Opini Tadabur Daur

​Membangun Akherat di dunia

#TadabburDaur 63 #SulukPesisiran oleh : Eko Ahmadi

Lingkungan adalah tempat terjadinya hubungan antara organisme (makhluk hidup) dengan makhluk lain, baik secara khusus maupun umum. Oleh karenanya, ada istilah lingkungan sosial, lingkungan pendidikan, lingkungan budaya, lingkungan kerja, lingkungan politik, lingkungan ekonomi, lingkungan agama, dan lain sebagainya. Masing-masing lingkungan tersebut memiliki karakternya sendiri, karena entitas yang ada di dalamnya memang beragam.

Kadang, saat bicara tentang lingkungan, kita masih saja terjebak pada pandangan antroposentris, yakni menganggap manusia sebagai entitas yang berada di atas atau di luar lingkungan yang melahirkan nilai aktif, sementara makhluk lain dianggap sebagai instrumen pelengkap yang hanya memiliki nilai guna atau pasif.
Kita tidak sadar, bahwa lingkungan—secara luas kehidupan—merupakan kumpulan entitas yang berbeda namun bersatu dalam jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental di bawah kekuasaan Tuhan. Yang mana manusia, taklebih hanyalah satu di antara ragam entitas yang membentuk susunan jaring kehidupan.
Bukankah Allah swt. menegaskan: “Yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Lalu, Dia menyempurnakan dan meniupkan roh (ciptaan)Nya ke dalamnya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun sayangnya, kalian sedikit sekali bersyukur.” (Q.s. as-Sajdah [32]:7-9).
Sederhananya, apa yang Tuhan jelaskan tentang proses penciptaan manusia, itu juga berlaku bagi proses penciptaan yang lain meski bahan pembentuknya berbeda. Dengan kata lain, karakter utama dalam lingkungan hidup adalah adanya struktur multilevel di dalam sistem-sistem. Masing-masing sistem merupakan sebuah keseluruhan sejauh menyangkut bagian-bagiannya, sementara pada saat yang sama menjadi bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Yakni, bagian-bagian terkecil dari entitas membentuk jaringan, jaringan-jaringan membentuk organ, organ-organ membentuk organisme, dan ragam organisme bersatu di bawah pengawasan Tuhan.
Manusia memiliki fungsi sebagai wakil natural, karena mereka tunduk kepada kekuatan kreatif Tuhan yang menciptakan keberadaannya. Manusia diajarkan ragam nama-nama entitas, dan karenanya memiliki potensi lebih guna merespons sesuatu selain dirinya. Menjadi wakil natural berarti melaksanakan tawaran Tuhan yang terdapat dalam kitab suciNya maupun sabda Nabi-Nya sesuai situasi dan kondisi yang ditampakkanNya.
Dalam konteks ini, Allah swt. menyatakan: “Sesungguhnya, Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun, semuanya enggan untuk memikul amanat itu, karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan bodoh.” (Q.s. al-Ahzab [33]:72).
Prinsip dasar perwakilan bagi manusia adalah penghambaan, yakni penghambaan harus mendahului perwakilan. Dengan kata lain, manusia tidak dapat disebut sebagai wakil Tuhan manakala ia belum mengikuti perintahNya, istilahnya menjadi hamba yang saleh. Hal ini, karena menjadi wakil Tuhan adalah menjadi khalifah, dan menjadi khalifah berarti tunduk dan patuh kepada Tuhan untuk menjalankan programNya, yang meliputi pemeliharaan, bimbingan, pengayoman, dan pengarahan terhadap sesama makhluk sesuai tujuan penciptaan. Melalui tugas kekhalifahan tersebut Tuhan memerintahkan manusia memanfaatkan alam sesuai keinginannya namun harus sejalan dengan tujuan yang dikehendakiNya.
Akhlak (akhlaq) merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti ‘etika, tabiat, perilaku, maupun budi pekerti’. Pembentuk kata khuluq adalah huruf kha, lam, dan qaf, derivasi (tashrif) dari tiga huruf tersebut di antaranya adalah kata khalaqa ‘mencipta’, khalq (proses penciptaan), khaliq (pencipta), dan makhluq (yang dicipta).
Dalam pengertian khusus, akhlak adalah sistem yang mengatur cara berinteraksi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya, maupun manusia dengan alam semesta. Adapun, secara umum, akhlak berarti tata aturan hidup yang harus dijalani masing-masing makhluk.

Seluruh yang tercipta (makhluq) memiliki etika atau tabiat sendiri-sendiri saat menjalani hidup. Cara hidup binatang jelas berbeda dengan cara hidup manusia, manusia dengan malaikat, manusia dengan tumbuhan, tumbuhan dengan batu, batu dengan air, air dengan tanah, tanah dengan api, api dengan udara, dan lain sebagainya.
Dalam konteks manusia, akhlak yang ditetapkan Tuhan adalah akhlak yang berada di antara akhlak binatang dan malaikat. Dalam artian, akhlak alamiah yang harus dijalani manusia adalah akhlak hasil kombinasi antara perilaku binatang dan malaikat. Oleh karenanya, saat manusia didominasi akhlak binatang, ia lebih hina dibanding binatang, dan saat ia didominasi akhlak malaikat, ia lebih mulia dibanding malaikat.
Bertolak dari hal tersebut, akhlak dalam konteks manusia dapat dibedakan dalam dua kategori:

1) Etika yang baik (khuluq hasan), yakni etika yang didasarkan atas pertimbangan akal yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan;
2) Etika yang buruk (khuluq sayyi’), yakni etika yang didasarkan atas pertimbangan nafsu yang berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
Untuk menjadi makhluk yang mulia—mau tidak mau—manusia harus menyempurnakan akhlaknya kendati tidak akan pernah sempurna. Dengan kata lain, manusia harus terus bertransformasi untuk menjadi lebih baik secara berjenjang dan periodik.
Maka dalam daur ke 63 yang berjudul dunia bukan tempat membangun,menyatakan “Lho dunia ini dirancang Tuhan memang untuk sekadar hiasan. Dunia ini dikonsep bukan sebagai substansi, melainkan ilustrasi. Ilustrasinya jangan melebihi dan mengalahkan substansinya. Itu bodoh dan pasti rugi sendiri. Apalagi karena terlalu mensubstansikan ilustrasi maka manusia melakukan korupsi, perebutan, penjajahan, perampokan, penindasan, penguasaan, sekadar untuk berhias beberapa saat. Dungu itu”.

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran