Lumbung

 

Sejak akhir 2019 manusia seantereo bumi diselimuti oleh wabah Covid19. Virus ini menurut kabar berita berasal dari Laboratorium di Wuhan China. Pandemi ini mampu menghentikan laju polusi, membatalkan hampir semua rencana manusia di tingkat lokal, hingga internasional. Mampu mengurung manusia di tempat peraduannya masing-masing. Coronavirus tak hanya menjadi ancaman, bahkan ia membawa hikmah, berkah yang banyak. Diantaranya sebagian manusia mampu kembali menyadari tentang kekhilafan manusia dihadapan lingkungan dan Tuhannya; pentingnya kebersihan, kesehatan, dan kebaikan bergaul dengan lingkungan.

Coronavirus secara wujud kasat mata karena saking kecilnya, tapi secara kualitatif ia sangat besar karena mampu menggenggam bumi. Hingga hampir seluruh penghuni planet ini merasa prihatin. Berdasarkan penelitian-penelitian yang terus dilakukan para ilmuwan, diantaranya menyatakan bahwa Coronavirus optimisnya akan berakhir pada tahun 2022 tapi pesimisnya hingga 2026. Akhirnya beberapa ilmuwan menyarankan agar manusia menerima keberadaan Covid19, sebagaimana sikapnya terhadap penyakit flu. Hal ini tidak terlepas karena Coronavirus mampu memutasi diri, sampai dapat menjelma menjadi beberapa jenis tipe virus.

Melihat prediksi ilmuwan tentang panjangnya rentang wabah ini berlangsung, diprediksi akan membawa dampak bagi kehidupan manusia, khusunya terkait dengan krisis pangan. Distribusi hasil produksi makanan yang tak lancar akibat PSBB, berbuntut pada mandeknya produksi. Produsen tidak mampu memproduksi pangan kembali karena kehilangan modal. Sekali dua kali terhambatnya distribusi produk makanan masih potensi untuh tumbuh, tapi kalau Cobaan Global dan semua konsekwensinya ini berlangsung hingga satu dua tahun? Tentu krisis pangan akan melanda bangsa ini. Bagaimana antisipasi kita sebagai bagian dari bangsa? Monggo saksikan dalam maiyahan Suluk Peisiran Pekalongan yang akan berlangsung secara online.

 

 

Catatan : tautan tayangan langsung akan diinfokan segera.

Bagikan: