Istiqomah Merawat Meski Sudah Banjir Bandang

Udara malam itu, sebenarnya memberi alasan yang tepat bagi siapa saja untuk mengenakan jaket. Didukung pemandangan langit yang plong, terang bulan, juga area yang terbuka. Akan tetapi, orang-orang yang duduk melantai di Pendapa Kecamatan Kedungwuni itu tampak tak terganggu dengan hawa udara yang lumayan dingin. Dalam kebersamaan itu, mereka justru merasakan kehangatan yang berangkat dari ketulusan. Mereka juga menikmati sajian tema diskusi yang masih hangat, menyoal Banjir Bandang.

Sebagaimana terkabar dalam berbagai media, sekitar akhir Januari hingga minggu awal Februari lalu, banjir; tidak sekadar menjadi kata yang dimaknai seperti dalam KBBI. Ia telah mengejawantah menjadi peristiwa. Dampaknya sangat dirasakan betul oleh sebagian besar warga Pekalongan, terutama yang menghuni kawasan bawah. Nyaris separuh lebih kawasan bawah kota produsen Batik ini lumpuh. Tersebab itu, banjir; tidak sekadar dibaca sebagai fenomena alam. Akan tetapi, juga telah berdampak bagi seluruh aspek kehidupan. Ia memberi dampak pada masalah sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik dan kebudayaan, bahkan dalam aspek religiusitas.

Berkaca pada peristiwa itu, majelis rolasan Maiyah Suluk Pesisiran mengetengahkan tema Banjir Bandang sebagai upaya membaca kembali peristiwa banjir dalam berbagai perspektif. Dalam rentang masa yang teramat panjang, banjir menjadi pengalaman umat manusia di sepanjang lajur sejarah. Peristiwa Bahtera Nuh, yang tercatat di semua kitab suci, merupakan peristiwa besar yang mesti dijadikan pelajaran penting bagi seluruh umat manusia. Terutama, tentang bagaimana cara manusia bersikap dan bertindak atas peristiwa banjir. Hal itu dikemukakan Kang Fredi Kastama, yang bertindak sebagai pembaca mukadimah malam itu.

Dengan perasaan mendalam, pembacaan mukadimah Kang Fredi tidak hanya serupa memendarkan wawasan yang tersimpan di balik tempurung kepalanya, melainkan pula penuh kesan. Apalagi, secara pribadi, ia telah mengakrabi banjir itu dalam kehidupannya sehari-hari dengan rentang waktu yang cukup lama. Pria yang kini berprofesi sebagai pedagang batik ini, merupakan korban dari pengelolaan tata lingkungan yang keliru. Sehingga, rumah tinggalnya, nyaris tak pernah sepi dari suara kecipak air di setiap ruangan. Tak pelak, keputusan untuk mendapuk Kang Fredi sebagai pembaca sekaligus penulis dari mukadimah kali ini menjadi keputusan yang sangat brilian dari para pegiat Maiyah Suluk Pesisiran.

Kesempatan ini ia manfaatkan pula untuk mengajak seluruh jamaah memikirkan ulang, tentang banjir yang tidak sebatas sebagai gejala alam. Ia menegaskan, bahwa banjir adalah persoalan keumatan. Lewat perspektif ini, banjir tidak mesti dibaca sebagai kesalahan pihak-pihak tertentu. Akan tetapi, ia menjadi wahana untuk terus menggali dan menemukan pelajaran penting di baliknya. “Maiyah Suluk Pesisiran bukanlah wahana untuk saling menyalahkan, mencari siapa yang salah, atau menyalahkan siapapun. Namun, di sini kita sedang belajar bagaimana baiknya kita membuat dan mempersiapkan ‘kapal’ yang kokoh agar tak tergulung ombak,” tegas Kang Fredi yang disambut tepuk tangan para jamaah sebagai tanda kesepakatan sudut pandang.

Usai pembacaan mukadimah, ruang jeda diberikan kepada grup musik Arpeggio. Grup musik yang lahir dari sebuah tongkrongan para pemusiknya dengan latar belakang yang beragam. Sipir penjara, tukang las, penjual batu akik dan masih ada juga yang menjadi staff TU di sekolahan. Irama musik mereka menambah hangat suasana malam itu, terlebih dengan lagu karya mereka berjudul Jika. Sebuah lagu tentang kerinduan pada sebuah pertemuan yang entah kapan akan terjadi.

Setelah meneguk nada-nada, kajian diskusi disambung kembali. Kang Nasrul Rohim yang biasa bertugas sebagai perancang pamflet, nguda rasa. Dengan gayanya yang selalu menerawang cara pandang, ia lantas menyampaikan kelumit dalam pikirannya. Bahwa banjir itu mestinya dibaca dalam laku kehidupan yang kompleks. Ada taffakur, tadabbur, juga tazakkur. Ia mencermati, fenomena banjir tidak sekadar berupa genangan air, melainkan juga banjir yang merebak di media-media sosial saat ini. Luberan informasi juga bagian dari fenomena banjir. Apa sebab dan bagaimana dampaknya, telah sama-sama dirasakan oleh semua generasi. Karena bersamaan luberan itu ada pula sampah-sampah. Ada juga korban luberan informasi yang hanyut di antara derasnya arus informasi, ia bersusah payah mencari pegangan tetapi saking derasnya, pegangan itupun tak mampu menahannya. Ada juga yang hanya di tepi, tetapi tak bisa menolong, sebab tak tahu caranya untuk menolong. Semua dibingungkan oleh gejala banjir bandang informasi.

Sontak, lontaran Kang Nasrul yang demikian bernas ini mendapat umpan balik. Salah seorang jamaah yang lahir sebagai generasi millenial menanggapi pernyataan Kang Nasrul dengan menambahkan satu poin lagi. Bahwa hal yang juga tak kalah penting bagi penyikapan banjir informasi ini adalah tashabur. Diwujudkan ke dalam ikhtiar atas segala hal yang sedang dihadapi.

Tidak dipungkiri memang, informasi itu dibutuhkan. Ia ibarat cahaya penerang bagi kegelapan. Tetapi, apabila intensitas cahaya itu berlebihan, justru akan berakibat buruk bagi indera penglihatan manusia. Ibarat mata manusia yang memiliki kapasitas terbatas dalam menerima cahaya yang masuk. Ia hanya bisa menerima manfaat cahaya matahari, tetapi ia tak cukup mampu dan kuat untuk menatap matahari langsung, apalagi dalam rentang waktu yang cukup lama. Di samping itu, ketajaman pandangan mata juga perlu diasah dan dilatih. Semakin sering ia berhadapan dengan cahaya, retina dan saraf-saraf pada bola mata manusia bisa saja tergerus dan berkurang kemampuannya. Maka, ia perlu pula memasuki masa jeda, masa sebelum cahaya.

Dan malam itu, terlantunlah lagu Sebelum Cahaya, karya Letto, menjadi sebuah koor. Dinyanyikan oleh grup musik Arpeggio dan seluruh jamaah yang hadir. Lagu ini sekaligus mengiringi para pembawa obor sekaligus mata air pengetahuan yang menjadi pemantik diskusi malam itu. Di antara mereka ada Kang Agus Sulistyo, Pak Turadi, dan Om Dicko Handono. Kehadiran mereka terasa makin menghangatkan suasana.

Om Dicko merupakan salah satu pegiat lingkungan dari Komunitas Sapu Lidi. Ia selalu aktif menggerakkan masyarakat untuk resik-resik kali. Dengan gaya bicaranya yang mengesankan dan tegas, Om Dicko mencoba mengalirkan pandangan dan pengalamannya lantas berujar, “Sungai adalah penjaga kehidupan. Sungai adalah penjaga peradaban. Ia juga yang menjaga roda ekonomi agar terus berputar. Maka, di mana ada sungai, di situlah ada kemakmuran.”

Pandangan yang bernas ini diperkuat dengan bukti-bukti sejarah peradaban manusia. Bahwa sungai-sungai di seluruh belahan dunia merupakan cikal bakal tumbuh kembangnya peradaban. Sebut saja sungai Eufrat dan Tigris di daratan Persia sana, telah melahirkan peradaban bangsa-bangsa besar seperti Sumeria, Mesopotamia, Babilonia, Assiria, Akkadian, dan Persia. Begitu pula sungai Nil yang berjasa besar bagi peradaban Mesir dan bangsa-bangsa Afrika lainnya. Demikian pula sungai Gangga di India, sungai Kuning di Cina, Amazon di Amerika, dan sungai-sungai lainnya.

Indonesia, sebagai kawasan maritim, tidak bisa lepas dari kenyataan sejarah yang demikian. Bentang alam yang didominasi oleh laut, menjadi saksi sekaligus bukti sejarah peradaban bangsa. Bahwa kebesaran bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari peran alamnya. Oleh sebab itu, lewat jargonnya, “Air nadiku, maritim budayaku,” Om Dicko mengajak agar siapa saja untuk merawat sungai. Sebab sungai dan kekayaan alam adalah harta warisan yang mesti dijaga untuk generasi masa depan.“Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya bisa melihat kerusakan alam yang kita timbulkan, karena kita salah urus alam dan lingkungan kita. Kasihan,” ungkapnya.

Ungkapan itu sekaligus menandai, bahwa apa yang dilakukan Om Dicko, menjaga dan merawat alam, adalah sebuah panggilan jiwa. Hal demikian, sekaligus dijadikan sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah. Sekalipun tak dipungkiri, ia sering mendapatkan tertawaan bahkan menjadi bahan olok-olokan. Tetapi, itu semua disikapinya dengan santai. Ia menganggap sebagai bagian dari ujian yang diberikan Allah kepadanya untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah.

Semakin cinta, semakin besar pula ujian yang akan dan harus dihadapi. Sebagaimana memaknai banjir. Apakah ia ujian atas rasa cinta? Ataukah ia benar-benar bentuk murka Allah kepada manusia? Kali ini, Kang Agus, seorang sarjana kedokteran yang beralih profesi sebagai pegiat sejarah, mencoba menelisik hakikat banjir bandang. Ia mulai mengurutkan banjir dari persoalan yang material. Banjir sebagai peristiwa alam. Menurutnya, mula awal terjadinya banjir adalah dari air. “Air, keadaannya adalah materi. Maka kita tidak bisa berkilah dari hukum materi. Materi dalam bumi ini jika dipecah akan menjadi empat unsur, yaitu tanah, air, angin dan api,” tuturnya.

Banjir bandang, dalam pemikiran Kang Agus, kadung dipandang sebagai bencana. Padahal, air—sebagai asal mula terjadinya banjir—pada hakikatnya memiliki watak sebagai jodoh. Air memiliki watak lemah lembut, mampu menyesuaikan diri, dan dinamis. Maka, air dapat menghadirkan kesejukan dan ketenangan. Lantas, mengapa bisa terjadi banjir? Bisa jadi, karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Terutama, hukum materinya. “Alam memberi gambaran dahulu, agar kita manusia mampu belajar dari fitrahnya; apa adanya. Alam sesungguhnya berjalan dengan tenang dan saling berjodoh,” imbuhnya, sebelum akhirnya mic bergeser ke Pak Turadi.

Kali ini, Pak Turadi, salah seorang sesepuh di Batang, mengurai permasalahan banjir bandang dari perspektif sejarah dan budaya. Dengan suaranya yang agak ngebass, ia tuturkan, bahwa mula awal istilah banjir bandang itu dipopulerkan oleh Ismail pada tahun 1980. Sementara, bahasa Jawa menyebutnya ladhu.

Lewat perspektif kebudayaan, Pak Turadi membuka cakrawala pandangan tentang banjir bandang sebagai penyebab penggerusan nilai-nilai budaya leluhur. Banjir bandang bisa diartikan sebagai gelontoran budaya-budaya dari luar yang merangsek ke dalam bangunan budaya leluhur, mengakibatkan kelunturan dan kehilangan nilai-nilai budaya bangsa. Disebutkan pula, bahwa kapitalisme, narsisme, dan materialisme merupakan cara pandang yang kemudian merenggut nilai-nilai budaya bangsa pendahulu. Tidak ayal, jika banjirnya isme-isme itu telah menghilangkan apa yang sudah menjadi pandangan bangsa ini.

Sebagai orang yang tak berhenti mengamati gejala sosial dan politik negeri ini, Pak Turadi memberikan beberapa contoh kasus dari penghilangan nilai-nilai budaya bangsa ini. Di antaranya, fenomena KPK yang lebih mengedepankan OTT. Menurutnya, tindakan itu timbul sebagai benih semai dari nilai narsis yang cenderung akan melahirkan kapitalis. Ia menyarankan, semestinya KPK dapat lebih arif dalam bertindak. Mengedepankan pencegahan ketimbang sibuk melakukan OTT. “Karena jika tidak begitu, maka KPK tak akan dikenal begitu cepat. Padahal akan lebih baik dan lebih menampilkan kearifan seperti yang dilakukan nenek moyang kita jika KPK memilih mengedepankan pencegahan,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyoroti masalah rokok. Dengan gaya kelakarnya, Pak Turadi menduga, ada upaya-upaya “pengucilan” terhadap para perokok. Lewat iklan-iklan dan kampanye anti rokok, para perokok ini dianggap sebagai pengganggu dan perusak lingkungan. Pandangan ini dikhawatirkan akan melahirkan cara pandang yang berakibat fatal. Yaitu, asap knalpot lebih baik dan lumrah daripada asap rokok. Padahal, para pemikir dan penggagas negara ini rata-rata adalah para perokok. Kontan saja, kelakar Pak Turadi ini disambut gelak tawa dari seluruh jamaah. Sebab, entah kebetulan atau bukan, hampir rata-rata yang hadir adalah perokok. Sebagian memang tidak merokok. Tetapi, bukan tergolong yang anti rokok, apalagi anti tembakau.

Tawa jamaah yang membuncah itu sekaligus menandai akhir sesi paparan dari para pembawa obor pengetahuan itu. Lalu, beberapa pegiat tampak mulai sibuk mengedarkan mic nirkabel di tengah-tengah jamaah. Diskusi dilanjutkan dengan mengorek sudut pandang masing-masing jamaah. Berbagai pertanyaan, pernyataan, sanggahan, juga sekadar komentar pun muncrat, membanjiri wacana-wacana tentang banjir. Ada yang mempertanyakan tentang siapa yang mesti bertanggung jawab atas dampak banjir. Ada pula yang mencoba menggali kedalaman batin sehingga berupaya mewadahi luberan-luberan air. Ada juga yang merekap kegagalan demi kegagalan dalam upaya penanganan banjir.

Tetapi, semua yang muncrat itu, lantas teralirkan, hingga muncullah kesepakatan bersama untuk menjaga sikap tidak saling menyalahkan apalagi mencari siapa yang mesti disalahkan. Sebaliknya, dalam balutan yang mesra, seluruh jamaah berusaha bersama-sama membangun kesadaran diri. Menggugah dan membangkitkan kesadaran untuk sama-sama menyelami kedalaman pikiran dan rasa, di dalam menyemai dan menumbuhkan rasa merasa dalam penghayatan jalinan kehidupan yang harmoni.

Sebagai penghujung, Om Dicko menyampaikan pesan penutupnya, “Mulailah dari diri kita sendiri untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat dan menempatkan sampah pada tempat yang semestinya. Kita berharap generasi masa depan bisa membikin teknologi pengolah sampah yang bisa dimanfaatkan secara mudah.”

Gus Mansur yang datang di pertengahan diskusi juga mengingatkan pada penghujung diskusi kali inj, “Sebelum memprotes para pemimpin yang kamu anggap rusak, cobalah lebih dulu untuk memprotes dirimu sendiri.” Maiyahan ditutup dengan lagu Bongkar. Semangat jamaah yang sebelumnya sedikit menegang, kembali cair dan bergembira bernyanyi bersama. Lepas setelahnya dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Gus Mansur.

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita

Sayup-sayup lagu Ebiet yang dibawakan Arpeggio di akhir acara terasa mengiang-ngiang di kepala, menusuk pula ke ulu hati.

Bagikan:
, ,