Opini Tadabur Daur

​Intelek Aktif

#TadabburDaur 62 #SulukPeaiairan Oleh : Eko Ahmadi

Seluruh yang tercipta bergerak sesuai jalan yang telah ditetapkanNya. Ikan-ikan di air; binatang darat dan laut; debu-debu beterbangan; burung-burung mengudara; daun jatuh berguguran; matahari, bulan, bintang-bintang, dan semua makhluk di langit; mega dan awan di angkasa; manusia dan semua makhluk di bumi; semuanya bergerak mengikuti perintahNya. “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi, dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan makhluk-makhluk itu (juga) seperti kalian. Yakni, Kami tidak melupakan ketetapannya dalam Alkitab (Lauh Mahfuz), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun.” (Q.s. al-Anam [6]:38).

Sesungguhnya, rahasia ciptaan Tuhan Ia semayamkan dalam otak—tempat aktivitas akal—kita. Dengan kata lain, semua peristiwa dan benda yang kita jumpai dalam kehidupan ini menjadi ada dalam bentuk gambaran-gambaran dan ragam perasaan dalam otak. Langit, bumi, matahari, bulan, bintang, siang, malam, bangunan, orang, mobil, gedung, tempat tinggal, kota, desa, pahit, manis, asam, putih, hitam, padat, keras, lembut, halus, dan lain sebagainya hanyalah ragam gambaran dan perasaan yang dimunculkan Tuhan dalam otak kita.

Otak atau tempat aktivitas akal—versi Abu Nashr al-Farabi—mampu melahirkan Intelek Aktif  (al-aql al-faal), yakni intelek yang mampu mengamati ragam gambaran dan perasaan secara terperinci, istilahnya intelek yang mengatasi dunia persepsi. Untuk memunculkan dan menumbuhkan Intelek Aktif tersebut, manusia harus mampu menggunakan intelek-intelek lain yang dianugerahkan Tuhan dalam dirinya sebagaimana mestinya, yaitu:

1. Intelek Indrawi (al-quwah al-hasasah atau al-aql al-hawas), yakni intelek yang berkaitan dengan pancaindra (pendengar, penglihat, pencium, pengecap, dan peraba).

2. Intelek Imajinatif (al-quwah al-mutakhaiyalah atau al-aql al-khayal), yakni intelek yang berfungsi merekam ragam gambaran dan perasaan, untuk kemudian memunculkannya kembali dalam pikiran setelah ragam gambaran dan perasaan yang ditangkap indra tidak lagi terlihat. Tugas Intelek Imajinasi adalah mengelompokkan ragam gambaran dan perasaan dalam kategori-kategori berbeda agar mudah diidentifikasi.

3. Intelek Asumtif (al-quwah an-nazuiah atau al-aql an-nazah), yakni intelek yang menaungi ragam pertentangan antara ya atau tidak, menyukai atau membenci, melakukan atau meninggalkan, mendekat atau menjauh, menerima atau menolak, dan lain sebagainya.

4. Intelek Rasional (al-quwah an-natiqah atau al-aql al-mantiqi), yakni intelek yang berfungsi mencari bukti-bukti otoritatif dan dasar-dasar argumentatif guna membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang manfaat dan mana yang mudarat, dan lain sebagainya. (al-Farabi, 1998, hlm. 32-33).

Bila manusia mampu menggunakan keempat intelek di atas, insya Allah, ia akan diberi anugerah untuk menggunakan puncak intelektualnya secara optimal, yakni intelek kelimanya atau Akal Aktif (al-aql al-faal).

Dalam daur ke 62 yang berjudul revolusi tlethong menjelaskan tentang “Yang disebut nilai sesungguhnya hanyalah materialisme. Kejasadan. Kebendaan. Keduniaan. Kalau orang memahami nilai, ia mengerti bahwa alamat nilai tidak di dunia, karena nilai memperlakukan dunia sebagai jalan untuk memperjuangkan dan menabung nilai. Nilai tidak berada di lembaran uang, melainkan terletak pada cara uang diperlakukan. Nilai tidak terletak di harta benda, kekuasaan dan kemakmuran, melainkan beralamat di substansi perilaku per manusia terhadap benda-benda itu”

Melalui kesatuan akal-akal tersebut plus rahmat dari Allah, manusia secara bertahap akan Ia bimbing dan Ia arahkan menuju pengetahuan yang tidak Ia ajarkan pada makhlukNya yang lain. “Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi, yakni tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan. Semua itu, tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang tidak beriman.’.” (Q.s. Yunus [10]:101).

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran