Idealis Egois

Manusia sebagai makhluk hidup dipinjami jasmani dan ruhani oleh Allah SWT. Dalam ruhani terdapat akal, jiwa, nafsu, hati, ruh, sukma. Jasmani bisa berupa tubuh, jasad, ain, materi. Kalau kepada anak berumur tiga tahun anda menyebutkan kata tangan kemungkinan besarnya balita itu bisa menunjukkan, tetapi kalau anda menyebutkan kata rindu, cinta, anak-anak akan kebingungan mengertinya. Kenapa kok begitu? Salah satu alasannya karena tangan jasmaniah bisa disaksikan indera, dan cinta, rindu itu ruhaniah. Ia bukan materi tetapi rasa hati yang ruhaniah.

Idealisme egoisme dua kata ruhani, tetapi bersumber dari dua makhluk yang berbeda. Idealisme dari akal, sedang egoisme dari nafsu. Memahami idealisme tentunya kita akan mengingat tokoh utamanya: Plato. Tetapi memahami dua kata sekaligus: idealisme egois baru kali ini saya dapati.

Idealisme antonimnya materialisme. Menurut idealisme bahwa kebenaran itu bukan bermula dari obyek yang ditangkap indera, tetapi bersumber dari gagasan. Anda melihat meja kemudian mengatakan meja itu, karena berawal dari konsep yang sudah diterima tentang meja. Kalau ada pemberitahuan, “sebentar lagi meja akan datang.” walaupun mejanya belum ada, di akal kita sudah punya gambaran tentang meja. Itu bukti bahwa kenyataan bersumber dari model (ide) kebenaran yang dibangun di akal. Dalam kata lain, bahwa akal punya dunianya sendiri terhadap kebenaran, sehingga kebenaran itu apa yang dikatakan akal tentang sesuatu (obyek).

Beberapa kebenaran idealisme ini ternyata akhir-akhir ini saling bertabarakan. Katakanlah tentang kebenaran pancasila. Masing-masing orang, golongan punya idealisme sendiri-sendiri tentang apa itu pancasila. Ada golongan yang menghadap-hadapkan pancasila dengan agama. Sebagian lagi mengatakan bahwa pancasila itu hasil serapan dari nilai-nilai agama, karena di dalamnya ada kata-kata serapan dari Al Qur’an. Sebagian lagi melihat pancasila kurang ringkas, hingga perlu diwujudkan usaha menuju ikhtisar Pancasila dengan ekasila.

Idealisme yang berbeda-beda ini membawa dampak pada kerenggangan hingga perpecahan bangsa. Masing-masing menganggap kebenarannya yang paling unggul, sedangkan kebenaran lainnya dianggap sebagai bukan kebenaran, bahkan kesalahan yang mengancam dan harus dimusnahkan. Kompetisi kebenaran bukan merupakan thariqah sesrawungan anak bangsa. Musyawarah mufakatlah yang akan menaikkan benere dewe (idealisme egoisme) menjadi kebenaran bersama (benere wong akeh). Syukur-syukur kita di Maiyah bisa terus mengembara menuju kebenaran sejati.

Bagikan: