Mukodimah: Matak Aji

Mendengar kata Matak Aji seperti memutar kembali rekaman lama yang tertimbun oleh album-album kenangan dari masa ke masa. Ada klangenan masa kanak-kanak pada sebuah serial sandiwara radio Saur Sepuh atau Tutur Tinular, yang kala itu mampu menggemparkan seisi kampung. Hampir seisi kampung sangat menantikan saat-saat sandiwara radio itu diputar. Apanya yang menarik? Yaitu, kemampuan sandiwara radio itu membangun imajinasi pendengarnya. Termasuk ketika tokoh-tokoh dalam sandiwara radio itu, seperti Arya Dwipagga, Arya Kamandanu, Mpu Tong Bajil, Brama Kumbara, dan para pendekar lainnya tengah berlaga. Mereka tentu punya jurus atau ajian andalan masing-masing. Tetapi, biasanya ketika mereka akan mengeluarkan ajian andalannya, mereka akan mengucapkan sebuah mantra “Sun matak aji….”

S. Prawiroatmojo, dalam Kamus Bausastra Jawa yang disusunnya, memasukkan lema matak aji dengan arti membaca mantra atau mengucapkan mantra. Kata mantra sendiri, sebagaimana dicatat Zutmoelder lewat Kamus Bahasa Jawa Kuna, diartikan sebagai teks suci, doa atau formula magis. Sedang dalam istilah kesusastraan, kata mantra, oleh Abdul Rozak Zaidan dkk, diartikan sebagai bentuk karya sastra (puisi) Melayu lama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh pawang atau dukun untuk mempengaruhi kekuatan alam semesta atau binatang. Bentuknya berupa pengulangan kata atau larik.

Memang, apabila kita menengok ke belakang, kata mantra diambil dari bahasa Sanskerta. Tak ayal jika kemudian kata ini lebih banyak ditemukan di dalam kitab-kitab Hindu dan Buddha, sehingga penggunaan kata mantra pada akhirnya dilekatkan pada tradisi Hindu dan Buddha. Tetapi, ketika Islam masuk ke tanah Jawa, sempat pula kata mantra itu digunakan dalam karya sastra Jawa yang diyakini sebagai gubahan Sunan Kalijaga. Namanya Weda Mantra. Di dalamnya, terhimpun 178 mantra. Isinya, adalah doa-doa penolak bala serta tuntunan untuk mengenal sejatinya diri dan Diri Yang Sejati.

Baiklah. Terlepas dari masalah istilah, manusia tidak bisa mengelak dari gerak ruang-waktu sejarah. Sejak para Nabi sampai sekarang manusia tidak bisa dilepaskan dari doa. Umumnya, doa-doa itu menjadi marak dilantukan ketika kesusahan menimpa pada diri manusia. Mengapa demikian? Sebab, diakui atau tidak, manusia—di dalam melakoni kehidupan—memiliki batas yang tak tertembus oleh segala usahanya sendiri. Kekuatan pada diri manusia amatlah sangat terbatas. Maka, di dalam doa itulah sesungguhnya manusia mewariskan kesadaran tertinggi dari masa lampaunya, masa awal manusia itu tercipta. Dalam pandangan alam pikir Barat (yang cenderung materialistik), doa atau mantra kemudian disebut sebagai sesuatu yang memiliki daya magi. Magi sendiri berkait paut dengan keyakinan, mitos, atau kekuatan supranatural.

Pandangan ini tidak bisa begitu saja disalahkan. Maklum, pengalaman spiritual, lewat kacamata ilmu pengetahuan yang dijiwai oleh filsafat materialisme, tidak menjadi bagian yang diutamakan. Mereka menunda sementara waktu, agar mereka bisa lepas dari pemikiran yang dianggap mistik dan irasional. Berbeda dengan bangsa-bangsa Timur, yang rupanya memiliki pengalaman spiritual yang begitu kaya.

Pada setiap bangsa-bangsa Timur, lebih khususnya lagi bangsa-bangsa yang hidup dan menghuni tanah Nusantara, memiliki kisah-kisah penggugah spiritual yang beragam. Berangkat dari pengalaman spiritual yang sangat kuat sentuhanya dengan mistisisme, kisah-kisah itu dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lalu, menjadilah ia sebentuk sastra lisan—sebuah kekayaan dunia sastra yang tidak dimiliki oleh bangsa Barat, sebagaimana diakui oleh pakar sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw. Melalui kisah-kisah itu, masyarakat adat di tanah Nusantara ini menganyam pengertian dan pemahaman, bahwa manusia di dunia ini tidak menjadi satu-satunya makhluk hidup. Tetapi, ia merupakan bagian dari alam semesta. Tersebab itu, manusia tidak bisa lepas dari hukum alam. Manusia tidak bisa lepas dari sistem kerja alam yang demikian kompleks.

Kesadaran itu membawa manusia ke dalam sikap dan laku hidup yang berusaha senantiasa setia dan menjunjung tinggi alam. Penghormatan dan penghargaan yang diberikan manusia kepada setiap elemen dan unsur alam ini kemudian diwujudkan ke dalam berbagai upacara. Di dalamnya, untaian doa-doa dilantunkan, sebagai rasa terima kasih manusia pada alam, penghormatan atas jasa seluruh elemen alam, dan rasa syukur manusia kepada Yang Memulakan Kehidupan di alam raya ini. Inilah yang kemudian dinamakan sebagai keselarasan hidup.

Sekarang, mari kita tengok ke masa kini. Manusia modern (sebagaimana diimpikan lewat cakrawala pandang materialisme), masihkah menjadi manusia-manusia pendoa? Apa yang membuat mereka mesti berdoa?

Tentu, banyak alasan untuk menjawab pertanyaan kedua. Tetapi, secara umum, doa-doa itu tampaknya lebih sering dilantunkan saat manusia tengah dirundung gelisah dan cemas. Gelisah karena apa? Cemas karena tujuan apa? Di balik setiap tempurung tengkorak manusia pasti punya alasan dan tujuan yang berbeda-beda.

Meski begitu, apapun bentuk kesusahan, pada dasarnya sangat berjasa besar bagi manusia. Ia menjadi pengingat atau semacam warning system, agar manusia kembali menundukkan kepala dan pasrah. Mengakui dirinya sebagai makhluk lemah di hadapan Dzat Yang Paling Lebih dan Sangat Pantas Diharapkan.

Dengan begitu, manusia menjadi sadar, bahwa segala pengetahuannya itu tak mampu menjangkau apa yang akan terjadi di masa depan. Prediksi hanyalah pembacaan atas gejala-gejala. Proyeksi hanyalah spekulasi yang masih berupa sekumpulan kemungkinan tak pasti. Maka, masa depan adalah perkawinan antara harapan dan kecemasan pada diri manusia. Harapan menjadikan manusia mesti tegar menghadapi segala yang terjadi. Kecemasan menjadikan manusia mesti sadar diri, nrima, pasrah, dan mestinya taat kepada Yang Maha Mendatangkan apa saja pada kehidupan ini.

Manusia, dengan demikian, lebih banyak tidak tahunya. Maka, di dalam kesadaran akan ketidaktahuan itu, manusia semestinya mewakilkan ketidaktahuannya itu kepada Dzat Yang Maha Tahu. Maka, di sanalah manusia mesti menuntun dirinya untuk senantiasa merapal mantra laa haula walaa quwwata illa billah. Bahwa tidak ada daya kekuatan (pada diri manusia) kecuali hanya (bersandar) pada Allah. Tidak ada daya kekuatan kecuali semata-mata hanya dari Sumber Pusat Daya Kekuatan, Allah Yang Maha Dahsyat Kekuatannya.

Dari sinilah kita berangkat. Bahwa doa adalah senjata bagi orang-orang mukmin. Addu’a shilahul mu’min. Mengapa senjatanya doa? Keterbatasan manusia meniscayakan manusia bersandar kepada Dzat Yang Tak Terbatas. Kebodohan manusia mengharuskan dirinya sadar mengharap petunjuk kepada Al Hadi, kebaruan dan kefanaannya memastikan dirinya tak mungkin lepas kepada As Shomad. Kelemahan manusia bisa dikuatkan dengan ruh Al Qowiyy.

Bahwa senjata yang disebut aji, mantera, wirid, hizib, doa diperlukan untuk mengingatkan kembali masuk kepada diri ruhani dan merasakan kehangatan pelukan-Nya.

Kehidupan manusia modern yang makin materialis dirasa semakin sepah atau sepa, hingga hilang pada diri manusia modern itu kesadaran tertingginya. Bahwa mantra, wirid, aji, doa, diyakini akan mengantarkan ke ketenangan, keindahan ruhani hingga berjumpa dengan Allah SWT. Dan tentu masih banyak fungsi dan manfaat matak aji, yang bisa kita sinauni di Maiyahan Suluk Pesisiran.

Bagikan:
,