Maiyahan Reportase

3 Tahun Maiyahan Suluk Pesisiran, Mengembarai LAWANG KATELU

Tak terasa Majelis Maiyah Masyarakat Suluk Pesisiran sudah memasuki tahun ketiga. Di tahun ketiga ini kita merasakan segala sesuatunya bertambah, tentunya bertambah kebaikannya (barakah). Bertambahnya pegiat secara kuantitas dan kualitas. Memasuki pintu tahun ketiga ini, diawali dengan intensitas Pegiat bersilaturahim kepada sesama mereka dan kepada para ‘sesepuh’ Maiyah Suluk Pesisiran. Harapannya ‘ngumpulake balung pisah’. Kita mensilaturahimi kembali para ‘pendahulu’ yang diharapkan wejangan dalam mengayubagyo Maiyahan Suluk Pesisiran

Dari hasil silaturahim itu, kita menangkap beberapa respon positif masyarakat untuk kegiatan Maiyahan Suluk Pesisiran. Diantaranya banyak yang menganggap penting kegiatan maiyahan, karena remaja dan anak muda semakin tidak mungkin untuk hadir di majlis ta’lim di masjid maupun mushola, maiyahan merupakan majlis penampungannya. Menarik untuk diamati, kenapa mereka semakin meninggalkan majlis ta’lim? Tentu bisa bermacam-macam pendapatnya. Ada yang berpendapat karena kebosanan generasi kepada sistem monolog; Kebosanan terhadap pola-pola formalitas yang harus mempersyarati dirinya dengan pakaian tertentu, dengan bahasan keilmuwan tertentu, yang membatasi ekspresi maupun ekspektasi generasi milenial ini. Akhirnya maiyahan merupakan oase bagi mereka yang merindukan hal yang dirindukannya. Kalau meminjam bahasa Sabrang, maiyahan merupakan sesuatu yang dirasa bisa melengkapi lubang di dalam hati.

Kita juga melihat bertambahnya intensitas pegiat untuk bersama-sama dalam mennyukseskan maiyahan dengan berbagai macam kemampuan dan kemauan. Ada yang berusaha menggalang dana lewat kreasi pembuatan kaos Suluk Pesisiran; ada yang menshodaqohkan saound system; menyumbangkan penampilan-penampilan; dan banyak menyediakan tenaga, fikiran, keahlian dan sumbangsih penampilan-penampilan.

Pada ulang tahunnya yang ketiga ini Suluk Pesisiran mengambil tema ‘Lawang Katelu’.

Acara diawali dengan pembacaan al Qur’an surat Yasin oleh Rizqi Rabbani, disusul pembacaan tahlilan yang dilakukan bersama.

Gus Mansur mengawali berbicara tentang bagaimana manusia di zaman modern ini lebih mengedepankan jasadiah dibandingkan ruhaniah. Padahal seharusnya ruhaniah itu merupakan pintu pertama yang harus dilewati oleh manusia, dan jasad merupakan pintu terakhir.

Malam ulang tahun Suluk Pesisiran ini merupakan malam istimewa, karena diantaranya dihadiri oleh beberapa perwakilan dari berbagai simpul, misalnya Cak Tri datang sebagai tamu dari malang Jawa Timur. Ia tertarik pada deret kata muqadimah Lawang Katelu. Ia mengetengahkan bahwa pintu merupakan katalisator.

Beliau membuka pintu maiyahan dengan keyakinan bahwa maiyahan merupakan katalisator zaman. Karena pada zaman sekarang orang mengalami kebingungan dalam setiap sisi hidupnya. Dulu Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa diantara tanda-tanda akhir zaman adalah ketika seseorang membunuh tak tahu alasannya kenapa mmembunuh. Sebagai korban pembunuhan juga kebingungan kenapa ia tiba-tiba dibunuh. Itu yang terjadi saat ini. Misalnya peristiwa yang masih hangat dalam ingatan kita tentang terbunuhnya suporter Jakmania di Bandung. Tentu kalau ditanyakan tentang alasan kenapa mereka membunuh? Mereka akan kebingungan menjawabnya. Artinya manusia sekarang semakin meninggalkan akalnya.

Dulu Nabi ketika di Makkah membuka rumah belajar di rumah Arqam bin Abil Arqom. Kemudian para pembesar kafir Quraisy terus mengusik, sehingga Nabi berhijrah bersama para sahabat ke Yasrib (Madinah). Disana Nabi berhasil membuka pintu-pintu potensi para sahabat, sehingga Nabi patut kita sebut sebagai katalisator atau dalam bahasa maiyahnya Nabi menjadi ruang bagi perabot. Perabot akan eksis kalau ada ruang.

Kalau kita ibaratkan kebun, Nabi sebagai tanah yang mampu menampung dan menumbuhkan pepohonan yang berbeda-beda. Sekarang kita melihat sebagaimana Mbah Nun menjadi tanah yang menampung segala macam tetumbuhan masyarakat Indonesia. Juga Maiyah yang meruang, bukan merabot.

Menjadi ruang atau menjadi tanah, atau ada yang mengupamakan menjadi samudra merupakan pekerjaan akhlak. Karena ia harus ikhlas menjalani kepahitan menampung segala subyek dan hal yang datang, tak semuanya baik dan menyelamatkan bahkan seringkali jahat dan mencelakakan. Samudra Maiyah harus mampu menampung yang datang, toh walaupun itu dinyatakat oleh mainstream sebagai sampah. Maiyahan tidak dihadiri hanya oleh manusia beridentitas tertentu, dari golongan madzhab tertantu, tetapi dihadiri oleh semuanya yang mau hadir. Sehingga maiyah sebagai nilai, dan maiyahan sebagai ruang akhlak yang sekarang tumbuh dimana-mana. Efek dari merebaknya maiyahan di mana-mana akan berfungsi membangun akhlak manusia menuju akhlak mahmudah. Dalam bahasa Nabi innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.

Ketika kebaikan sudah menjadi karakter maiyah yang menyebar ke seluruh nusantara, maka sebagaimana nabi yang telah membangun akhlak di Madinah. Sampai pada waktu ketika penduduk Makkah meminta Nabi untuk kembali ke Makkah yang ditandai dengan peristiwa fathul makkah. Nabi tidak merengek untuk menghendaki kembali ke Makkah, tetapi pancaran akhlak masyarakat yang dibangun di Madinah menjadi pancaran cinta, hingga sebagian masyarakat Makkah merindukan kedatangan pulang Nabi ke tanah leluhurnya.

Demikianlah dua pendekar telah membuka awalan diskusi yang disusul lantunan suluk yang dibawakan oleh Mbah Pri. Mbah Suprihono merupakan pintu bagi Maiyahan Suluk Pesisiran karena kedalaman hidupnya menekuni berbagai warisan suluk para leluhur. Malam hari ini Mbah Pri menghadiahkan doa Suluk Singgah Singgah yang dikarang oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Menurut Mbah Pri bahwa Suluk Singgah Singgah ini merupakan doa keselamatan hidup bagi manusia. Juga merupakan pepiling agar manusia selalu melakukan muhasabah.

 

Singgah-singgah kala singgah

Tan suminggah Durgakala sumingkir

Sing asirah sing asuku

Sing atan kasat mata

Sing atenggak sing awulu sing abahu

Kabeh pada sumingkira

Hing telenging jalanidi

 

Setelah nyuluk, Mbah Pri memberikan wejangan kepada kita semua tentang hidup ini. Bahwa hidup sebenarnya yang terpenting bukan seberapa banyak mengumpulkan ilmu, tetapi lebih penting lagi seberapa banyak ilmu yang sudah diamalkan. Karena kita semua tidak akan ditanyai perihal seberapa banyak ilmu dan guru, tetapi seberapa amalan-amalan ilmu yang kita dapat.

Mbah Pri menutup pesannya dengan ungkapan “Sebagaimana dulu pesan simbah saya, “Le awakmu entuk golek ilmu sundul langit, tapi aja lali sing luwih penting: diamalno”

Setelah tampilan Suluk Singgah-Singgah oleh Mbah Pri, disusul tampilan dari Kelompok Musik Kontemporer Kiai Pangestu yang membawakan tembang Bangbang Wus Rahina.

 

Disela-sela hadirin menikmati lantunan Bangbang Wetan, Sastrawan Ribut Ackhwandi menyelingi dengan puisi, hingga memecah konsentrasi kedalaman kenikmatan lantunan tembang kebangkitan, atau mungkin bagi sebagian orang justru menambah ciamik lantunan itu. Bangbang Wetan aransemen ala Kiai Pangestu dipadukan dengan shalawatan hingga terasa kelubuk jiwa yang meraih hingga ruhani.

Kita pada malam hari ini kedatangan tamu Mbah Weldo sebagai tamu unik yang datang dari pulau dewata. Beliau menyumbangkan rangkaian tarian yang diiringi satu tembang titi kolomongso ciptaan Sujiwo Tejo yang pada malam hari itu dibawakan oleh manusia omni poten Ribut Achwandi diiringi musik oleh Kiai Pangestu.

Mbah Weldo mengajak kepada sedulur maiyah untuk memahami keberadaan kita di alam semesta sebagai sesuatu yang pali ajaib. Sebutan Manusia menunjukkan katidaktahuan. Disebut manusia karena ia belum tahu siapa dirinya. Manusia sebagai makhluk yang tidak tahu fungsi keberadaannya di dunia ini. Manusia kadang seperti binatang, bahkan lebih hina. Karena yang dilakukan binatang berdasarkan kebutuhannya, sedangkan sebagian manusia segala sesuatu didorong oleh nafsunya. Lebih baik menjadi debu yang kemana-mana digerakkan oleh angina, sedangkan manusia kemana-mana didorong oleh nafsu dan keinginannya.

Mengenal diri sendiri jauh lebih penting dari mengenal Tuhan itu sendiri, karena mengenal diri adalah jalan untuk mengenal Tuhan. Dengan mengenal diri sendiri adalah untuk mengetahui, sebenarnya kita ini penunggang atau yang ditunggangi?  Sesunguhnya dalam diri manusia ada kekuatan yang luar biasa hebatnya. Kekuatan ini adalah senjata sakti yang diberikan oleh Tuhan. Yaitu pikiran kita sendiri. Tapi manusia belum mencapai taraf menggunakan pikiran, masih dalam tahap mengganggu pikiran. Sebagaimana anak kecil ketika bermain pedang, ia belum bisa menggunakan pedang itu, anak kecil sebatas mempermainkannya.

Untuk disebut seseorang bisa menggunakan senjata, karena ia tahu hakekat senjata dan tahu bagaimana menggunakannya. Kalau kita punya fikiran, apakah kita tahu apakah fikiran itu, dan bagaimana menggunakannya? Kalau ada orang dewasa yang belum tahu apa itu fikiran dan belum tahu menggunakannya, maka sama halnya dengan anak kecil yang bermain-main senjata. Maka jangan heran kalau anak kecil memainkan senjata akan berakibat mencelakakan dirinya sendiri. Sebagaimana halnya orang dewasa yang mempermainkan pikirannya hingga ia beresiko mencelakakan dirinya sendiri.

Kalau anak kecil celaka karena salah mengayunkan pedang, maka kita bisa celaka karena salah menggerakkan fikiran kita. Maka kenalilah diri anda, bahwa pikiran dan anda berbeda. Bahwa anda adalah pemilik pikiran itu. Tapi seringkali kita menjadi budak pikiran itu. Kalau kita mengenal pikiran dengan baik, maka kita akan memperlakukan pikiran dengan bakatnya. Kalau kita punya pegawai ahli melukis, jangan disuruh macul. Memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bukan bakatnya merupakan bukan menggunakannya tetapi mengganggunya.

Iqra bismirabbikalladzi khalaq

Itu pertintah Tuhan kepada manusia untuk membaca diri sendiri, mengenali diri. Karena diri ini. Diri kita adalah bacaan. diri kita adalah firman yang hidup. Manusia itu kitab teles. Tinulis tanpa papan. Man is the walking Qur’an (manusia adalah qur’an yang berjalan).

Pikiran itu mempunyai tiga fungsi. Ada fungsi substansial, kondisional, aksidental. Seringkali manusia menggunakan fikiran pada fungsi aksidental. Misalnya kita upamakan gelas, fungsi substansialnya adalah tempat air minum, tapi kadang digunakan untuk kondisional. Misalnya mau nyiduk air tidak ada ciduk, terpaksa secara kondisional gelas itu digunakan. Gelas mempunyai fungsi aksidental ketika ada anjing mau menyerangmu, kamu melemparnya dengan gelas, maka gelas mempunyai fungsi aksidental.

Selama ini kita menggunakan fikiran masih dalam taraf fikiran untuk fungsi kondisional dan aksidental. Selama ini kita menggunakan fikiran untuk mencari duit, menggunakan fikiran untuk memikirkan ketakutan-ketakutan prasangka. Sehingga yang kita jumpai pada akhirnya sebuah kelelahan. Tapi kalau fikiran kita ajak untuk memikirkan keagungan Tuhan, maka kita tidak akan kelelahan kehabisan energy, bahkan energy kita akan selalu bertambah. Karena ketika kita menggunakan fikiran untuk mencari kebenaran Tuhan kita akan segar bugar dan awet muda.

Setelah Hyang Weldo, dari coordinator simpul maiyah wilayah Jawa Tengah dalam hal ini Mas Riski membuka dengan apresiasi tentang salah satu tanda dari orang maiyah adalah rasa ingin tahunya yang sangat besar (curiosity). Mas Riski juga merespon tema Lawang Katelu. Pintu pertama teman-teman maiyah kenal maiyah itu lewat youtube. Setelah mengenal maiyahan lewat youtube, teman-teman memasuki pintu yang kedua yaitu dengan menindaklanjutinya di forum-forum maiyahan. Ada sekitar 62 simpul yang sudah terdaftar di coordinator simpul. Bahkan ada ribuannya maiyahan yang belum terdaftar, bahkan mungkin tidak perlu didaftar.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran