Opini Tadabur Daur

​Bendu Kasat Mata,Padang Katon Rupo

#TadabburDaur 66 #SulukPesisiran oleh : Eko Ahmadi

Bila kita mengetahui bahwa merampas hak orang lain adalah perbuatan yang tercela dan berdosa, kemudian kita tidak melakukannya, maka kita sudah termasuk orang alim. Jadi, semakin banyak larangan dan perintah yang kita ketahui, kita memiliki potensi lebih banyak untuk menjauhi larangan dan melaksanakan perintah. Atau sebaliknya, ragam pengetahuan tersebut justru menjadikan kita memiliki peluang lebih untuk melanggar dan mengkhianatinya. 
Allah swt. berfirman:
﴿أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ.﴾

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (Q.s. al-Maun [107]:1-7).
Hendaknya seseorang tidak menyia-nyiakan potensi yang ia miliki sesuai kadar pengetahuan yang ia pahami. Semampu yang bisa dilakukan, seyogianya seseorang berbagi pengetahuan melalui proses belajar-mengajar bila memungkinkan, dan bila tidak, ia tetap harus berbagi pengetahuan sesuai situasi dan kondisi yang diberikan Allah swt. Sebab, media berbagi pengetahuan tidak hanya di madrasah, sekolah, maupun universitas. Kapan dan di mana pun, seseorang bisa berbagi pengetahuan selama ia berkeinginan melakukannya. 
Allah swt. berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ.﴾
“Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (Q.s. al-Baqarah [2]:159).
Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan untuk menjalani hidup semaunya sendiri, mengikuti kesenangannya sendiri, dan memuaskan nafsunya sendiri. Kecenderungan ini tidak bisa hilang, ia hanya bisa dibatasi dan kemudian diarahkan untuk menuju dimensi kebercahayaan. Prinsip-prinsip spiritual berperan untuk membatasi nafsu manusia terhadap kesenangan duniawi, sementara pelaksanaan dari prinsip-prinsip spiritual itu sendiri berperan sebagai amunisi yang melindungi akal agar dapat mengendalikan nafsu.
Hal ini, karena sifat kebendaan diwariskan pada saat lahir, kemudian berkembang melalui interaksi dengan lingkungan dan pergulatannya dengan proses sosial dalam lingkungan keluarga dan pendidikan. Kecenderungan nafsu adalah memaksakan hasrat-hasratnya dalam upaya untuk memuaskan diri. Sedangkan akal berperan sebagai kekuatan pembatas sekaligus penasihat bagi nafsu. 
Allah swt. berfirman:
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ.﴾
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.s. Fusilat [41]:53).
Pertikaian antara akal dan nafsu yang selalu memerintahkan kejahatan disebabkan oleh sifat dasar keduanya. Yakni, salah satu dari kedua kekuatan itu memiliki tujuan menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan, sedangkan yang lain ingin membawa kita kepada keselamatan. Bahkan ketika salah satu dari keduanya dapat menaklukkan diri kita, yang lain tetap berjuang untuk merebut kembali apa yang telah hilang. Agar diri kita tidak dikuasai oleh kekuatan yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan, dan kita mampu mempertahankan diri kebaikan kita, tentu kita harus mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang mengantarkan kita kepada kebinasaan tersebut.
Daur yang mengisahkan bebendu tan kasat mata,pepeteng kang malih rupa menjelaskan “Apa itu bebendhu tan kasat moto…. Kalau bebendhu ya kasat mata. Gempa. Longsor. Banjir. Gunung meletus. Badai puting beliung. Air laut meluap ke darat….”

“Pepeteng kok malih rupo… Kalau peteng ya gelap. Kalau gelap ya rupa apa saja tidak tampak. Berubah wajah kayak apapun kalau dalam kegelapan ya tidak kelihatan…”

Bagikan

About the author

Redaksi Suluk Pesisiran