Reportase

Catatan Masyarakat Kesemutan

Masyarakat Kesemutan buah inspirasi dari lontaran Gus Sabrang di beberapa Maiyahan perihal bagaimana manusia belajar kepada masyarakat semut. Kenapa disebut masyarakat? Karena mereka saling bekerjasama, bukankah masyarakat berasal dari bahasa Arab yang berarti musyarakah (yang salah satu artinya kerjasama). Juga sangat lazim disebut masyarakat karena semut hidup bersama selama waktu yang lama, dalam hidup bersama mereka istiqomah menjalani titah Tuhan, mereka berinteraksi, gotong royong, bersilaturahim, dan siap menjadi apapun yang belum ada dalam pranata social semut. Hingga masyarakat semut bisa dibilang menciptakan peradaban.

Mungkin ada satu pertanyaan dalam benak kita tentang kenapa justru kita belajar kepada hewan yang katanya tak berakal? Dalam catatan sejarah panjang bahwa manusia merupakan generasi setelah hewan, karena hewan lebih dulu ada sebelum manusia dicipta. Pada kenyataannya juga generasi awal manusia selalu belajar kepada hewan, misalnya setelah Qobil membunuh Habil mengalami kebingungan untuk memusnahkan jasadnya. Kemudian dilihatnya seekor gagak yang menguburkan gagak lainnya, akhirnya Qobil belajar dari burung gagak itu.

Manusia harus belajar kepada hewan, karena justru manusia mempunyai akal. Akal dan nafsu bisa merupakan sumber masalah. Semua hewan bermasalah karena lapar, kalau dikasih makan tentu masalahnya akan hilang. Berbeda dengan manusia ketika masalah lapar datang, kemudian manusia dikasih makan, tentu tidak berhenti masalahnya. Karena nafsu manusia mendorong selera untuk makan jenis makanan tertentu. Setelah keturutan berbagai jenis makanan, ia akan mencari masalah lagi dengan mencari suasana untuk makan. Hingga masalah makan bukan urusan sederhana lagi. Jadi sebenarnya makhluk yang paling banyak masalah dan tak pernah sederhana adalah manusia. Karena nafsu selalu menginginkan sedangkan pikiran mencari solusi untuk menuruti keinginannya.

Diceritakan oleh Saudara Kita Om Fredi Kastama. Alkisah pada saat Nabi Ibrahim dimasukkan kedalam kobaran api oleh perintah raja Namrud, ada seekor semut yang berusaha ikut memadamkan api. Tentu saja membuat hewan lain terpingkal-pingkal menyaksikannya, karena api yang begitu besar itu tentu mustahil dipandamkan oleh semut. Ketika semut ditanya tentang usahanya itu semut menjawab: “yang penting bukan hasilnya tapi sikap dan usaha kita untuk membela Ibrahim dan melawan namrud” tentu hal itu merupakan pelajar berharga bagi manusia untuk terus berproses, berjuang, tanpa harus lelah memikirkan hasilnya. Terus bersikap melawan kedlaliman walau sejengkal demi sejengkal. Kata pepatah, “lebih baik menyalakan lilin dalam kegelapan daripada hanya mengumpatnya”

Semangat semut lebih memilih untuk berusaha memadamkan api, daripada mengumpat keterbatasannya sebagai makhluk kecil.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran