanpa objek ternyata tak bisa lari dari masalah ilmu filsafat. “Filsafat itu dihadirkan untuk memecahkan kebuntuan. Bukanlah untuk berseteru antar pihak untuk mempertahankan kebenaran. Juga bukan untuk mengompor-ngompori,” terang Pak Turadi. Beliau menyoroti bagaimana filsafat juga mulai digunakan untuk ajang unjuk kebenaran bukan mencari yang paling dekat dengan kebenaran. Bahkan digunakan untuk saling menjatuhkan. Karena seperti yang diterangkan dalam mukodimah bahwa sejatinya kebenaran itu adalah tentang persepsi. Pak Turadi menerangkan contoh dari hasil berfilsafat yang menjadi budaya adalah adat di tiap-tiap hari raya. “Misalkan idul fitri, ketika seseorang setelah puasa kemudian idul fitri. Kamu datang kepada orang tua untuk meminta maaf walaupun belum tentu juga kamu punya kesalahan. Ini yang kemudian menjadi tradisi mudik, kemudian masuk ke ranah budaya islam. Tadinya ini hanya ada di Jawa, di Sumatra tahun ‘73 belum ada budaya itu disana.”

Beliau juga memberi tanggapan atas desas-desus yang sedang terjadi di masyarakat terkait Mbah Nun yang menyebut Presiden adalah pelayannya. “Pemerintah pusat itu di Jakarta, pusat pemerintahannya juga di Jakarta. Ini salah kaprah. Kalau pusat pemerintahan itu digambarkan sebagai pangkal, maka ujungnya adalah pemerintahan pusat. Jadi mulai dari presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, dan RT itu adalah pelayan. Jadi tidak salah kalau Pak Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa mereka itu pelayan masyarakat, itu tidak salah di era sekarang ini. Jadi maksudnya beliau itu ingin menerangi kita agar kita ini tidak terjebak pada dikotomi sempit dan feodalisme gaya baru. Di jaman demokrasi ini, ayolah pikiran kita cerahkan.”

 

Peran Perempuan Dalam Dunia

Salah seorang jamaah perempuan menanyakan bagaimana seharusnya perempuan berperan dalam kehidupan dan mampu mempersembahkan sesuatu kepada Indonesia apabila budaya yang berlaku malah menyempitkan perempuan. Pak Turadi memberikan tanggapan bahwa perempuan di zaman kerajaan itu memang selalu dipingit, sampai dengan dijaman penjajahan belanda. Maka munculah Kartini sebagai perempuan yang tak mau dipingit. Walaupun lingkungannya tetap saja tidak berkenan kalau anak gadisnya keluar. Maka hikmah dari kemerdekaan adalah perempuan mampu mengeksplor dirinya. Meskipun sebenarnya kemerdekaan bukanlah tujuan akhirnya melainkan sebagai jembatan emas. Mas Eko turut menambahkan bahwa dalam budaya islam perempuan justru diperlakukan dengan sangat terhormat. “Dia bukan tidak boleh sekolah. Wanita kan tugasnya mendidik anak. Kalau didik anak berarti dia harus menyiapkan generasi yang berlian jadi tentu ilmunya harus luas. Kalau anak-anak Indonesia itu cerdas, wawasannya luas, dan secara spiritual bagus, ini akan menjadi ketakutan bagi mereka yang berkepentingan untuk membuat negara kita tetap utuh. Cut Nyak Dien adalah pemimpin perempuan yang berlian, dia bisa mengkonsolidasikan tentara, sejarawan, dan budayawan dalam konteks masing-masing yang tujuannya adalah mengusir penjajahan. Cut Mutia, sebelum RA Kartini menuntut sekolah, Cut Mutia bahkan sudah membikin sekolahan. Kemudian kenapa yang ditunjuk pahlawan bukan Cut Mutia tapi RA Kartini? Apakah ini hegemoni atau realita?” Jadi memang seharusnya kita pelajari lagi hal-hal seperti ini.

 

Sebagai Subjek dalam Dunia

Mas Andi bercerita bagaimana pernah suatu kali di IAIN Walisongo Semarang, Caknun berucap bahwa kita sebagai manusia itu apakah posisinya sebagai makro atau mikro terhadap alam ini? Andaikan manusia adalah mikro maka manusia akan menjajah alam sebagai objeknya. Maka Mas Andi membagi penjelasan dunia tanpa objek ini menjadi dua, sebagai manusia secara utuh dan sebagai bangsa Indonesia. Sebagai manusia yang makro, manusia adalah makhluk yang mengandung unsur alam, ada air (keringat, pipis), udara (kentut, sendawa), tanah, api (amarah,semangat). Tapi unsur alami manusia tidak dimiliki oleh alam. “Pohon dan Gunung bisa kecil kemudian membesar. Manusia bisa beranakpinak, tapi gunung tidak bisa. Maka manusialah yang seharusnya berfungsi sebagai makro.” Kemudian sebagai bangsa Indonesia adalah bagaimana kita melihat wajah kita hari ini. Saat kita berekonomi dari alat-alat seperti peniti, silet, sampai mesin kita membelinya dari asing. Kita telah menjadi objek dari mereka. “Maka karya itu apa? Karya adalah perubahan bentuk. Dari Kedelai menjadi tempe, singkong jadi tape. Sesuatu yang dirubah bentuknya menjadi lebih mahal. Teknologi besi, jika kita subjek maka jadilah keris. Batu yang digergaji sampai rata lalu dijadikan candi.”

Pada penghujung acara, Gus Asep menceritakan bagaimana Nabi Isa  dibuat pusing kala disuruh untuk menemukan bagaimana caranya agar agama adalah hal yang sangat ringkas namun memiliki pemaknaan yang sangat dalam. Maka Nabi Isa berkata, “Kamu berbuat sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat kepadamu, dan engkau tidak berbuat sebagaimana engkau tidak ingin orang lain berbuat kepadamu.” Kalau dalam filosofi jawa, kita mengenal  istilah Tepo Slira.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran